15.12.05

Inti Keber-agama-an

Seorang anak kecil bertanya kepada bapaknya, “Ayah, kalau orang Kristen di akhirat nanti masuk surga atau masuk neraka?”

Mendapat jawaban, “Tentu saja masuk neraka, mereka kan kafir.”

Si anak jadi penasaran. “Kalau Pak Polan bagaimana, ayah? Dia kan baik, suka menolong orang yang membutuhkan.”

“Nak, memang Pak Polan itu orangnya baik. Tapi, karena dia Kristen tetap saja nantinya akan masuk neraka.”

Ilustrasi percakapan di atas umumnya tidak asing dari ingatan masa kecil kita yang beragama Islam. Orang tua ingin menanamkan identitas keagamaan kepada anaknya sedari dini. Mungkin Anda juga telah mewariskan paham serupa kepada anak-anak Anda yang bertanya dengan polosnya.

Ingatan akan ilustrasi di atas membawa saya pada pemikiran untuk menelusuri lebih jauh apakah sebenarnya inti keberagamaan itu. Apakah sebenarnya hal paling penting dari yang penting di dalam agama.

Setelah ditelusuri, ternyata Tuhan memberi posisi sentral pada apa yang disebut dengan “mengerjakan kebaikan” atau “amal salih” dalam bahasa Arabnya. Bahkan orang Yahudi, orang Nasrani, dan orang Sabiin sekalipun akan menerima imbalan kebahagiaan di sisi Tuhan sebagai akibat pekerjaan baiknya sepanjang mereka beriman dengan benar.

“Sesungguhnya orang-orang yang percaya, dan orang-orang Yahudi, dan orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabiin, barang siapa yang percaya kepada Tuhan, dan hari akhir, dan mengerjakan kebaikan, maka bagi mereka imbalan di sisi Tuan mereka, dan tiada kekhawatiran atas mereka, dan tiada mereka berduka cita.” (Quran 2:62)

Kita sudah mengetahui bentuk-bentuk pekerjaan baik ini. Sebutlah misalnya bersedekah, memberi uang kepada peminta-minta, memberi makan orang kelaparan, membantu korban bencana, menyantuni orang miskin, menafkahi anak yatim, menolong kerabat yang berkekurangan, melepaskan orang dari jerat perbudakan, membangunkan fasilitas umum, dan sebagainya.

Sebagaimana sudah disinggung, kerja kebaikan itu harus dilandasi dengan iman yang benar. Iman yang benar itu adalah percaya kepada Tuhan, tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, percaya kepada nabi-nabi, percaya akan malaikat-malaikat, percaya kepada utusan Tuhan, percaya kepada ayat-ayat-Nya, dan percaya akan adanya kehidupan akhirat.

Pekerjaan yang tidak dilandasi dengan iman yang benar akan sia-sia belaka. Contohnya adalah pekerjaan dari orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan, dan tidak percaya akan adanya perjumpaan dengan Tuhan.

Kepada mereka dibacakan ayat-ayat Tuhan, namun mereka mendustakan dengan berbagai dalih. Mereka diingatkan tentang adanya kebangkitan di hari akhir, namun itu mereka tertawakan dan anggap dongeng. Di benak mereka, hidup adalah yang sekarang ini saja.

“Mereka itu orang-orang yang ingkar pada ayat-ayat Tuan mereka dan perjumpaan dengan-Nya. Maka sia-sia pekerjaan-pekerjaan mereka, maka tiadalah kami akan menegakkan bagi mereka pada hari kiamat itu (suatu) penimbangan.” (Quran 18:105)

Yang juga akan sia-sia pekerjaannya adalah orang-orang yang menyekutukan sesuatu dengan Tuhan (musyrik).

Pada umat Yahudi dan Nasrani, bentuk kemusyrikan yang mendominasi adalah menyekutukan nabi dan orang alim mereka dengan Tuhan. Orang Yahudi mengatakan bahwa Uzair (Ezra) adalah anak Tuhan. Orang Nasrani mengklaim bahwa Nabi Isa (Yesus)
(damai atasnya) adalah anak Tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri.

Pekerjaan dari orang-orang yang melakukan kemusyrikan tersebut sia-sia di hadapan Tuhan. Mungkin saja mereka telah banyak berbuat baik dalam kehidupan dunia ini. Namun karena tidak dilandasi oleh iman yang benar, semua perbuatan mereka itu tidak akan mendapat imbalan di sisi Tuhan.

“Dan sungguh telah diwahyukan kepada engkau dan kepada orang-orang sebelum engkau: ‘Sungguh jika engkau menyekutukan, (niscaya) sungguh akan sia-sia pekerjaan engkau, dan sungguh engkau akan tergolong orang-orang yang merugi’.” (Quran 39:65)

Kalau orang-orang Yahudi dan Nasrani telah menyekutukan Uzair dan Isa dengan Tuhan, lalu bagaimana mungkin kepada mereka dijanjikan imbalan kebahagiaan di sisi Tuhan seperti yang sebelumnya dikatakan?

Sebagian orang Yahudi dan mayoritas orang Nasrani memang telah menyekutukan Tuhan. Namun, tidak semua mereka seperti itu. Tetap ada sebagian kecil dari mereka yang memurnikan imannya kepada Tuhan.

Di kalangan umat Nasrani mereka dikenal sebagai Kristen Unitarian, atau Kristen Tauhid. Istilah “unitarian” adalah antitesis dari dogma “trinitarian” yang dianut oleh mayoritas orang Kristen. Jumlah mereka ini sedikit, dan oleh sesama orang Nasrani mereka dianggap sesat karena menolak penuhanan Isa (Yesus).

Kepada orang-orang Nasrani yang lurus demikianlah Tuhan menjanjikan imbalan kebahagiaan.

“Tidaklah mereka itu sama. (Sebagian) dari orang kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah umat yang lurus, mereka membaca ayat-ayat Tuhan (di) waktu-waktu malam, dan bersujud. Mereka percaya kepada Tuhan dan hari akhir, dan menyuruh kepada yang baik dan melarang dari yang keji, dan mereka bersegera dalam kebajikan; dan mereka itu tergolong orang-orang yang baik.” (Quran 3:113-114)

Kesimpulannya, inti keberagamaan adalah: Beriman dengan benar, dan mengerjakan kebaikan. Apapun label agamanya, selama seseorang beriman dengan benar dan mengerjakan kebaikan, maka kelak dia akan memperoleh imbalan kebahagiaan di sisi Tuhan.

(Terakhir diperbarui: 14 Agustus 2015)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

10 comments:

ferry mengatakan...

Dear Sakti,

yg dimaksud Islam itu adalah "benar", jadi "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam..." berarti pengertiannya Barangsiapa mencara agama selain agama yang benar...

NB: saya juga mendapatkan petunjuk via mimpi, tapi masih banyak yang menganggap mimpi hanya bunga tidur, jadi bila ada yg percaya mimpi adalah petunjuk berarti mereka juga termasuk rasul. Hanya satu saran dari saya untuk saudara Sakti, jangan terlalu berambisi atas keadaan sekarang, karena bila anda terlalu berambisi, berarti anda salah...

Terima Kasih

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Ferry: Tidak ada dasarnya secara bahasa bahwa kata islam itu berarti benar. Kita harus punya dasar yang dapat dipertanggungjawabkan dalam menarik suatu kesimpulan.

Mimpi adalah mimpi, tidak ada kaitannya secara langsung dengan kerasulan. Kecuali mimpi yang dialami tersebut adalah berupa pelantikan kerasulan.

David mengatakan...

Selama yang menjadi tujuan utama Bang Sakti mencapai kedamaian bagi seluruh umat manusia, saya dukung dalam doa.

Anonim mengatakan...

saya juga meramalkan, suatu saat, orang yang tak beragama (banyak agama) akan diakui.

pada saatnya orang tak akan butuh agama.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Anonim: Agama diadakan Tuhan sebagai salah satu kelengkapan hidup manusia. Saya yakin ramalan anda tentang "berakhirnya agama" akan meleset :)

Raga mengatakan...

Salam,
Apa diperbolehkan mengucapkan selamat Natal atau ucapan selamat kepada hari raya agama lain ?

nsh mengatakan...

Barangsiapa mencar1 agama selain agama yang benar...
QS: 3/83"Apakah selain Agama Allah yang mereka cari? Padahal bagi-NYA telah Islam orang-orang di Samawat dan orang-orang di Bumi dengan patuh dan terpaksa, dan kepada-NYA mereka dikembalikan. (2/148, 3/19, 7/140, 16/49, 20/6, 22/18, 42/29).
QS : 2/130 "Dan siapa yang membenci millah Ibrahim melainkan memperbodoh dirinya. Dan sungguh dia telah dipilih di dunia, dan sesungguhnya dia di Akhirat termasuk orang-orang sholeh. (2/124, 3/65, 3/67, 2/140, 4/125, 6/161, 22/78).
.........Salamun'alaikum

Nsh mengatakan...

telah Islam orang-orang di Samawat (planet) dan orang-orang di Bumi dengan patuh dan terpaksa,
................(menunjukan bahwa diplanet lain ada manusiaNya seperti kita)....ingat Alloh robbul'alamin. Salamun'alaikum.

nn mengatakan...

Jika anda seorang rasul tolong jelaskan arti/maksud/terjemahan dari ayat :
1. Alif laam mim
2. Yasiin
3. Alif lam Raa
4. Alif lam raa
5. Alim lam shod
Ayat terseut petunjuk tentang Apa ?
Salamun'alaikum. Tolong e-mail ke aduhmaknyak@gmail.com

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Raga: Salam. Boleh saja.

@Nsh: Samawat artinya "langit-langit" (banyak langit). Bukan planet. Salam.

@nn: Ayat-ayat alfabet tersebut masuk dalam kategori ayat "mutasyabihat" yang wajib kita percayai sebagaimana ayat Quran yang lain. Tuhan katakan di Q 3:7 bahwa yang mencari-cari interpretasi dari ayat mutasyabihat hanyalah mereka yang hatinya menyimpang. Salam.

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih