15.1.07

Tolok Ukur Kebenaran

Apa dasarnya suatu keyakinan dikatakan benar, atau salah?

Di dalam kehidupan sehari-hari, sering kali suatu keyakinan dianggap benar karena keyakinan tersebut telah diterima sejak dahulu. Karena apa yang kita yakini sama dengan apa yang diyakini oleh orang tua kita maupun oleh generasi-generasi sebelumnya, lantas kita menganggap keyakinan tersebut benar. Istilahnya, “Dari dulu juga begitu …”.

Menganggap suatu keyakinan sebagai kebenaran hanya karena keyakinan itu telah diterima sejak dahulu, adalah cara pandang yang salah. Tidak selamanya apa yang telah mengakar dan dijalankan dari generasi ke generasi itu benar. Kebenaran mestilah didasarkan pada suatu ukuran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Quran bercerita tentang orang-orang yang menganut cara pandang yang salah ini. Mereka menolak untuk mengikuti apa yang diturunkan Tuhan, dan memilih untuk mengikuti apa yang sudah diyakini oleh generasi-generasi terdahulu.

”Dan apabila dikatakan kepada mereka, ’Ikutilah apa yang Tuhan turunkan’. Mereka berkata, ’Bahkan kami mengikuti apa yang telah kami dapati pada bapak-bapak kami.’ Padahal bapak-bapak mereka tidak menalar sesuatu dan tidak mendapat petunjuk.” (Quran 2:170)

Sandaran lain yang juga sering digunakan orang dalam memutuskan benar atau salah adalah pendapat umum. Orang-orang ini meyakini sesuatu semata-mata karena kebanyakan orang juga meyakini hal yang sama.

Mereka menyandarkan keyakinannya pada sebuah asumsi bahwa tidaklah mungkin sekian ratus juta orang telah meyakini sesuatu yang salah. Jika disampaikan ayat-ayat Tuhan yang mengoreksi keyakinan mereka, nada komentar mereka kurang lebih, “Jadi kamu yang betul, dan ratusan juta orang lain di bumi ini salah?!”

Memang, jumlah pendukung yang besar mudah dijadikan simbol keabsahan. Namun pembenaran yang demikian itu sebenarnya tidak berdasar. Benar atau salahnya suatu pendapat haruslah didasarkan pada penilaian objektif, terlepas dari banyak atau sedikitnya orang yang mendukung pendapat tersebut.

“… Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu mengagumkan engkau, maka takutlah kepada Tuhan wahai orang-orang yang berakal, mudah-mudahan kalian beruntung.” (Quran 5:100)

Tuhan di dalam kitab-Nya mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kebanyakan orang di dunia ini hanya mengikuti persangkaan saja. Mereka menganut suatu keyakinan bukan karena keyakinan tersebut telah teruji kebenarannya. Konsekuensinya, jika kita hanya “mengikuti arus” maka kita pun akan tersesat dari jalan yang benar.

“Dan jika engkau mematuhi kebanyakan orang di bumi, mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Tuhan. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah berdusta.” (Quran 6:116)

Fatwa dari orang-orang yang memiliki pengaruh, seperti pemuka agama, adalah alternatif lain yang dijadikan ukuran kebenaran bagi banyak orang. Kondisi ini didukung oleh kenyataan bahwa kebanyakan orang lebih suka “menerima jadi” fatwa-fatwa agama daripada mengkaji sendiri kitab Tuhan yang telah diturunkan untuk manusia.

Mereka yang berpegang pada cara pandang ini enggan menerima penjelasan dari orang yang mereka anggap “bukan siapa-siapa”. Sebagai tanggapan, mereka mengatakan bahwa kalau penjelasan tersebut diakui oleh “ulama terpandang”, atau “pakar berpengaruh”, atau “kyai ini”, atau “profesor itu” barulah mereka akan percaya.

Padahal, sebenarnya kebanyakan pemuka agama menghalangi manusia dari jalan Tuhan. Tidak sedikit manusia yang tersesat karena secara membuta mengikuti ajaran pemuka agama meskipun yang diajarkan itu berlainan dengan apa yang ditetapkan Tuhan.

”Wahai orang-orang yang percaya, sesungguhnya kebanyakan pemuka agama dan rahib memakan harta manusia dengan cara palsu, dan menghalangi dari jalan Tuhan ...” (Quran 9:34)

Di Akhirat kelak banyak manusia yang menyesal karena telah mentaati para pemimpin dan pembesar mereka ketika di dunia. Namun penyesalan itu sudah tidak ada gunanya lagi.

“Dan mereka berkata: ‘Tuan kami, sesungguhnya kami telah mematuhi pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami. Lalu mereka menyesatkan kami dari jalan itu’.” (Quran 33:67)

Dalam kaitannya dengan kecenderungan manusia kepada materi, ada pula orang yang ketika dihadapkan kepada pilihan keyakinan, dia meniliknya berdasarkan ukuran materi. Seakan-akan kebenaran itu pastilah berada di pihak yang dikaruniai keunggulan materi.

Cara pandang yang dangkal ini juga telah terjadi sejak dahulu. Padahal, limpahan materi bukanlah pertanda hadirnya keridhaan Tuhan. Bahkan generasi-generasi terdahulu yang lebih megah telah dimusnahkan Tuhan karena keingkarannya.

”Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami (serta) dalil-dalil, orang-orang yang ingkar berkata kepada orang-orang yang percaya, ’Yang manakah antara dua golongan itu yang lebih baik tempatnya, dan lebih bagus perkumpulannya?’ Dan berapa banyak generasi yang telah Kami musnahkan sebelum mereka yang lebih bagus peralatan dan penampakannya!” (Quran 19:73-74)

Akhirnya kita melihat betapa cacatnya kriteria-kriteria yang dijadikan manusia sebagai tolok ukur kebenaran. Apa yang selama ini dianggap sebagai kriteria, ternyata tidak lebih dari gelembung persangkaan yang muncul dari keengganan untuk berpikir kritis.

Dalam memutuskan benar atau salahnya suatu keyakinan, kita harus mengujinya dengan Quran yang telah ditetapkan Tuhan sebagai pemisah (furqan). Kitab Tuhan itu akan mengatakan kepada kita mana sesungguhnya yang benar dan mana yang salah.

”Bulan Ramadan yang padanya Quran diturunkan (sebagai) petunjuk bagi manusia, dan dalil-dalil dari petunjuk itu, dan pemisah (furqan) ....” (Quran 2:185)

Dan kebenaran itu bisa jadi berbeda dengan apa yang sudah diterima sejak dulu, dengan keyakinan kebanyakan orang, ataupun dengan pendapat pemuka agama.

(Terakhir diperbarui: 26 Agustus 2008)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

11 comments:

Husein mengatakan...

Mas, kalau anda mengaku sebagai Rasul,

marilah kita bermubahalah,
saya berdoa melalui Rasulullah Muhammad, dan anda melalui rasul diri sendiri

bentuk mubahalahnya terserah mas, kita minta diliput media dan notaris hukum resmi,
bagimana???

buktikanlah bahwa kebenaran anda Adalah Benar, dan Allah akan menjadi pelindung orang beriman,
bagaimana?

Anonim mengatakan...

Mas Sakti,
Bagaimana tanggapan anda terhadap fatwa-fatwa MUI yang saat ini terkesan tidak sesuai dgn Quran, seperti fatwa haram merokok, fatwa haram film 2012 dan lain-lain?

wsalam
yusuf

manusia mengatakan...

mungkin saya sedikit bisa memberi jawaban untuk Husein, di Al Quran Allah menginformasikan bahwa nabi terakhir adalah Nabi Muhammad, tapi Allah menginformasikan akan selalu ada rosul di setiap jaman manusia yang menegakkan din Allah. terlepas dari benar atau tidak saudara Sakti ini adalah utusan Allah yang bisa kita lakukan adalah melihat apa yang disampaikan saudara Sakti ini sesuai dengan Al Quran atau tidak. Kalau saudara sakti adalah utusan Allah bejuanglah menegakkan din Allah, Allah senantiasa akan bersolawat untuk anda, sebaliknya kalo bukan hanyalah soudara sakti yang akan mempertanggung jawabkan segalanya kepada Allah.

bucex mengatakan...

saya setuju dengan saudara husein,,saya tantang sakti sihite untuk bermubahalah,..saya bersaksi bahwa Tiada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dan sakti sihite adalah pendusta/al-kadzab..jika tidak bertobat maka kau sakti tempatmu adalah neraka dan kekal didalamnya.

Anonim mengatakan...

Saya menyadari apa yg anda uraikan ada yg benar, "kita memang sering membenarkan yg biasa, tp alangkah lebih baik kita membiasakan yg benar". Jd setiap fatwa yg dikeluarkan harus kita kaji terlebih dahulu baru bisa kita ikuti atau kita acuhkan..

someone mengatakan...

Dalam hal ini saya tidak menyalahkan saudara sakti.... karena kebenaran Allah itu dituntun melalui hati masing2 jiwa.

Disitulah Allah membisikan dalam relung hati terdalam kepada umatnya. Selama hati itu bersih (tenang) maka kebenaran itulah yang akan hadir.

Sebagai umat manusia kita seharusnya menggunakan akal pikir yang telah dikaruniakan Allah untuk mengkaji setiap permasalahan dan fenomena dalam kehidupan ini. Kesalahan bukan lah suatu kenistaan... selama dituntun oleh nurani pastilah akan menemui kebenaran yang hakiki. Dari hati kecilah Allah menuntun dan mengajari kita umat manusia itu mencari pencerahan kita yang akan kita pahami... Dia lah Allah Yang Maha Pendidik. Oleh karena itu sebenarnya tiap umat manusia dimuka bumi ini adalah khalifah dan sekaligus rasul (penyampai pesan) dari Allah yang dilewatkan kepada hati nurani.

Orang-orang yang merugi sesungguhnya adalah mereka orang-orang yang lalai. Mereka merasa beragama tetapi malas mengkaji... malas berpikir... sehingga kejumudan itulah yang melanda umat Islam dewasa ini....

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Husein & Bucex: Baiklah. Kalau saya berdusta semoga laknat Tuhan ditimpakan atas saya, dan kalau saya benar semoga laknat Tuhan ditimpakan atas anda.

@Anonim (Yusuf): Hanya Tuhan yang berhak menciptakan fatwa agama. MUI banyak mengada-ada saja, dan Tuhan benci tindakan demikian. Abaikan saja fatwa2 mereka yang menyesatkan dan membodohi tersebut.

harris mengatakan...

Sebagai umat manusia kita seharusnya menggunakan akal pikir yang telah dikaruniakan Allah untuk mengkaji setiap permasalahan dan fenomena dalam kehidupan ini.JANGAN malas mengkaji... malas berpikir... sehingga kejumudan itulah yang AKAN DIDAPAT. TERUS MAJULAH BERFIKIR DENGAN QOLBU !!!! OCE ????QS: 22/46 "Tidakkah mereka berjalan di Bumi ini, lalu bagi mereka ada Qolbu (hati) untuk memikirkan dengannya atau telinga untuk mendengarkan dengannya ? Sesungguhnya bukanlah mata (pemandangan) itu yang buta, tetapi yang buta adalah Qolbu (hati) yang di dalam dada.( 2/6, 2/7, 6/46, 29/20, 30/9, 16/78, 46/26, 7/179, 11/20, 95/4).

Anonim mengatakan...

S7 dgn Sihite,someone,haris,anonim n yusuf...Yang penting sihite menyampaikan Kalam Ilahhi dgn amat sangat benar..terlepas dr pengakuan sebagai Rasul apa tdk...Wallahu a'lam.. Lanjut..Met jihad

Kang Asep mengatakan...

Kriteria kebenaran itu al Quran. pertanyaannya, al Quran yang ditafsirkan oleh siapa ? jawabannya adalah yang ditafsirkan oleh Sakti A. Sihite. jadi, kalo ada tafsiran lain yang tidak sejalan dengan tafsiran Sdr. Sakti, maka berarti tafsiran tersebut salah. kalo begitu langsung saja katakan, "sesuatu itu benar, bila aku mengatakannya benar." jangan menggunakan ayat suci sebagai kedok !

sakti alexander sihite mengatakan...

@Kang Asep: Yang harus dipegang adalah pemahaman/penafsiran terbaik. Saya sendiri tidak memposisikan pandangan saya sebagai sesuatu yg mutlak kok. Kalau ada pendapat lain yg lebih baik saya siap mengundurkan pendapat saya. Dan dalam kenyataannya, lebih dari sekali saya mengoreksi pendapat saya berdasarkan masukan dari orang lain.

Kalau kang Asep memiliki pandangan berbeda terkait ayat2 yg saya paparkan, silakan kemukakan di sini agar kita uji. Kalau memang lebih argumentatif tentu akan saya terima.

Sebaliknya kalau kang Asep belum menemukan pendapat yg lebih baik daripada yg saya kemukakan di blog ini, ikutilah pendapat saya kalau masih mau dianggap sebagai orang yg berakal.

“Orang-orang yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang paling baik darinya. Mereka itulah orang-orang yang telah Tuhan tunjuki, dan mereka itulah orang-orang yang berakal.” (Quran 39:18)

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih