13.8.07

Sidratil Muntaha

“Sidratil Muntaha” adalah sebuah elemen yang melengkapi tradisi cerita mi’raj Nabi Muhammad (damai atasnya) menembus langit. Adanya penyebutan “sidratil muntaha” di dalam Quran oleh sebagian orang dijadikan landasan untuk menguatkan kebenaran cerita mi’raj tersebut.

Dalam mengkaji keterkaitan antara “sidratil muntaha” dengan cerita mi’raj, pertama-tama kita simak ayat yang menyebut “sidratil muntaha” ini lewat terjemahan Quran bahasa Indonesia versi Departemen Agama RI edisi tahun 2007.

“Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal” (Quran 53:13-15)

Untuk ayat ke-14 ada catatan kaki yang berbunyi:
“Sidratil muntaha yaitu tempat yang paling atas pada langit yang ke-7, yang telah dikunjungi Nabi saw ketika Mi’raj.”

Selanjutnya kita simak kembali ayat yang sama namun melalui terjemahan versi lain.

“Dan sungguh dia telah melihatnya (pada) penurunan yang lain, di sisi pohon bidara paling ujung, di sisinya kebun tempat menginap” (Quran 53:13-15)

Dua terjemahan di atas meninggalkan kesan yang berbeda kepada pembacanya meskipun ia menerjemahkan ayat yang sama. Penyebabnya ada pada diterjemahkannya kata “sidr” dan “muntaha” serta ketepatan penerjemahan kata “jannah”.

“Sidr” artinya pohon bidara, atau lote-tree dalam bahasa Inggrisnya. Tim penerjemah Quran bahasa Indonesia Departemen Agama pasti mengetahui bahwa “sidr” berarti pohon bidara, hal itu terbukti ketika mereka menerjemahkan ayat 56:28 yang juga mengandung kata “sidr”.

“Mereka berada di antara pohon bidara (sidrin) yang tidak berduri.” (Quran 56:28)

Tapi mengapa kata “sidr” pada ayat 53:14 yang memuat istilah “sidratil muntaha” tidak diterjemahkan? Apakah tim penerjemah khawatir bahwa istilah “sidratil muntaha” yang sudah dianggap sakral akhirnya akan disadari sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja bila terjemahannya dibeberkan?

“Muntaha” artinya adalah batas akhir/ujung (ref: kamus Al-Munawwir hal. 1472).

“Jannah” artinya kebun/taman. Tempat kebahagiaan di akhirat yang dijanjikan Tuhan, yang biasa kita sebut sebagai surga, adalah juga kebun (jannah). Namun kata “jannah” itu sendiri tidak khusus untuk menyebut surga di akhirat. Jannah adalah istilah umum untuk menyebut kebun/taman, sebagaimana contohnya pada ayat berikut:

“Dan dia telah masuk ke kebunnya (jannatahu), sedang dia menzalimi dirinya sendiri; dia berkata, ’Tiadalah aku menyangka bahwa ini akan binasa selamanya’” (Quran 18:35)

Kembali ke ayat “sidratil muntaha”. Dengan mencermati ayat-ayat sebelum maupun sesudahnya, menjadi jelas bahwa rangkaian ayat tersebut sedang menceritakan cuplikan penurunan wahyu oleh Jibril kepada Nabi Muhammad.

Pada suatu kesempatan, Nabi melihat Jibril di horizon yang tinggi, lalu Jibril turun mendekat sampai jarak dua busur panah, dan mewahyukan pesan Tuhan kepada Nabi Muhammad. Pada kesempatan lain Nabi Muhammad kembali menyaksikan turunnya Jibril. Kali ini lokasinya adalah di pohon bidara paling ujung (sidratil muntaha) yang di sisi pohon bidara itu ada kebun tempat menginap (jannatul ma’wa).

Konteks dari semua kejadian turunnya Jibril yang dialami oleh Nabi Muhammad itu tentu saja terjadinya di bumi ini, bukan di atas langit!

“Yang telah mengajar dia, yang sangat kekuatannya. Yang mempunyai kekuatan; dan dia di horizon yang paling tinggi. Kemudian dia mendekat dan turun, maka dia (berjarak) ukuran dua busur panah, atau lebih dekat. Kemudian dia mewahyukan kepada hamba-Nya, apa yang Dia wahyukan. Tiadalah hatinya berdusta pada apa yang dia telah lihat. Apakah kalian meragukan dia atas apa yang dia lihat? Dan sungguh dia telah melihatnya (pada) penurunan yang lain, di sisi pohon bidara paling ujung, di sisinya kebun tempat menginap. Ketika menyelimuti pohon bidara itu sesuatu yang menyelimuti. Tiadalah penglihatannya menyimpang, dan tiadalah dia melampaui batas.” (Quran 53:5-17)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

0 comments:

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih