8.7.05

Kesempurnaan Quran

Sumber Petunjuk
Quran sebagai sebuah Kitab yang diturunkan oleh Tuhan Pencipta semesta alam berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang berhati-hati (takwa). Ia menjadi rujukan untuk mereka yang hendak menetapi kebenaran dan menjauhi kesesatan.

"Kitab itu tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang berhati-hati (takwa)." (Quran 2:2)

Jelas dan Menjelaskan
Semua perintah, larangan, dan ketetapan yang diturunkan Tuhan untuk manusia telah tertulis dengan jelas di dalam Quran.

“Alif Lam Ra. Inilah ayat-ayat kitab yang jelas.” (Quran 12:1)

Bukan hanya jelas, tapi Quran pun bersifat menjelaskan (mubayyinah). Oleh karenanya, penjelasan atas sesuatu perintah Tuhan akan didapati di dalam Quran itu sendiri.

“Seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Tuhan yang menjelaskan, supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan dari kegelapan kepada cahaya....” (Quran 65:11)

Terperinci
Sifat lain dari Quran adalah terperinci (tafshil), dan memerincikan (mufashal). Terperinci artinya adalah terperinci. Orang-orang yang tidak beriman kerap tidak bisa mencerna sebuah kata dalam bahasa Indonesia tersebut.

Dengan fatwa Tuhan ini gugurlah fatwa-fatwa ajaran palsu yang mengatakan bahwa Quran itu bersifat garis besar dan masih dibutuhkan sumber lain untuk memerincinya.

“Apakah kepada selain Tuhan aku mencari hakim, padahal Dia telah menurunkan Kitab kepada kalian secara terperinci?....” (Quran 6:114)

“...Bukanlah ia (Quran) itu cerita yang diada-adakan, tetapi ia pembenar (kitab) yang di depannya dan pemerincian segala sesuatu, dan petunjuk serta kasih sayang bagi kaum yang beriman.” (Quran 12:111)

Tingkat keterperincian Quran adalah sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan. Bisa saja Tuhan menetapkan sesuatu hal dengan batasan yang longgar seperti misalnya ketentuan tentang bacaan salat. Selain seruan dan pujian pada permulaan serta akhir salat, Tuhan tidak menetapkan secara khusus apa-apa yang harus kita baca ketika berdiri , ketika berlutut, ataupun ketika bersujud. Sebaliknya, bisa pula Tuhan menetapkan sebuah batasan yang sangat ketat sebagaimana dapat dibaca pada ayat tentang waris di bawah ini.

“Tuhan mewasiatkan kepada kalian tentang (pembagian warisan) untuk anak-anak kalian, yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua orang, maka bagi mereka 2/3 dari harta yang ditinggalkan, dan jika anak perempuan itu seorang saja maka ia memperoleh 1/2 harta. Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masing memperoleh 1/6 dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak. Jika yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya saja, maka ibunya memperoleh 1/3. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya memperoleh 1/6 sesudah dipenuhi wasiat dan utang-utangnya….Dan bagi kalian 1/2 dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika mereka mempunyai anak maka kalian memperoleh 1/4 dari harta yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuatnya dan utang-utangnya. Dan mereka memperoleh 1/4 dari harta yang kalian tinggalkan jika kalian tidak mempunyai anak. Jika kalian mempunyai anak, maka para istri itu memperoleh 1/8 dari harta yang kalian tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat dan utang-utangnya. Dan jika seseorang wafat baik laki-laki atau perempuan yang tidak meninggalkan bapak dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki atau seorang saudara perempuan, maka masing-masing dari kedua saudara itu memperoleh 1/6. Tetapi jika saudara-saudara lebih dari seorang, maka mereka berbagi dalam yang 1/3 sesudah dipenuhi wasiat dan utang-utangnya dengan tidak merugikan. Itulah ketetapan Tuhan, dan Tuhan Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Quran 4:11-12)

Karena Tuhan bisa menetapkan sesuatu ketentuan dengan sangat ketat dan mendetil jika Dia mau, maka ketika ada perintah yang kesannya ”sederhana”, memang hanya begitulah yang Tuhan kehendaki.

Sebagai contoh, Tuhan memerintahkan untuk membasuh empat anggota tubuh sebelum salat, bukan tujuh anggota tubuh. Kalau ada yang menilai bahwa perintah membasuh empat anggota tubuh masih belum cukup terperinci, maka orang tersebut telah menganggap dirinya lebih tahu daripada Tuhan.

Sempurna
Selanjutnya kita mesti menyadari bahwa ayat-ayat Quran itu adalah rangkaian perkataan Tuhan yang telah sempurna. Sebagai sebuah kitab yang telah sempurna, tidak dapat diterima perubahan, pengurangan, ataupun penambahan atas apa-apa yang telah ditetapkan. Karenanya, batal bila ada kitab lain yang disifatkan sebagai pelengkap bagi Quran.

”Dan telah sempurna kata-kata Tuan engkau dengan kebenaran dan keadilan. Tidak ada yang mengubah kata-kata-Nya, dan Dia Mendengar (lagi) Mengetahui” (Quran 6:115)

Terjaga
Di antara upaya setan untuk menjauhkan manusia dari Quran adalah dengan meniupkan keragu-raguan atas keaslian Quran. Kita jangan sampai goyah oleh godaan semacam itu karena Tuhan sendiri telah menjamin untuk menjaga Quran.

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Peringatan (Quran) itu, dan sesungguhnya Kami yang menjaganya." (Quran 15:9)

(Terakhir diperbarui: 18 Agustus 2008)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

2 comments:

Quraniawan sdr mengatakan...

Pak sakti, boleh diterangkan makna 17:46, di situ ada kata wahdahu yg bersanding dengan Qurani. tetapi diawali dengan Allah fii, wahdahu itu merangkan quran apa Allah?,

1.Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Quran,

2.Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu dalam Al Quran saja,

MANA YG BENAR TRIMAKASIH..SALAMUN ALAIKUM.

Sakti A. Sihite mengatakan...

"Hu" (dia) di situ adalah kata ganti untuk Rabb. Jadinya: "Dan apabila engkau menyebut Tuanmu di dalam Quran--satu-satunya Dia ..."

Demikian pak Quraniawan. Alaika salam.

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih