14.2.07

Ajaran Bibel dalam Islam (Bagian-1)

Ada banyak ajaran di dalam agama Islam yang sesungguhnya berasal atau terinspirasi dari doktrin Yahudi-Nasrani. Ajaran-ajaran dimaksud tidak akan ditemukan di dalam Quran, namun ia tertulis jelas di dalam Bibel. Ia masuk ke tengah-tengah umat melalui kitab-kitab hadis karangan Bukhari, Muslim, dkk yang secara dusta mengatasnamakan Nabi Muhammad (damai atasnya).

Sekurang-kurangnya ada tiga belas butir ajaran Bibel yang terpelihara di dalam tradisi Islam, yaitu: pidana mati atas orang yang berpindah agama (murtad), pidana rajam sampai mati bagi pezina, akikah, khitan (sunat), anjuran memelihara janggut, melarang perempuan haid menyentuh kitab suci dan masuk ke tempat ibadat, seruan “Amin”, pengharaman burung dan katak, larangan membuat patung makhluk hidup, persepuluhan dalam zakat, kebencian kepada ular, doktrin bahwa manusia diciptakan dalam citra Tuhan, dan doktrin kedatangan kembali Nabi Isa (damai atasnya).

1. Pidana Mati atas Orang Yang Murtad dan Yang Dianggap Sesat

Negara yang menerapkan “syariat Islam” secara ketat tidak akan menoleransi orang yang keluar dari agama Islam (murtad) dan yang dianggap sesat. Terhadap mereka yang berbuat demikian—dan tidak mau mengubah pendiriannya—hukuman mati telah menanti. Mungkin pemerintah dan ulama yang mendukung pidana mati tersebut tidak menyadari bahwa sesungguhnya yang sedang mereka terapkan itu adalah “syariat Yahudi-Nasrani”.

Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu... (Ul. 13:5)

dan yang pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, atau kepada matahari atau bulan atau segenap tentara langit, hal yang telah Kularang itu; (Ul. 17:3)

maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang telah melakukan perbuatan jahat itu ke luar ke pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu harus kaulempari dengan batu sampai mati. (Ul. 17:5)

Terakhir kasus murtad yang divonis mati di Afghanistan telah menimbulkan kegemparan pada lingkup internasional. Abdul Rahman (41 tahun) divonis mati karena keputusannya berpindah ke agama Kristen. Sebagaimana dilansir cnn.com pada tanggal 22 Maret 2006, dia pindah agama ketika bekerja untuk sebuah LSM Kristen 16 tahun yang lalu.

Para pemimpin dunia menghimbau pemerintah Afghanistan agar tidak menghukum mati Abdul Rahman. Tidak kurang Paus Benedict XVI menulis surat pribadi kepada presiden Afghanistan meminta keringanan untuk Abdul Rahman.

Kasus Abdul Rahman berakhir setelah otoritas hukum menyatakan Abdul Rahman “tidak waras”, karenanya tidak dapat dihukum. Tidak bisa dipungkiri bahwa skenario “tidak waras”nya Abdul Rahman adalah kompromi pemerintah Afghanistan menghadapi tekanan dari negara-negara sekutunya terutama Amerika Serikat.

Berbeda dengan aturan Bibel dan aturan penegak “syariat Yahudi-Nasrani”, Quran menjamin kebebasan berkeyakinan dengan menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam agama.

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas yang benar dari yang sesat …” (Quran 2:256)

Beralih dari iman menjadi ingkar adalah tindakan buruk yang dikecam Tuhan. Namun Tuhan tidak ada menetapkan pemidanaan duniawi terhadap pelakunya. Hukuman Tuhan atas mereka akan diberlakukan di akhirat kelak.

Kebebasan beragama yang ditetapkan Tuhan adalah kebebasan dalam arti sebenarnya. Prinsipnya lugas saja: telah jelas mana yang benar dan mana yang salah, silakan tetapkan pilihan Anda dan pertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan. Selesai. Ia bukanlah slogan kosong “kebebasan” yang dibayang-bayangi ancaman mati.

2. Pidana Rajam Sampai Mati bagi Pezina

Ketentuan Bibel tentang sanksi bagi pezina sangatlah barbar dan mengerikan, yaitu pelakunya dilempari batu sampai mati. Sebagaimana pidana mati untuk murtad, pidana rajam (dilempari batu) sampai mati bagi pezina termasuk salah satu yang diyakini oleh para ulama dan pakar fikih Islam meskipun Tuhan tidak pernah menetapkan syariat yang demikian di dalam Quran.

Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel. (Ul 22:22)

Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan - jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. (Ul 22:23-24)

Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu. (Im 20:10)

Saya pernah menyaksikan rekaman pelaksanaan hukum rajam di Iran yang dikirimkan oleh seorang teman melalui e-mail. Tubuh si terpidana dikafani dengan kain putih, kemudian ia digotong ke tengah-tengah lapangan untuk dikuburkan sebatas dada dalam posisi berdiri. Setelah selesai penguburan separuh badan, orang-orang mulai melemparinya beramai-ramai dengan batu yang sudah banyak berserakan di sekitar lapangan. Batu-batu tersebut mulai mencabik-cabik kain kafan yang membungkus terpidana. Seiring dengan sobeknya kafan yang sudah bercampur darah itu maka kemudian lemparan bertubi-tubi itu langsung mengena ke tubuh si terpidana. Akhirnya, lama-kelamaan si terpidana pun mati dengan kepala yang hancur! Perekam video tersebut dengan sinis mencantumkan slogan “Islam agama damai” pada rekamannya.

Pidana rajam sampai mati ini tidak dikenal di dalam Quran. Tuhan menetapkan sanksi dera (cambuk) seratus kali bagi pezina, baik laki-laki maupun perempuan.

“Perempuan yang berzina, dan lelaki yang berzina, deralah tiap-tiap seorang dari mereka berdua (dengan) seratus deraan, dan janganlah kelembutan terhadap mereka mengambil kalian dalam (melaksanakan) pembalasan Tuhan jika kalian percaya kepada Tuhan dan hari akhir, dan hendaklah menyaksikan siksaan (terhadap) mereka berdua sekelompok dari orang-orang yang percaya.” (Quran 24:2)

3. Akikah

Tradisi mengorbankan domba dalam menyambut kelahiran anak, yang dikenal dengan istilah akikah, mempunyai dasar pijakan di dalam Bibel.

Bila sudah genap hari-hari pentahirannya, maka untuk anak laki-laki atau anak perempuan haruslah dibawanya seekor domba berumur setahun sebagai sebagai korban bakaran dan seekor anak burung merpati atau burung tekukur sebagai korban penghapus dosa ke pintu Kemah Pertemuan, dengan menyerahkannya kepada imam. (Im. 12:6)

Tuhan di dalam Quran tidak pernah mensyariatkan ritual kurban dalam rangka kelahiran seorang anak. Apa yang diteladankan di dalam kitab pamungkas tersebut adalah bahwa seorang bayi yang baru lahir diberi nama yang baik, dan didoakan supaya Tuhan melindunginya dari setan.

“... Tuanku, sesungguhnya aku telah melahirkan seorang anak perempuan ... Dan sesungguhnya aku telah menamakan dia Mariam, dan sesungguhnya aku memperlindungkannya dan keturunannya kepada Engkau dari setan yang merajam.’” (Quran 3:36)

Doa di atas adalah permohonan istri Imran sesaat setelah bayi perempuannya lahir. Perempuan mulia yang dilahirkannya (Mariam) di kemudian hari melahirkan seorang manusia mulia pula, yaitu Nabi Isa.

4. Khitan (sunat)

Pada setiap musim libur sekolah banyak orang tua Muslim yang mengorbankan keriangan anak-anaknya demi pelaksanaan khitan (sunat), yaitu ritual berdarah yang didogmakan Bibel.

Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku. (Kej. 17:14)

Sungguh ironis bahwa para orang tua tersebut mengeluarkan dana yang tidak sedikit demi sebuah praktik untuk menjadikan tubuh anaknya cacat.

Tuhan di dalam Quran berfirman bahwa Dia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang bagus. Karenanya kulit khitan pada laki-laki adalah bagian dari kesempurnaan desain ciptaan Tuhan, dan bukan suatu “kelainan” yang harus disingkirkan. Ini berbeda dengan misalnya bayi yang dilahirkan dengan bibir sumbing yang dapat diusahakan menormalkannya melalui jalan operasi.

“Tuhan yang telah menjadikan untuk kalian bumi itu tempat menetap, dan langit (selaku) bangunan, dan Dia telah membentuk kalian, maka Dia membaguskan bentuk kalian, dan Dia telah merezekikan kepada kalian benda-benda yang baik. Demikian itulah Tuhan, Tuan kalian, maka berkatnya Tuhan, Tuan semesta alam.” (Quran 40:64)

Klaim bahwa mereka yang tidak dikhitan mempunyai risiko yang lebih besar untuk terkena penyakit kelamin sudah tidak relevan lagi. Temuan mutakhir di bidang kesehatan menunjukkan bahwa penyakit kelamin berkaitan erat dengan bagaimana seseorang itu memelihara kebersihan tubuhnya, dan bukan dengan dikhitan atau tidaknya yang bersangkutan.

Kulit khitan yang tidak dibersihkan dengan baik, dan kemudian menimbulkan penyakit bukan alasan untuk sedari dini mengelupaskan kulit tersebut. Sama halnya Anda tidak mengamputasi kelopak mata Anda meskipun ia bisa mengundang penyakit yang akan membahayakan mata apabila tidak cukup dibersihkan.

Paul M. Fleiss, M.D. di dalam bukunya “What Your Doctor May Not Tell You About Circumcision” mengatakan bahwa kulit khitan adalah bagian tubuh yang paling sensitif dan memiliki paling banyak saraf perasa. Masih menurut Fleiss, dampak langsung dari dibuangnya specific erogenous zone ini adalah, mereka yang dikhitan hanya bisa merasakan sensasi seksual di bawah tingkat yang senormalnya bisa dirasakan oleh seorang laki-laki. Jadi Anda tidak saja telah membuang-buang uang untuk ritual Yahudi-Nasrani tersebut, tetapi juga telah merugikan masa depan kehidupan seksual anak Anda.

5. Anjuran Memelihara Janggut

Memelihara janggut bagi kaum lelaki di dalam tradisi Islam dianggap sebagai sebuah keutamaan sekaligus simbol pembeda kaum “santri” dari kaum “abangan”.

Perintah yang menunjukkan keutamaan memelihara janggut akan kita temukan di dalam Bibel.

Janganlah kamu mencukur tepi rambut kepalamu berkeliling dan janganlah engkau merusakkan tepi janggutmu. (Im. 19:27)

Janganlah mereka menggundul sebagian kepalanya, dan janganlah mereka mencukur tepi janggutnya, dan janganlah mereka menggoresi kulit tubuhnya. (Im. 21:5)

Quran tidak ada mendalilkan keutamaan memelihara janggut ataupun anjuran memotong kumis. Jadi terserah saja akan bagaimana seseorang berbuat terhadap janggut dan kumisnya. Kalau pun ingin memelihara janggut silakan saja, sepanjang tidak menganggapnya sebagai bagian dari syariat agama.

6. Melarang Perempuan Haid Menyentuh Kitab Suci dan Masuk ke Tempat Ibadat

Masyarakat kita biasa melarang perempuan yang sedang haid dari menyentuh Quran ataupun masuk masjid. Larangan yang senada akan didapati di dalam Bibel.

Selanjutnya tiga puluh tiga hari lamanya perempuan itu harus tinggal menantikan pentahiran dari darah nifas, tidak boleh ia kena kepada sesuatu apapun yang kudus dan tidak boleh ia masuk ke tempat kudus, sampai sudah genap hari-hari pentahirannya. (Im. 12:4)

Tuhan tidak ada melarang perempuan yang sedang haid untuk menyentuh Quran maupun untuk masuk ke masjid. Ketentuan Quran tentang perempuan haid adalah berkaitan dengan larangan melakukan hubungan suami istri.

“Dan mereka menanyai engkau mengenai haid. Katakanlah, ’Ia adalah gangguan, maka jauhilah perempuan-perempuan di dalam haid itu, dan janganlah kalian mendekati mereka sehingga mereka bersih ...” (Quran 2:222)

Sebagian pihak menjadikan ayat berikut ini sebagai dasar larangan perempuan haid untuk menyentuh Quran:

“Sesungguhnya ia adalah bacaan yang mulia. Di dalam kitab yang tersimpan. Tiada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang dibersihkan.” (Quran 56:77-79)

Perhatikan frasa “kitab yang tersimpan” (kitaabin maknuun) pada ayat di atas. Jelas kitab yang dimaksud bukanlah cetakan kitab Quran sebagaimana yang kita gunakan sehari-hari, melainkan wujud gaib Quran di sisi Tuhan.

Perhatikan pula kata “yang dibersihkan” pada akhir ayat. Jelas bahwa ayat di atas tidak ada kaitannya dengan tindakan membersihkan diri setelah haid. Kata “yang dibersihkan” muncul dalam bentuk objek (maf’ul), apabila ayat di atas menyatakan bahwa perempuan haid baru boleh menyentuh Quran setelah mandi sehabis haid, maka bentukan katanya tentulah sebagai pelaku (fa’il) yaitu “membersihkan diri”. Sebutan “orang-orang yang dibersihkan” pada ayat di atas mengacu kepada malaikat-malaikat di sisi Tuhan.

…bersambung ke bagian 2

(Terakhir diperbarui: 12 Januari 2009)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

37 comments:

Anonim mengatakan...

pliz baca lagi dl bible,
(Perjanjian Lama) disitu yg dibunuh nabi palsu / penyesat ... bukan org yg berpindah agama.

soal hukum rajam bagi pezinah:
alkitab jg mengajar bukan membunuh tp mengampuni.
mengambil nyawa itu hak Tuhan bukan hak manusia.

Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
(Yohanes 8:3-11)

sakti mengatakan...

Terima kasih atas masukan anda..

Saya akan evaluasi lagi kajian tentang "murtad" versi bible, mungkin ada pasal lain yang lebih pas untuk dikutip.

Tapi untuk zina, pasal bible yang saya kutip (Ulangan, Imamat) itu sudah dengan lugas menunjukkan ketentuan pidana mati bagi pezina.

sakti mengatakan...

@Anonim
Ulangan 13 kalau ayat 5 anda baca terus sampai ayat 15 akan jelas bahwa murtad memang diancam dengan hukuman mati di dalam bible.

Supaya lebih jelasnya, saya sudah menambahkan pasal ulangan 17 ayat 3 dan ayat 5 pada tulisan di atas.

Terima kasih.

Anonim mengatakan...

Bro sakti,

Garis besarnya, Bible itu terbagi jadi 2 bagian besar, Perjanjian Lama [PL] dan Perjanjian Baru [PB]. PL adalah bagian yang lebih tua dan masih dipegang oleh orang2 yahudi sekarang, sedangkan PB ditulis tentang sejak kelahiran Yesus dan dipegang ajarannya oleh orang2 yang percaya Yesus adalah mesias dan juru selamat yang dinanti-nantikan [memang ada pengecualian dalam hal ini, tapi kebanyakan agama menyerupai yahudi/kristen yang tidak umum di indonesia].

Singkatnya, PL sudah ada sejak dahulu, sebelum kelahiran Nabi Muhammad, dan sebelum kelahiran Yesus. Seperti mulainya agama Kristen modern oleh Yesus, agama Islam pun dimulai oleh Nabi Muhammad dari suasana lingkungan masyarakat Yahudi ini, jadi ya tidak aneh kalau ada hal2 yang nyerempet2 seperti bro Sakti tulis di atas.

Patut dicatat, orang2 yang memegang ajaran PB tidak lagi menganggap PL sebagai hukum yang baku, karena PB yang mengajarkan hukum kasih sudah berlaku. Contoh: PL -> Mata balas mata. PB -> Kalau ditampar pipi kiri, kasi pipi kanan. PL -> musuh dibantai dalam perang. PB -> kasihilah musuhmu.

Semoga berguna =D

NB: Gw bukan Kristen ato Muslim, tapi karena background family gw, agama yang paling banyak gw baca ya itu dua. Untuk sekarang ini gw masih percaya Tuhan itu ada [gak tau yah kalo berapa taon lagi gw berubah] tapi gw enjoy artikel2nya bang sakti, keep writing! =D kalo gak sempet reply, gw ngerti hehe

Regards,
W. Adriano

Fikri mengatakan...

Aturan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama tersebut yang banyak orang non kristen tidak tahu. Padahal jelas2 tertulis bahwa PB lah yang menjadi landasan utama kekristenan, PL adalah semacam background dari keadaan sebelum Kekristenan ada

Anonim mengatakan...

Iman tanpa Ilmu bagaikan pelita ditangan anak kecil

ilmu tanpa iman bagaikan pisau ditangan penjahat

Kohvenk mengatakan...

Yesus datang untuk membayar lunas lewat kayu salib bagi ikatan2 / aturan2 yang tertera dalam hukum taurat s/d Perjanjian Lama untuk umatNya (Yesus di jaman Perjanjian Baru)...Telaahan anda bagus namun perlu di garis bawahi Perjanjian Lama - nya karena aturan2 tersebut tidak berlaku secara mutlak pada era keKristenan sekarang (Hukum Kasih)...trims

asep s mengatakan...

Salam,

Sebelumnya saya mohon maaf mungkin komentar saya agak menyimpang dari topik,

Begini,menarik sekali apa yang disampaikan oleh "anonim" pada awal komentar topik yang sedang dibahas di atas.

Mengutip ayat yang terdapat pada Yohanes 8:3-11,maka seharusnya orang-orang kristen juga tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan melainkan sebagai manusia (yang dijadikan Tuhan sebagai Nabi dan Rosul),kenapa?...Pada kasus di atas Yesus tidak menghukum perempuan itu,kata Yesus "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu".Maka pergilah orang-orang yang ada disitu,karena sebagai manusia, mereka merasa tidak mungkin tidak punya dosa.

Nah terakhir Yesus pun tidak menghukum!Kenapa?.. karena merasa diri sebagai manusia yang juga tak luput dari salah dan dosa.

Terima kasih.

WildGrash mengatakan...

Ada 2 (dua) kelompok yang saling menghalalkan untuk meminum darah nya satu sama lain. Ada satu (1) orang bijak yang bertanya pada 2 kelompok tadi, dengan 1 pertanyaan yang sama. Begini pertanyaan itu : "Pada saat Nabi Musa As. (Moses) hidup, Moses (nabi Musa As) menemukan Tuhan-nya, apakah Tuhan Nabi Musa As (Moses) saat itu menjadi Tuhan Anda sekarang ini? Apakah Tuhan yang Anda sembah sekarang, adalah Tuhan Moses (Nabi Musa As) juga ??". Andaikan pertanyaan yang sama diajukan pada Anda, apakah jawaban Anda ??

Jun Herbert Manalu, Medan mengatakan...

Hai Saudaraku....sadarlah...
Iman itu bukan untuk diperdebatkan. Apapun agamamu berhentilah saling menghujat dan saling mencari keselahan2 agama lain. Jikalau agama kita mengajarkan kebaikan, lalu kenapa kita saling menghujat dan saling melecehkan agama lain. sudahkah kamu punya iman sebesar biji sawi maka kamu berani menghujat. Ketahuilah Saudara2 ku, ketika kita menhujat agama saudara2 kita yang lain itu pertanda iman kita yang tipis..

Anonim mengatakan...

syalom, sebelumnya minta maaf, saya rasa pendapat saudara asep didasari hermonitik yang keliru karena berdasar perasaan atau pendapat pribadi saja.. tidak berdasar pada standart teologis,historis,atau yang lainya yang menjadi ukuran suatu hipotesis..jadi tidak perlu diresponi secara signifikan karena bisa menggiring keluar dari topik artikel ini... trims..

Anonim mengatakan...

sebenarnya agama islam itu dari agama tauhid(agama nenek moyang muhammad) dari ibrohim yg sudah banyak di selewengkan oleh masyarakat waktu itu....yahudi-nasroni-islam tu ga jauh beda aturanya....bahkan mungkin sama, cuma cara penerapanya saja yang berbeda....

hamba mengatakan...

Dalam Kristen dikenal tiga fase kerja Tuhan. PL, merupakan cara kerja Tuhan dengan cara keras. PB awal, Tuhan dengan kasih dan lembut melalui Yesus Kristus. Terakhir, masa kini, bekerja dengan kasih melalui limpahan Roh Kudus agar manusia mau meneladani.

Semoga melengkapi Bang Sakti.

Revort's mengatakan...

Setuju banget deng pendapat Jun Herber Manalu...
Agamamu untukmu....Agamaku untukku gitu aja...

Anonim mengatakan...

walah klo mau debat akan sulit ditemukan jalan keluarnya karena masing-masing merasa dirinya benar. menurut saya kenapa ga di baca dulu keseluruhan kitabnya, jangan hanya mengutip satu atau dua ayat saja karena konteks yang berbeda akan menjurumuskan penafsiran.

Kamulya mengatakan...

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Qur'an Surat Ali Imran: 67)

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (QS. An Nisaa : 125)

Tapi tidak ada hujatan bagi saya bagi yang non muslim karena :

Bagimu adalah Agamamu dan bagiku adalah Agamaku (QS Al Kaafiruun : 6)

Anonim mengatakan...

great article,nice bro....

Cakung mengatakan...

Masih ada aja orang yg ngaku rasul setelah Nabi Muhammad....wkwkwkwk
debat yuk sama gua sakti

Mehdi-Bandung mengatakan...

Bahan Renungan :

1). Sorang Hindu yang awam lalu berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhannya tentunya dengan cara-cara Hindu . Selanjutnya bila akhirnya dia merasa doanya terkabul maka menyebabkan dia semakin yakin dengan Agama Hindu yang ianutnya . Perhatikan bahwa esensi cerita tersebut SAMA PERCIS terjadi pada pemeluk agama lain . Pengalaman terkabulnya doa-doa adalah suatu jenis Pengalaman Spiritual.
Pengalaman Spiritual bentuka lain , sebagai contoh adalah sbb :
a). Mimpi Bertemu dengan Yesus - Bunda Maria - Malaikat bagi Pemeluk Nasrani
b). Mimpi bertemu dengan Wali - Nabi Khidir - Rasullulah - Sunan Kalijaga dll bagi Muslim
c). Mimpi bertemu dengan Sang Budha ( Sidharta ) bagi pemeluk Budha . Dan lain-lain .
Bisa juga dia merasakan kejadian yang dialaminya itu sangat nyata dan sungguh bukan mimpi .
Ketahuilah bahwa semakin sering seseorang mengalami Pengalaman Spiritual apapun bentuknya maka akan menyebabkan SEMAKIN KUAT IMAN ORANG TERSEBUT , ini berlaku pada Agama apapun . Bahkan banyak kejadian seorang Muslim yang awam lalu beberapa kali ke Gereja berdoa lalu merasa doanya terkabul dan akhirnya jadilah dia pemeluk Nasrani yang Sholeh . Kita mau bilang apa ?
Dari sisi Islam orang tersebut telah MURTAD .
Dari sisi Nasrani : Tangan Tuhan telah menyelamatkannya . Hal yang sama terjadi kasus kebalikannnya .
Ringkas cerita esensi point pertama ini mestinya menggugah kesadaran kita semua yang sering kali SANGAT EGOIS MAU MENANG SENDIRI , ya tentu saja kita tak menyadarinya .
2). Tidak ada Risalah suci dari para Nabi atau orang suci dari Agama apapun yang tak terdistorsi . Distorsi ini hal yang wajar karena kurun waktu yang sungguh relatif sangat panjang sampai kepada kita hari ini . Distorsi bisa bermacam bentuk , misal :
a) Distorsi Textual , artinya text suci itu berubah dari aslinya Al-Quran diklaim oleh Muslim bahwa secara texttual dijamin tak berubah atau dijamin ASLI
b) Distorsi penafsiran .
Siapa yang berani menjamin bahwa penafsiran si A adalah yang tepat dan sama 100 persen dengan
yang dimaksud Tuhan ? Atau sama percis dengan yang dimaksud Nabi atau orang suci Sang Pembawa Risalah . Menafsirkan suatu Ayat suci pada Agama apapun sungguh tak mudah .Menafsirakan juga perlu pemahaman back-ground kejadian sehingga konteknya jelas belum lagi masalah Tatabahasa yang tak sederhana .Distorsi Penafsiran juga terjadi karena kepentingan politik dimasa lampau yang melanjutkan penyebaran Risalah .
Ringkas cerita meskipun Kitab suci itu asli secara Textual tapi masih ada masalah Penafsiran yang faktanya beragam .
Saya punya teman Muslim dan dia mengaku telah mengalami berganti cara fikih Sholat hingga 24 kali .Dia bingung ,dia bilang haruskah saya terus mencari fikih sholat yang benar ? akhirnya dia jenuh juga .
3). Tanyakan kepada Pemeluk Agama apapun berapa jumlah Tuhan mereka ? Sungguh saya telah mencobanya .Ternyata tak satupun Pemeluk Agama apapun yang rela divonis Tuhannya lebih dari SATU . Semua Agama mengklaim BERTUHAN SATU . YANG BERBEDA HANYA PADA MODEL SAJA .
Masing-masing Agama punya filsafat Ketuhanan yang unik dalam menjelaskan KE-ESAAN TUHANnya .
4). Ketahuilah bahwa kita semua lebih sering menilai orang lain - kelompok lain dengan kaca mata kita sendiri atau dengan kaca mata Keyakinan kita . Adil kah cara seperti itu ?
Sesungguhnya bila kita telah cukup mempelajari Risalah suatu Agama tertentu barulah kita bisa lebih arif berkomentar mengenai Agama tersebut .
Fakta juga jelas tak terbantahkan bahwa kita memeluk suatu Agama sesuai dengan Agama yang dianut orang tua kita.
Tak ada waktu - tak mau repot - merasa tak perlu membandingkan dulu dengan Agama - Agama lain .
Sangat-sangat sedikit jumlah orang yang berpindah Agama dalam hidupnya .
Coba renungkan apakah cukup dengan mengikuti orang tua kita adalah tindakan yang bijaksana ?
Padahal masalah pilihan Spiritual semua sepakat hal itu masalah SUPER PENTING !!!
BENAR KAH SELAMA INI YANG KITA CARI KEBAHAGIAAN SEJATI ??? Jujurlah pada diri sendiri !!!

TERIMA KASIH TELAH MEMBACA RENUNGANKU .

Anonim mengatakan...

SELAMAT YA, ANDA SUKSES MENUAI PERDEBATAN. ENTAH APA YANG ANDA COBA SAMPAIKAN KE FORUM....

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Fikri & Kohvenk: Saya sadar Bible tidak bisa sepenuhnya dinisbatkan kepada agama Kristen, makanya judul tulisan saya ini "Ajaran Bible..." bukan "Ajaran Kristen..."

@Asep: Salam.
Penalaran yang menarik. Dan benar, yesus bukan Tuhan. Beliau adalah seorang nabi dan rasul.

@Mehdi-Bandung: Saya sepandangan bahwa untuk menggapai kebenaran itu orang harus berani mempertanyakan keyakinannya sendiri.

@Anonim: Yang saya coba sampaikan ke forum adalah, "umat Islam" hendaknya sadar bahwa mereka telah mengambil kitab lain dan meninggalkan Quran.

Dedi Surya Harahap mengatakan...

Dedi Surya Harahap
--> Agama mu untuk mu dan agama ku Untuk Ku, menjelekkan, mensalahkan, merendahkan agama Lain menunjukan sikap bodoh, rendahan, tidak mengerti agama sendiri,dan tidak pantas punya agama/keyakinan. agama bukan bahan untuk debat dan pertentangan.

JING mengatakan...

@Harahap, bahasa Anda aneh, "mensalahkan" :(( Bikin puyeng.
Yang ingin mendebat dan mempertentangkan siapa?
Rasul Sakti cuma mengulas saja kok. Namanya juga ilmu... Anda suka silakan diambil, ndak suka ya dibuang saja.

ZASA mengatakan...

wow... Anda sangat Jenius Pak Sakti.
sudah pantaslah klo Anda menjadi Utusan...

Anonim mengatakan...

innalillahi wa inna illaihi rajiun...

joni mengatakan...

Rosul jaman sekarang punya Blog n Maen Fesbuk.....Apa kata Dunia...???????

Sakti A. Sihite mengatakan...

@ZASA: Puji Tuhan, pemilik segala kecerdasan. Saya sudah pernah singgung di blog ini bahwa kerasulan itu sepenuhnya atas kehendak Tuhan, bukan ukuran "pantas-tidak pantas"

@Joni: Jadi anda masih berpikir bahwa seorang rasul harusnya menunggang unta..??

apul mengatakan...

Om.. sudah baca bible seutuhnya... berapa kali...?
sudah baca Quran seluruhnya... berapa kali..?

Adakah perbedaannya...? sebagai seorang yang diberi Rahmat seharusnya om bukanya mencari persamaan tapi katakan yang Benar adalah Benar dan yang Salah adalah Salah....

Quran dan Bible adalah hal yang berbeda... Menurut Om yang mana yang lebih benar....? saya lagi bimbang Om... Mohon penjelasannya....

wassalam

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Apul: Mungkin anda hanya baca sekilas saja tulisan saya, makanya anda punya persepsi demikian.

Ya, Quran dan Bible jelas berbeda. Butir2 kesamaan yang saya uraikan di sini tidak ada di dalam Quran, tapi adanya di dalam ajaran "ulama" dan hadis.

Silakan baca dulu dengan cermat dan lengkap bagian 1 dan 2, sehingga anda paham inti pesan saya yang sebenarnya.

Salam

dundee mengatakan...

@ All
Jadi pengen cepet" kiamat deh. Karena pada saat itu akan terjawab semuanya.. Semoga anda" semua adalah hambaNya yang BERIMAN, bukan yg muslim, yg nasrani,yg budha,yg hindu dan lain"..

Anonim mengatakan...

kalo kau berbuat dosa pentungan pantas bagi punggungmu, kalo kau berbuat baik mungkin kamu juga akan mendapatkan kebaikan...tapi... apakah gunanya dan untungnya semua itu bagi Tuhan... apakah ada yang mencariNya dengan segenap hati dan menemukanNya...kalo tidak mencariNya...hanya akan ketemu orang buta menuntun orang buta...

Pasak mengatakan...

Apakah kata bible mengacu kepada ajaran Jews Of Khazaria dan bercampur dng ajaran Talmud? Karena kata Bible sebenarnya diambil dari kata Babel/Babil/ Babilonia/ Kaum Tsamud / Keturunan Qanthura ( Istri ketiga Ibrahim a.s. Sdg talmud sendiri adalah apa yg diajarkan oleh Harut dan Marut.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Pasak: Saya tidak tahu.

THe-Best mengatakan...

Berdasarkan penafsiran Yohanes sendiri pada ayat 1 di atas, kata roh adalah sama dengan kata nabi. Jadi ayat 2 'Roh Allah' akan berarti 'Nabi Allah' dan 'setiap roh' sama dengan 'setiap nabi'. Anda berhak mengetahui apa yang dikatakan Muhammad tentang "Yesus Kristus".

Yesus Kristus disebut namanya tidak kurang dari 25 kali dalam Al-Qur'an. Beliau dihormati sebagai:



Isa Ibnu Maryam
(Yesus, anak Maria)

As-Saaliihiin
(Orang yang Shaleh)

Kalimatullah
(Kalimat Allah)

Ruhullah
(Roh Allah)

Masihullah
(Juru Selamat Allah)

Nandito mengatakan...

Pak Sakti, jika diliat dari 2 tulisan anda yang membahas hal ini, apakah bisa saya simpulkan bahwa untuk hal2 yang anda sebutkan diatas pada kondisi kehidupan praktek beragama umat muslim dan umat kristen saat ini, umat muslim lebih "bibleaniah/alkitabiah" dan umat kristen lebih "quraniah" ?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Nandito: Menurut saya umat Kristen tidak "Quraniah" :)

Nandito mengatakan...

Hehe, iya, umat kristen emang tidak Quraniah pak, maksud saya adalah di poin2 yg bapak sampaikan diatas, umat kristen malah menjalankan apa yang ditulis di quran, contohnya di poin 1, Pidana Mati atas Orang Yang Murtad dan Yang Dianggap Sesat, setau saya tidak dilakukan oleh umat kristen saat ini, jadi sesuai dong dng “Tidak ada paksaan dalam agama. Telah jelas yang betul dari yang salah…” (Quran 2:256)
Poin2 seperti akikah, sunat, janggut, haid, dst juga malah tidak dilakukan tuh sama umat kristen, jadi sesuai dong dng penafsiran quran versi bapak...

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih