8.7.05

Hadis Yang Sesungguhnya

Makna Hadis
Istilah hadis disebut pada banyak ayat di dalam Quran. Kata hadis dapat diterjemahkan sebagai perkataan/pembicaraan/cerita. Untuk mendapatkan pengertian yang lebih baik mengenai sebuah istilah yang sangat sering disebut dalam pembahasan agama Islam ini, marilah kita cermati kutipan beberapa ayat Quran yang memuat kata hadis berikut ini:

“Dan sungguh Dia telah menurunkan atas kalian di dalam kitab itu bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Tuhan diingkari dan diperolok-olok, maka janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka memasuki hadis yang lain....” (Quran 4:140)

“Wahai orang-orang yang percaya, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi, kecuali diizinkan kepada kalian untuk makan tanpa menanti-nanti waktunya. Dan tetapi jika kalian telah dipanggil, maka masuklah, kemudian apabila kalian telah makan bertebaranlah dan jangan berpanjang dalam hadis....” (Quran 33:53)

“Dan sudahkah datang kepada engkau hadis (tentang) Musa?” (Quran 20:9)

“Sudahkah datang kepada engkau hadis (tentang) tamu Ibrahim yang dimuliakan?” (Quran 51:24)

Mudah-mudahan dengan empat ayat di atas kita sudah dapat menangkap bagaimana istilah hadis yang bermakna perkataan/pembicaraan/cerita itu digunakan di dalam konteks kalimat.

Quran Sebagai Hadis
Quran pun disebut sebagai hadis karena pada dasarnya ia adalah perkataan/pembicaraan/cerita, yaitu perkataan/pembicaraan/cerita yang bersumber dari Tuhan.

Ayat-ayat yang mengandung kata hadis dalam konteks Quran, sebagaimana akan dipaparkan di bawah, menyuguhkan beberapa kesimpulan penting perihal hadis.

Kesimpulan pertama, Quran adalah hadis yang benar-benar berasal dari Tuhan.

“Tuhan, tidak ada sembahan selain Dia, sungguh Dia akan mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tidak ada keraguan di dalamnya. Dan siapakah yang lebih benar hadisnya daripada Tuhan?” (Quran 4:87)

Kesimpulan ke dua, Quran adalah hadis yang diajarkan oleh Nabi Muhammad (damai atasnya). Tuhan mengungkapkan bagaimana kecewanya Nabi karena hadis yang beliau sampaikan, yaitu Quran, tidak dipercayai oleh orang-orang yang beliau dakwahi. Saking kecewanya, disebutkan bahwa Nabi merasa ingin membinasakan dirinya sendiri.

“Maka boleh jadi engkau (akan) membinasakan diri engkau (dalam) kesedihan karena akibat mereka jika mereka tidak mempercayai hadis ini.” (Quran 18:6)

Kesimpulan ke tiga, Quran adalah hadis yang paling indah.

“Tuhan telah menurunkan hadis yang paling indah, kitab yang serupa (lagi) rangkap dua, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuan mereka, kemudian menjadi lunak kulit-kulit mereka dan hati-hati mereka kepada peringatan Tuhan itu....” (Quran 39:23)

Kesimpulan ke empat, Quran adalah hadis yang wajib dibenarkan oleh orang-orang yang percaya. Tuhan murka kepada orang-orang yang mendustakan hadis (Quran) yang telah Dia turunkan.

“Maka biarkanlah Aku dan siapa yang mendustakan hadis ini! Kami akan menarik mereka dari (arah) yang mereka tidak ketahui.” (Quran 68:44)

Hadis Nabi
Bagaimana dengan istilah hadis Nabi sebagaimana yang umumnya dipahami? Sama sekali tidak ada keterangan di dalam Quran yang mengindikasikan bahwa Nabi Muhammad, atau nabi dan rasul yang lain, ada menetapkan sesuatu hadis selain dari ayat-ayat Tuhan.

Keterangan Quran berkaitan dengan dakwah Nabi Muhammad adalah, bahwa beliau memberi peringatan kepada umatnya dengan Quran yang telah diwahyukan Tuhan.

“… dan telah diwahyukan kepadaku Quran ini supaya aku memperingatkan kalian dengannya …” (Quran 6:19)

Rasul-rasul yang lain pun mempunyai tugas yang sama, yaitu menyampaikan ayat-ayat Tuhan kepada manusia.

“Dan tidaklah Tuan engkau memusnahkan negeri-negeri itu sampai Dia membangkitkan di ibukotanya utusan yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Kami.” (Quran 28:59)

Para penulis kitab-kitab hadis yang muncul ratusan tahun setelah wafatnya Nabi, seperti Bukhari dan Muslim, bisa saja mengklaim bahwa apa-apa yang mereka tulis bersumber dari Nabi Muhammad. Persoalannya adalah, klaim tersebut teruji atau tidak?

Sejauh ini, tidak ada ayat-ayat Tuhan yang mengesahkan klaim mereka tersebut. Sebaliknya, kajian yang jujur dan kritis terhadap hadis akan mengungkapkan kebohongan klaim yang mengaitkan antara ajaran hadis dengan Nabi Muhammad.

Pertentangan Hadis VS Quran
Kita bisa menggunakan pendekatan lain untuk memperjelas duduk persoalan klaim “hadis Nabi” ini. Quran ayat 4:80 menyatakan bahwa barangsiapa yang mentaati rasul, maka sesungguhnya dia telah mentaati Tuhan. Dengan kata lain, ada koherensi alias kesesuaian antara mentaati rasul dan mentaati Tuhan.

Berpegang pada kesimpulan tentang adanya koherensi itu, maka ajaran hadis—bila memang benar bersumber dari Nabi Muhammad—tidak akan ada yang bertentangan dengan Quran.

Sekarang coba kita perhatikan beberapa butir perbandingan di bawah ini:

Tuhan di dalam Quran 17:110 menyuruh manusia agar tidak mengeraskan ataupun membisikkan suaranya di dalam salat. Hadis mengajarkan manusia agar mengeraskan suaranya pada sebagian salat dan membisikkan suaranya pada sebagian lagi.

Tuhan di dalam Quran 2:187 memerintahkan manusia untuk menyempurnakan puasa sampai malam. Hadis mengajarkan manusia untuk berbuka puasa ketika terbenam matahari (senja).

Tuhan di dalam Quran 36:69 menyatakan bahwa Quran bukanlah syair. Hadis mendorong manusia agar melagukan bacaan Quran seperti syair.

Tuhan di dalam Quran 7:31-32 menyuruh manusia mengenakan perhiasan, dan mempertanyakan siapa yang berani mengharamkan perhiasan yang telah dikaruniakan-Nya. Hadis mengharamkan emas dan sutra bagi laki-laki.

Tuhan di dalam Quran 2:173 mengharamkan bangkai tanpa ada suatu pengecualian. Hadis menghalalkan bangkai ikan.

Tuhan di dalam Quran 24:2 mengeluarkan fatwa bahwa pezina harus dicambuk seratus kali. Hadis mengeluarkan fatwa bahwa pezina yang sudah menikah harus dilempari sampai mati.

Dari beberapa pertentangan di atas dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya ajaran-ajaran hadis bukanlah bersumber dari Nabi Muhammad. Biarlah Tuhan yang akan memutuskan balasan terhadap orang yang telah berdusta dengan mengatasnamakan nabi-Nya.

Hadis Penghibur
Dalam hubungannya dengan ajaran-ajaran yang diklaim sebagai “hadis Nabi”, patut disimak ayat Quran yang menggambarkan tentang hadis penghibur (lahwal hadits).

Berbeda dengan Quran yang merupakan hadis terindah (ahsanal hadits) yang menunjuki kepada kebenaran, hadis penghibur sifatnya menyesatkan manusia dari jalan Tuhan, dan bahkan bisa jadi bahan olok-olokan saja.

“Dan dari manusia ada yang membeli hadis penghibur itu untuk menyesatkan dari jalan Tuhan tanpa pengetahuan, dan dia menjadikannya olok-olokan. Mereka itu, bagi mereka siksaan yang menghinakan.” (Quran 31:6)

Ambil contoh ajaran hadis yang mengatakan bahwa orang Islam yang berdosa pasti akan masuk surga setelah “dicuci sebentar” di neraka, atau ajaran yang mengatakan bahwa setelah puasa sebulan Ramadhan kita akan kembali suci bagaikan bayi baru lahir.

Keyakinan yang tidak pernah diajarkan di dalam hadis yang disampaikan oleh Nabi Muhammad (Quran) itu dapat menjadi penghibur yang akan melalaikan umat dari menetapi ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Disamping itu, ia dapat pula menjadi bahan olok-olokan. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana dua ajaran tersebut dapat menjadi bahan hibur-hiburan dan olok-olokan.

Upaya Pembenaran Yang Sia-Sia
Sebagai upaya untuk membenarkan klaim tentang “hadis Nabi”, tidak jarang orang mengutip ayat yang mengatakan bahwa Nabi tidak berkata berdasarkan keinginannya. Padahal, ayat yang mereka maksud itu bukanlah merujuk kepada semua perkataan Nabi dalam hidupnya, melainkan mengacu kepada Quran yang beliau sampaikan.

“Dan tidaklah dia berkata dari keinginannya. Ia tidak lain wahyu yang diwahyukan” (Quran 53:3-4)

Ada satu lagi kutipan yang sangat populer bagi para fanatik hadis, yaitu penggalan ayat yang bunyinya, “Apa yang rasul berikan kepada kamu ambillah, dan apa yang dia larang kamu darinya, hentikanlah”.

Entah bagaimana penggalan ayat tersebut dianggap bisa membenarkan klaim bahwa Nabi Muhammad telah mengadakan ajaran lain disamping Quran. Peribahasanya, “Jauh panggang dari api”.

Ayat yang dikutip itu sebenarnya sedang membahas harta rampasan perang. Orang-orang yang percaya disuruh agar mematuhi pembagian yang ditetapkan oleh utusan. Apa yang diberikan rasul silakan diambil, namun apa yang dicegah oleh rasul mesti dihentikan.

Berikut ini kutipan lengkap ayat dimaksud:

“Apa-apa saja yang telah Tuhan berikan kepada utusan-Nya dari penduduk negeri-negeri itu, maka untuk Tuhan, dan untuk utusan-Nya, dan untuk kerabat dekat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan gelandangan, supaya tidaklah ia bergilir antara orang-orang kaya dari kalian. Dan apa saja yang telah utusan berikan kepada kalian, ambillah; dan apa saja yang dia telah cegah kalian darinya, hentikanlah....” (Quran 59:7)

Setelah memaklumi bahwa hadis yang sesungguhnya harus kita ikuti adalah Quran, dan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah mengadakan sesuatu hadis disamping Quran, apakah Anda masih akan mempercayai hadis-hadis selain Quran yang mengatasnamakan Nabi Muhammad?

“Maka pada hadis manakah setelah ia (Quran) mereka akan percaya?” (Quran 77:50)

(Terakhir diperbarui: 13 Oktober 2008)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

28 comments:

Anonim mengatakan...

HAdist as i know adalah perkataan atau perbuatan nabi Muhammad SAW.
semua perkataan dan perbuatan nabi dijaga kebaikan dan kebenarannya oleh Allah SWT.
Hal ini karena Nabi Muhammad adalah Insan Terbaik yang menjadi Rahmatan Lil Alamin, rahmat bagi seluruh alam,,

fungsi hadist dalam islam adalah menjelaskan ajaran2 al-quran,,
jika dilihat dari contoh yang saudara berikan, maka akan terlihat bahwa hadist menjelaskan alquaran dengan lebih rinci.

unutk terjemahan yang anda berikan diawal postingan ini, pengertiannya adalah perkataan/kisah, namun bukan hadist yang dimaksudkan oleh tulisan anda selanjutnya,,

terima kasih,,

sakti mengatakan...

Saya paham definisi "standar" yang anda sebutkan itu, tapi dalam hal ini cobalah berpikir agak kritis dan tidak terpaku pada apa2 yang sejak kecil sudah ditanamkan kepada kita..

Anda katakan hadis itu "memerinci", padahal kenyataannya ia malah membuat aturan baru yang berlainan dengan Quran.

Lagi pula Tuhan mengatakan kitab-Nya itu telah terperinci (tafshiil), apanya lagi yang mau diperinci?

Anonim mengatakan...

Bagaimana kita tahu solat wajib sehari semalam 17 rakaat,bacaan wajib alFatihah dan rukun2 lainnya jika tidak mengacu pd riwayat/berita/hadis?

salam,
agusdaeng

Anonim mengatakan...

Mas teks alquran aslinya jgn dimanipulasi!!!
beri contoh ke kita mana perintah hadist dan al-Quran yg bertentangan?

sakti mengatakan...

@agusdaeng: Karena tidak ada ketentuan 17 rakaat di dalam Quran, justru pertanyaannya adalah apa dasar anda meyakini itu?

@atas: contohnya sudah saya tulis di atas. Baca dulu dong sebelum komentar..

nicholeus mengatakan...

salam....

banyak perkataan yg mengatas namakan nabi bertentangan dengan ayat-ayat Qur'an, kita akan dapatkan perkataan tersebut bila kita menjenihkan pemahaman tanpa ada kontaminasi dari ajaran, hukum dan perkataan manusia. ajaran nabi telah banyak di bunuh oleh ajaran yg mengatasnamakan ajaran nabi.

salam....
#im...

Rahayu mengatakan...

Saya melihat makin byk orang membaca (dalam arti benar2 bembaca dan mengerti maksudnya) Al-quran, hasilnya jadi seperti Mas Sakti ini...ajaran & penemuan baru...ada apa sebenarnya yg tercata di Al-quran itu??? Apa setiap orang Islam tidak paham apa yg mereka baca sehingga harus begini???. Saya bukan siapa2, tapi saya mengargai setiap agama, apapun itu....mudah-mudahan Tuhan memberikan penceraha kepada kita semua....

Anonim mengatakan...

Sori ni boss ngutip pernyataan Anda :

sakti mengatakan...
@agusdaeng: Karena tidak ada ketentuan 17 rakaat di dalam Quran, justru pertanyaannya adalah apa dasar anda meyakini itu?

Apakah itu berarti Anda tidak Sholat? Atau cara sholat Anda berbeda?

Anonim mengatakan...

thx mas sakti atas pencerahannya.

Ikan mengatakan...

saya terkadang sangat sedih dan marah dengan saudara2 yang menjunjung tinggi kitab selain Al Quran dan mengatakan orang2 yang mempelajari Al Quran adalah orang2 yg sesat. Sebagaimana saya marah dan menganggap sesat dengan orang yang menyampaikan kebenaran beberapa tahun yang lalu sebelum saya mengkaji Al Quran itu sendiri, Muhammad adalah Nabi sekaligus Rasul, tidak mugkin bagi beliu berkata/mengajarkan/ menambah nambahin ajaran selain apa yang di wahyukan kepada beliau di tambah ancaman yang keras dari Allah kepada beliau bila mengajarkan yang lain dari pada yg diwahyukan. yang menjadi pertanyaan kita menjadi orang berserah diri kepada Allah atau berserah diri kepada bukhari dan teman2nya???, bukankah Injil, Taurat menjadi rusak ajaranya ketika terjadi campur tangan ahli kitab dengan menambah2, memutar balikkan, mengharamkan yang halal dan sebalikknya. Sungguh dengan nama Allah banyak sekali isi kitab2 bukhari dan teman2 menjerumuskan dari jalan orang2 yang berserah diri.

Anonim mengatakan...

ente taubat ya.....

Anonim mengatakan...

Terima kasih tulisannya, sangat membuka mata hati.
KRITIK: Hadits yg dipertentangken dengan qur'an harusnya dijelasken hadits yg mana... biar kita tahu.

uli mengatakan...

apakah sudah pernah dipahami pengertian hadits? tolong dimengerti hadits berfungsi sebagai perincian sebagian masalah dalam Qurán, dan anda tahu bukan ada pengertian Hadits Qudsi yang bersumber dari wahyu oleh Alloh SWT, dan siapakah yang menyampaikan wahyu tersebut, tak lain adalah Malaikat Jibril, dan malaikat mana yang sudah menyampaikan wahyu kepada anda?

bila mau membandingkan hadits, tolong lah disampaikan yang lengkap, sampai perawi-nya, kalau mau membandingkan pertentangan antara hadits dan Qurán, silahkan dimulai dari membandingkan 40 hadits Arbain... tolong pahami Islam secara kaffah...

Bila memang memberi ingin memberi pencerahan, jangan lah dengan cara menyalahkan, bila ingin membuktikan, buktikan "anda"" benar, bukan buktikan "dia"salah, wallohualam bishshowab...

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Anonim: Tentu saja saya shalat, bukankah perintahnya telah jelas ada di dalam Quran? Mengenai tatacaranya, saya pun berpedoman pada apa yang tercantum di dalam Quran.

@Uli: Tuhan sendiri menyatakan Quran itu terperinci (tafshil), apa yang mau dirinci lagi?

nanang mengatakan...

sakti A.sihite, salamun'alaikum.
Banyak orang memeluk agama islam ini, seperti dalam QS:6/116 "Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka Bumi ini, mereka akan menyesatkan kamu dari garis hukum Allah. Bahwa yang mereka ikuti hanyalah dugaan dan mereka hanyalah mengira-ira. ( 3/66, 5/104, 7/3, 10/36, 21/24, 30/29, 69/41)." Ha...ha... saya sepakat kita jangan taklit buta, n harus kritis,thd ajaran nenek moyang kita. Nampakya islam anda ini islam tidak UMUM.(seperti saya!!!!ha...ha...(maksudnya yang umum spt tersebut ayat diatas. Lanjutkan!!!!! MENGANALISA AYAT-AYAT QUR'AN. INGAT LHO TUGASMU HANYALAH MENYAMPAIKAN wahyu yang sdh diterima nabi Muhammad.n Bukan menjaga atas mereka.

nursatya mengatakan...

Lanjutkan menganalisa ayat-ayat al-qur'an n sampaikan pada saudara-saudara kita (QS:49/10), agar bertambah kesadarannya. Salamun'alaikum.

harris mengatakan...

wallohualam bishshowab...yang berkomentar diatas dgn kata tersebut, ndak usah mengkaji, selahkan tidur saja. Menurut saya,al-qur'an itu petunjuk,pelajaran,Furqon hanya untuk orang mutaqin.Karena dalam QS:2/2 (sangat jelas)n harus dianalisakan/difikirkan. Salamun'alaikum.

m'ahrris mengatakan...

Menurut saya, hukum alloh adalah satu (Al-qur'an) karena dari TUHAN yang satu.Yang asli al-qur'an itu tentunya yang ada di dalam dada (qolbu)Nya Nabi muhammad, yang sekarang ini dibukukan, itu adalah rekaman wahyu yang diterima nabi muhammad. Tentang rakaat sholat, dll itu adalah wahyu praktek. Krn N.Muh. dituntun oleh malaikat jibril langsung secara praktek. Yang sekarang ini ditulis dalam Hadist yg katanya....katanya... itu hanyalah tulisan/rekaman bagaimana dulu nabi melakukan sholat. Seandainya jaman sahabat/Bukhori/Muslim dulunya sudah ada Handycam apa handycam itu yang dijadikan HUKUM ???? Makanya ndak usah diributkan tentang sholat ! saya bisa sholatpun tidak baca Hadist n suatu saat saya pergi diluar kota, saya jadi imam dalam sholat juga sama sholatnya yang jadi makmum.(artinya tidak ada komplin dari makmum)

m'hariis'son mengatakan...

Saudaraku (49/10) kenapa orang yang mempelajari,menganalisa,memikirkan justru di CAP oleh kebanyakan orang, yaitu ORANG YANG SESAT !!??? kadang hati ini ingin menangis, tapi kalo ingat ayat " 6/33 Sungguh Kami mengetahui bahwa akan menyusahkanmu apa yang mereka katakan, padahal mereka bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang dzalim itu menentang Ayat-Ayat Allah. (2/209, 3/184, 4/60, 4/81, 6/54, 39/25 ).
Ternyata al-qur'an sekarang dijadikan syair dilagu-lagukan endingnya DAPAT HADIAH !!!!! tapi yang meikirkan/memperhatikan/menganalisakan dianggap SESAT !!! SUBKHANALLOH !!!! APALAGI YANG YG AKAN TERJADI DIMUKA BUMI INI, BANYAK ORANG MENDUSTAKAN AYAT-AYAT ALLOH.(Sesungguhnya telah di dustakan pula Rasul-Rasul sebelummu, tetapi mereka tabah (sabar) atas apa yang di dustakan dan yang menyakitkan itu, hingga datang pertolongan dari Kami pada mereka. Tiada perobahan bagi Kalimat Allah, dan sungguh telah sampai padamu perkabaran para utusan (Rasul-Rasul). ( 2/201, 2/214, 3/142, 4/165, 43/6, 43/7)
Salamun'alikum.

faqir mengatakan...

ada beberapa pertanyaan yang mengganjal di pikiran saya :
1. Mengapa tidak ada posting-an teks asli ayat Al Qur'an dalam tulisan arab?
2. kalau memang seperti itu terjemahan ayat2 di atas, rujukan Al Qur'an apa yang dipakai?
3. kalau menjelaskan hadits, tentu saja bukan atas dasar pikiran sendiri, jadi merujuk pada kitab apakah klaim tentang hadits diatas?
4. mengapa tidak ada kejelasan tentang ashbabun nuzuL&nashab?

satriopiningit mengatakan...

anda bilang:

"Tentu saja saya shalat, bukankah perintahnya telah jelas ada di dalam Quran? Mengenai tatacaranya, saya pun berpedoman pada apa yang tercantum di dalam Quran."

pertanyaan saya:

1. bagaimana cara anda sholat?
2. apa sebelum itu anda berwudhu? kalo iya bagaimana cara anda berwudhu?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Satrio: Silakan baca ini dan ini

Densop mengatakan...

Salamun Alaikum,

Terima kasih atas pencerahannya,
Selama ini saya sibuk menghafal bahasa arab untuk mengerti hadis dan dalil, serta membaca alqur'an tanpa tahu artinya dengan usaha bersusah payah dengan membuka Alquranul karim yang ada terjemahannya atau Meninjau tentang hadis dan dalil, sering harus membaca buku satu dengan buku lainnya untuk mencari keabsahannya (Capek Dech) yang akhirnya anak istri saya terlantar.. kerja berantakan.

Saya sadar apa yang saya baca didalam sholat-pun sedikit tahu arti dan pengertiannya.
Semuanya memang sudah terperinci dan jelas dalam alqur'anul karim, jadi buat apa susah-susah mencari yang lain?

Dan ternyata lebih parahnya lagi saya salah melafalkan bacaannya yang mana artinya malah memusrikan Tuhan.

Ada Pertanyaan dari saya?
1. Bagaimana dengan azan (panggilan sholat) yang benar menurut anda?
2. Bagaimana dengan najis anjing dan memakan daging anjing atau malah memelihara anjing menurut anda?
3. Apa yang disebut Ulil Amri ?
4. Maju terus pantang mundur....

4.59. Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

4.83. Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri) . Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

Dan bagaimana kutipan ayat diatas,
((maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya),))

Kalau dilihat dr ayat diatas maka dijaman-jaman setelah nabi pun harus sudah ada rasul dan ulil amri?

Salam

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Densop: Alaika salam.. Betul, memang demikian kenyataannya sekarang ini meski kebanyakan orang tidak mau mengakui kesalahan fatalnya dalam beragama :)

Saya langsung ke butir-butir pertanyaan anda ya.

1. Secara syariat, ketentuan adzan itu tidak ada. Kalau kaum mukmin merasa perlu adanya panggilan untuk pengingat, ya bisa saja dibuat semacam pengumuman seperti misalnya yang biasa ada di bandara atau mall.

Contoh yang saya sebutkan itu wujud kreatifitas saja, karena sekali lagi secara syariat tidak ada adzan itu.

2. Ketentuan tentang "najis anjing" sebagaimana yang kita kenal (bekas jilatannya dicuci 7x di antaranya pakai tanah) tidak ada dalam ketentuan Tuhan. Hal tersebut hanya syariat palsu yang diada-adakan.

Memakan daging anjing boleh-boleh saja, karena anjing bukanlah termasuk kategori hewan yang haram dimakan menurut Quran (coba baca Halal-Haram Makanan).

Memelihara anjing pun tidak masalah. Bahkan Tuhan menyebutkan bahwa anjing adalah hewan yang bisa diajak manusia untuk berburu (referensinya ada pada link di atas juga).

3. Ulil amri adalah orang yang diserahi tanggung jawab atas urusan tertentu di tengah-tengah kaum beriman. Istilah lain yang lebih familiar bagi kita sehari-hari adalah "pejabat yang berwenang".

4. Jika Tuhan menghendaki.

Kita mengembalikan perkara kepada Tuhan dan utusan-Nya. Pada zaman ketika ada rasul, seperti sekarang, berarti datang kepada rasul memintakan putusan. Pada zaman tidak ada rasul, berarti "mengembalikan kepada Tuhan" saja yang diberlakukan efektif, yaitu dengan mengambil putusan berdasarkan kitab-Nya (Quran).

Rasul itu tidak selalu ada. Dan ayat yang anda maksud di atas tidak mengindikasikan bahwa rasul itu selalu ada. Ketika ada, berlaku ketentuan-ketentuan di dalam ayat tersebut. Namun ketika sedang tidak ada rasul, apanya yang mau diberlakukan? Salam

Belajar Kritis mengatakan...

Assalamu'alaikum Pak Sakti,

Ada beberapa pertanyaan melintas dalam benak saya:
1. Apakah para sahabat bisa kita percayai jika mereka menyampaikan AlQur'an kepada generasi berikutnya dengan benar sesuai kekuatan hapalan mereka? apakah mereka mengamalkan Alqur'an dilihat oleh anak cucu mereka dan kemudian berlanjut sampai sekarang?
2. Apakah ada kemungkinan para sahabat menceritakan aktivitas Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wasallam kepada generasi berikutnya yang mungkin saja benar adanya dan diamalkan turun temurun?
3. Apakah jika kita berfikiran karena ada beberapa gelintir hadis yang menurut pemikiran kita bertentangan kemudian kita boleh menyimpulkan semua hadis adalah palsu? bagaimana jika ternyata hadis yang menurut kita bertentangan tersebut, ternyata benar adanya, disampaikan, diperintahkan atau dilarang oleh Nabi kepada para sahabat di zaman-nya dan diamalkan oleh para sahabat dan generasi berikutnya sampai di Indonesia di hari dan detik ini. Apakah pemikiran kita zaman sekarang pasti benar terhadap kesimpulan yang kita ambil?
4. Sejak tahun berapa tata cara nabi sholat mulai disimpangkan oleh umat islam?
5. Sejak kapan pemikiran kritis terhadap ajaran islam (Hadis2) mulai muncul?

Terimakasih banyak atas jawabannya.

sakti alexander sihite mengatakan...

@Belajar Kritis: Alaika salam.
1. Quran sedari awal memang sudah dituliskan (ingat bahwa istilah "kitab" identik dengan dokumen tertulis). Maka ia diteruskan dari generasi ke generasi melalui penyalinan ulang, bukan mengandalkan hafalan.

2. Berbicara tentang kemungkinan, tentu saja kemungkinan itu ada. Tapi tuntunan agama tidak bisa disandarkan pada sumber spekulatif (mungkin benar mungkin palsu) seperti itu.

3. Ketika sebuah kue berbahan baku tepung, telur dan gula ditambahi seiris kecil daging babi maka ke-halal-an kue tersebut langsung gugur. Demikian juga ketika beberapa hadis nyata2 bertentangan dengan Quran maka keabsahan dari yang namanya "hadis" langsung gugur.

Nabi mengajarkan agama dengan membacakan ayat2 Tuhan (Quran). Ayat2-Nya tersebut bersifat menjelaskan (65:11) dan terperinci (6:114, 12:111). Jadi semua ajaran agama yang dulu disampaikan oleh nabi dapat anda temukan di dalam Quran. Tidak perlu khawatir ada yang terlewat.

4. Saya tidak tahu. Yang saya tahu adalah bahwa tatacara salat umat sudah tidak sesuai dengan standar (Quran), berarti telah terjadi penyimpangan. Cat dinding rumah saya putih, kalau ketika saya pulang ternyata sudah berwarna merah maka berarti ada yang mengubahnya. Saya tidak harus tahu siapa yang mengubah, dan jam berapa diubah.

5. Silakan anda cari sendiri infonya. Saya rasa pembahasan tentang hal tersebut ada banyak di internet.

DENI mengatakan...

Salam, menurut anda apa arti/maksud dari "hikmah" yg terdapat di ayat :
(2:231) ....dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah....

Al-Hikmah ini juga ada di (2:251), (2:269), (3:48), (3:79), apakah pengertiannya/maksud artinya sama ?

Karena ditafsir Qur'an Al-hikmah tsb dijelaskan sebagai hadist.

sakti alexander sihite mengatakan...

@Deni: Salam. Hikmah adalah pemahaman/pengetahuan akan kebenaran. Hikmah lebih luas/umum maknanya daripada kitab, karena hikmah mencakup pemahaman/pengetahuan yg terdapat di dalam kitab maupun yg di luar itu.

Bahwa ayat2 kitab (Quran) juga disebut sebagai hikmah dapat dibaca di 17:39 yg mengacu ke ayat2 sebelumnya.

Ya, pengertian hikmah di ayat2 yg anda sebutkan memiliki makna yg sama.

Hikmah sudah pasti sejalan dengan ayat2 Tuhan. Adapun "hadis" sudah terbukti invaliditasnya sehingga tidak relevan dikait2kan dengan hikmah.

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih