1.8.05

Halal-Haram Makanan

Tuhan telah mengaruniakan rezeki yang banyak untuk manusia. Dengan kehendak-Nya, Dia telah mengharamkan beberapa jenis sebagaimana yang tercantum di dalam ayat-ayat berikut:

“Dan janganlah kalian memakan dari apa-apa yang tidak disebutkan nama Tuhan atasnya...” (Quran 6:121)

“Telah diharamkan atas kalian bangkai, dan darah, dan daging babi, dan apa-apa yang telah dilafalkan kepada selain Tuhan dengannya, dan yang tercekik, dan yang dipukul, dan yang jatuh, dan yang ditanduk, dan yang telah dimangsa binatang buas kecuali kalian telah (sempat) menyembelihnya, dan yang disembelih di atas altar…” (Quran 5:3) (ketentuan serupa terdapat di dalam 2:173, 6:145, dan 16:115)

Dari ayat di atas diketahui bahwa makanan yang diharamkan Tuhan untuk manusia hanyalah:

1. Makanan yang padanya tidak disebutkan nama Tuhan.
Meskipun zat makanan tersebut halal, apabila kita tidak menyebutkan nama Tuhan sebelum memakannya maka ia menjadi haram. Oleh karena itu sebutkanlah selalu nama Tuhan (dengan nama Tuhan yang pengasih, yang penyayang/ bismillahirrahmaanirrahiim) pada makanan yang akan kita makan.

2. Bangkai.
Semua jenis bangkai, tanpa pengecualian, adalah haram dimakan.

Persoalan yang sering mengemuka adalah tentang hukum “bangkai ikan”. Persoalan ini muncul karena kerancuan dalam mendefinisikan istilah “bangkai” itu sendiri. Bangkai itu bukanlah binatang yang tidak disembelih. Bangkai adalah binatang yang mati tanpa campur tangan manusia.

Ikan yang mati terapung-apung begitu saja di permukaan air adalah bangkai. Adapun ikan yang mati karena tindakan manusia (nelayan) yang sengaja mengangkatnya dari air bukanlah bangkai.

3. Darah.

4. Daging babi.
Tuhan telah memerinci bahwa yang Dia haramkan adalah daging babi (lahmul khinzir). Artinya, unsur-unsur lain dari babi seperti minyak babi tidak termasuk kategori haram.

5. Apa-apa yang dilafalkan bagi selain Tuhan.
Misalnya hewan kurban, buah-buahan, kue-kue maupun makanan lain yang dijadikan sesajian untuk jin, “dewa-dewa”, arwah leluhur, dan sebagainya.

6. Binatang yang mati karena tercekik.

7. Binatang yang mati karena dipukul.
Untuk binatang air yang sulit dimatikan meski sudah tidak diberi air, seperti ikan Lele (Clarias Batrachus) dan kepiting, kita dapat menusuknya pada bagian yang akan membuatnya segera mati. Jangan sekali-kali mematikannya dengan cara memukul kepalanya, karena itu akan menjadikannya haram.

8. Binatang yang mati karena jatuh.

9. Binatang yang mati karena ditanduk.

10. Binatang yang mati karena dimangsa binatang buas, kecuali masih sempat disembelih.

11. Binatang yang disembelih di atas altar.

Makanan selain dari sebelas kategori di atas adalah halal, dan tidak ada hak manusia untuk memfatwakan haram atasnya.

Binatang Buruan
Binatang buruan, seperti binatang yang ditangkapkan oleh anjing adalah juga halal untuk dimakan. Kita diperintahkan untuk menyebut nama Tuhan (bismillahirrahmaanirrahiim) atas binatang hasil buruan yang akan kita makan tersebut.

“... dan apa-apa (tangkapan) dari binatang buas yang telah kalian ajar dengan melatihnya untuk berburu; kalian mengajarnya dari apa yang telah Tuhan ajarkan kepada kalian, maka makanlah dari apa yang mereka tangkapkan untuk kalian, dan sebutlah nama Tuhan atasnya ....” (Quran 5:4)

Binatang buruan yang didapatkan dengan cara ditembak/dipanah/ditombak juga halal, karena cara matinya tidak termasuk ke dalam salah satu yang dikategorikan haram oleh Tuhan.

Meskipun telah jelas batasan makanan yang diharamkan Tuhan, pada kenyataannya para pemuka agama telah mengharamkan lebih banyak lagi jenis makanan. Mereka mengharamkan minyak babi, binatang yang hidup di dua alam (mis. katak), binatang bertaring (mis. macan, anjing), burung berkuku tajam, dan keledai.

Sebaliknya, pengharaman bangkai mereka langgar dengan menghalalkan bangkai ikan.

Tindakan mengada-ada halal-haram seperti itu adalah dusta yang mengatasnamakan Tuhan, dan termasuk ke dalam kesesatan.

“Katakanlah, ‘sudahkah kalian pikirkan rezeki yang telah diturunkan Tuhan untuk kalian, lalu kalian jadikan sebagiannya haram, dan (sebagiannya) halal’? Katakanlah, ‘Apakah Tuhan telah mengizinkan kepada kalian, atau kalian mengada-ada saja atas (nama) Tuhan?” (Quran 10:59)

“… dan mereka telah mengharamkan apa yang telah Tuhan rezekikan kepada mereka, (dengan) mengada-ada atas (nama) Tuhan. Sungguh mereka telah sesat, dan bukanlah mereka orang-orang yang tertunjuki.” (Quran 6:140)

Makanan Yang Baik
Makanan yang kita konsumsi disamping halal harus pula baik (thayyib). Artinya makanan tersebut harus memenuhi tuntutan kelayakan, kesehatan, dan keselamatan.

“Wahai manusia, makanlah apa yang di bumi, yang halal, yang baik, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya dia bagi kalian adalah musuh yang nyata.” (Quran 2:168)

(Terakhir diperbarui: 5 Januari 2011)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

8 comments:

Anonim mengatakan...

setuju sekali atas apa yg anda jabar kan....kasihan sekali umat muslim banyak tidak mengerti....salam sejahtera..

Anonim mengatakan...

apakah semua binatang yang mati karena ditembak itu boleh dimakan? jelaskan secara singkat dan lagis!

Abdul mengatakan...

sesuai dengan yang anda ketahui apakah hukumnya memakan hewan (selain Babi) yang disembelih tanpa melafalkan kata apapun..

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Anonim: Sepanjang binatang buruan tersebut tidak masuk ke dalam salah satu dari 11 kategori haram di atas, maka ia boleh dimakan.

@Abdul: Jika sebelum memakannya kita menyebutkan nama Tuhan atas hidangan tersebut, maka ia halal dimakan. Tapi jika kita tidak menyebutkan nama Tuhan sebelum memakannya maka ia menjadi haram.

Dasarnya adalah Quran 6:121 sebagaimana uraian butir 1 yang telah kami tambahkan pada tulisan di atas. Terima kasih

riyan mengatakan...

masalah najis najis najis

dalil dalam quran apa brow??

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Riyan: Yang disebut najis oleh Quran adalah mereka yang menyekutukan Tuhan (musyrik). Cek di sini untuk mengetahui seperti apa saja yang disebut musyrik itu.

Deni mengatakan...

Salam,

Apakah arti الجوارح dalam ayat (5:4) adalah "anjing" ?
Krn penyebutan anjing pada ayat yg lain adalah الْكَلْبِ (Al A'raf 176 & Al Kahfi 18)

sakti alexander sihite mengatakan...

@Deni: Salam. Jawaarih berarti "binatang buas/pemangsa", bukan "anjing". Saya sudah koreksi terjemahan pada tulisan di atas. Terima kasih.

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih