Hari demi hari di dalam kehidupan dunia ini sesungguhnya menuju kepada sebuah Hari Agung yang telah dijanjikan Tuhan.
Hari dimaksud memiliki banyak sebutan di dalam Quran, di antaranya: Hari Akhir, Hari Kebangkitan, Hari Pertemuan, Hari Berkumpul, Hari Penyesalan, Hari Perhitungan, Hari Pembalasan, dan Hari Yang Kekal.
Berbagai macam sebutan tersebut cukup menggambarkan sifat dan keadaan hari-hari Tuhan, serta urusan apa-apa saja yang akan dilaksanakan pada waktu itu.
Kitab Tuhan menceritakan bahwa pada hari itu langit terpecah, matahari digulung, dan terjadi gerhana. Manusia terpana, merasa heran akan apa yang sedang terjadi.
Bumi berguncang hebat, mengeluarkan segala apa yang dikandungnya dan membuat kubur-kubur terbongkar. Gunung-gunung hancur berhamburan, permukaan bumi menjadi rata tanpa ada dataran yang tinggi atau yang rendah.
Meteor-meteor menghunjami bumi yang sudah tidak lagi dilindungi atmosfer, air laut mendidih meluap-luap. Tersadarlah manusia bahwa peristiwa yang maha dahsyat sedang mendatangi mereka.
Penderitaan pada Hari itu teramat berat sehingga ibu-ibu yang menyusui meninggalkan bayinya, kandungan perempuan-perempuan berguguran, dan anak-anak mendadak beruban. Orang-orang terlihat mabuk padahal mereka tidak mabuk, hebatnya peristiwa keguncangan lah yang menjadikan mereka seperti itu.
Sangkakala pun ditiup. Seluruh yang ada di langit dan di bumi tersentak mati, kecuali siapa yang Tuhan kehendaki.
Kemudian sangkakala ditiup untuk yang ke dua kalinya. Tuhan melemparkan kembali tiap-tiap ruh kepada jasadnya; tubuh-tubuh yang sudah terurai hancur kembali tersusun menjadi manusia utuh, bangkit menghadap pengadilan Tuhan.
Manusia dari segala zaman dikumpulkan semuanya tanpa ada seorangpun yang tertinggal. Sedemikian banyaknya manusia memadati permukaan bumi sehingga seakan-akan mereka itu belalang yang bertaburan.
Manusia-manusia yang baru saja terbangun dari ”tidur” itu akan merasakan relativitas waktu. Mungkin di dalam mimpi kita pernah mengalami peristiwa yang rasanya terjadi selama beberapa hari dan setelah terjaga kita baru sadar bahwa ”peristiwa” itu sebenarnya hanya berlangsung beberapa jam atau bahkan beberapa menit saja. Begitu pula kehidupan di dunia ini yang rata-rata manusia menjalaninya sekitar 60 sampai dengan 70 tahun, pada saat nanti kita terjaga dengan kesadaran baru di kehidupan yang akan datang semua ini akan terasa berlangsung satu hari saja.
Pandangan mata manusia pada hari itu sangat tajam. Kerajaan langit beserta malaikat-malaikat yang semasa hidup di dunia tertabir dari penglihatan pada hari itu akan tampak dengan nyata.
Pengadilan Tuhan segera ditegakkan. Tiap manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing. Seorang sahabat tidak akan menanyakan sahabatnya, dan antara sanak saudara tidak akan saling mempedulikan. Urusan pada hari itu sudah sangat berat bagi masing-masing orang.
Seluruh manusia akan digiring berbaris menuju kawah Jahanam yang melontarkan bunga-bunga api setinggi istana, dan diliputi angin yang membakar serta asap hitam. Mereka berlutut di sekelilingnya menunggu dipanggil untuk menerima buku perhitungannya.
Sebagian manusia akan menerima buku perhitungannya di tangan kanan, dan sebagian yang lain akan menerima buku perhitungannya di tangan kiri atau dari belakang punggungnya.
Mereka yang diberi buku perhitungan di tangan kanan adalah orang-orang yang percaya dan berwaspada, yang sejak di dunia sudah menyangka akan adanya perhitungan ini. Mereka mendapatkan penghitungan yang mudah dan kembali kepada keluarga mereka dengan gembira. Mereka diselamatkan dari tempat itu untuk menuju kebun-kebun yang tinggi.
Mereka yang diberi buku perhitungan di tangan kiri atau dari belakang punggungnya dulu yakin bahwa kematian akan menamatkan segalanya, dan tidak menyangka bahwa Hari Perhitungan ini akan benar-benar ada.
Mereka didera penyesalan setelah melihat siksaan di hadapan mereka. Bagi mereka itu adalah hari pembuktian kesialan mereka, karena siksaan yang ketika di dunia mereka jadikan bahan olok-olok akhirnya benar-benar mereka temui.
Belenggu yang diikat rantai dipasangkan pada leher mereka, lalu mereka diseret pada muka mereka ke dalam air yang mendidih. Di dalamnya mereka dibakar dengan api yang panasnya naik sampai ke jantung, dan dikucurkan dengan air yang mengelupaskan kulit kepala. Setiap kali kulit mereka hangus, Tuhan menumbuhkan kembali kulit baru supaya mereka terus merasakan pedihnya siksaan itu.
Kehidupan mereka dinaungi oleh penjaga-penjaga yang bengis, dan siksaan cambuk besi. Kawah penyiksaan dipenuhi dengan suara erangan dan keluhan. Mereka memohon agar siksaan diringankan barang sehari, atau kalau bisa mereka dibinasakan saja. Namun permohonan mereka pada waktu itu hanya akan dianggap angin lalu. Siksaan mereka tidak akan diringankan barang sehari pun, dan mereka akan dibiarkan terus hidup untuk menjalaninya.
Golongan kawah api tidak mendapatkan apapun yang bisa diminum kecuali air mendidih yang memotong usus, dan nanah. Tidak mendapatkan apapun yang bisa dimakan selain pohon berduri yang tidak menghilangkan lapar, dan pohon Zaqum yang mayangnya seperti kepala-kepala setan.
Itulah akhir nasib mereka yang ketika di dunia menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Tuhan, memperolok-olok utusan-Nya, dan mendustakan Hari Akhir. Mereka kekal di dalamnya dan tidak sekali-kali akan dikeluarkan.
Di lain pihak, golongan yang akan memasuki kebun kenikmatan bersuka cita. Mereka disambut oleh ucapan selamat dari para malaikat.
Kebun kenikmatan yang disediakan untuk orang-orang yang berwaspada tersebut luasnya seluas langit dan bumi. Keadaannya teduh, tidak ada terik matahari dan tidak ada pula dingin yang menusuk.
Dipenuhi dengan mata air-mata air, kebun-kebun anggur, dan pohon buah-buahan yang tandannya rendah sehingga mudah dipetik. Sungai-sungai mengalir di bawahnya.
Penghuninya disediakan istana-istana dengan kamar-kamar yang tinggi. Mereka berpakaian sutera hijau dan diperhiaskan dengan emas dan mutiara.
Kepada mereka disajikan apa-apa yang mereka inginkan: daging burung, buah-buahan, dan minuman-minuman yang bersih di dalam bejana-bejana perak dan piala-piala kristal.
Di dalam kebun kenikmatan itu mereka dipasangkan dengan gadis-gadis pingitan bermata lebar dan berbuah dada penuh yang tidak pernah dijamah oleh manusia ataupun oleh jin sebelumnya. Cantik jelita bagaikan yakut dan marjan.
Para penghuni kebun kenikmatan menjalani kebahagiaan mereka tanpa ada mengenal lelah. Bercengkerama berhadap-hadapan di atas sofa yang dianyam, dan bantal-bantal sandaran. Anak-anak abadi berkeliling di sekitar mereka laksana mutiara yang bertaburan.
Perasaan dendam dicabut dari dalam hati mereka, dan mereka satu sama lain merasa seperti bersaudara. Di dalamnya hanya ada kedamaian yang kekal, tidak ada terdengar dusta atau ucapan sia-sia.
Itulah akhir nasib mereka yang di dalam kehidupan dunia beriman, berwaspada, serta mengerjakan kebaikan. Tuhan puas terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas kepada Tuhan.
Share on Facebook
Hari dimaksud memiliki banyak sebutan di dalam Quran, di antaranya: Hari Akhir, Hari Kebangkitan, Hari Pertemuan, Hari Berkumpul, Hari Penyesalan, Hari Perhitungan, Hari Pembalasan, dan Hari Yang Kekal.
Berbagai macam sebutan tersebut cukup menggambarkan sifat dan keadaan hari-hari Tuhan, serta urusan apa-apa saja yang akan dilaksanakan pada waktu itu.
Kitab Tuhan menceritakan bahwa pada hari itu langit terpecah, matahari digulung, dan terjadi gerhana. Manusia terpana, merasa heran akan apa yang sedang terjadi.
Bumi berguncang hebat, mengeluarkan segala apa yang dikandungnya dan membuat kubur-kubur terbongkar. Gunung-gunung hancur berhamburan, permukaan bumi menjadi rata tanpa ada dataran yang tinggi atau yang rendah.
Meteor-meteor menghunjami bumi yang sudah tidak lagi dilindungi atmosfer, air laut mendidih meluap-luap. Tersadarlah manusia bahwa peristiwa yang maha dahsyat sedang mendatangi mereka.
Penderitaan pada Hari itu teramat berat sehingga ibu-ibu yang menyusui meninggalkan bayinya, kandungan perempuan-perempuan berguguran, dan anak-anak mendadak beruban. Orang-orang terlihat mabuk padahal mereka tidak mabuk, hebatnya peristiwa keguncangan lah yang menjadikan mereka seperti itu.
Sangkakala pun ditiup. Seluruh yang ada di langit dan di bumi tersentak mati, kecuali siapa yang Tuhan kehendaki.
Kemudian sangkakala ditiup untuk yang ke dua kalinya. Tuhan melemparkan kembali tiap-tiap ruh kepada jasadnya; tubuh-tubuh yang sudah terurai hancur kembali tersusun menjadi manusia utuh, bangkit menghadap pengadilan Tuhan.
Manusia dari segala zaman dikumpulkan semuanya tanpa ada seorangpun yang tertinggal. Sedemikian banyaknya manusia memadati permukaan bumi sehingga seakan-akan mereka itu belalang yang bertaburan.
Manusia-manusia yang baru saja terbangun dari ”tidur” itu akan merasakan relativitas waktu. Mungkin di dalam mimpi kita pernah mengalami peristiwa yang rasanya terjadi selama beberapa hari dan setelah terjaga kita baru sadar bahwa ”peristiwa” itu sebenarnya hanya berlangsung beberapa jam atau bahkan beberapa menit saja. Begitu pula kehidupan di dunia ini yang rata-rata manusia menjalaninya sekitar 60 sampai dengan 70 tahun, pada saat nanti kita terjaga dengan kesadaran baru di kehidupan yang akan datang semua ini akan terasa berlangsung satu hari saja.
Pandangan mata manusia pada hari itu sangat tajam. Kerajaan langit beserta malaikat-malaikat yang semasa hidup di dunia tertabir dari penglihatan pada hari itu akan tampak dengan nyata.
Pengadilan Tuhan segera ditegakkan. Tiap manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing. Seorang sahabat tidak akan menanyakan sahabatnya, dan antara sanak saudara tidak akan saling mempedulikan. Urusan pada hari itu sudah sangat berat bagi masing-masing orang.
Seluruh manusia akan digiring berbaris menuju kawah Jahanam yang melontarkan bunga-bunga api setinggi istana, dan diliputi angin yang membakar serta asap hitam. Mereka berlutut di sekelilingnya menunggu dipanggil untuk menerima buku perhitungannya.
Sebagian manusia akan menerima buku perhitungannya di tangan kanan, dan sebagian yang lain akan menerima buku perhitungannya di tangan kiri atau dari belakang punggungnya.
Mereka yang diberi buku perhitungan di tangan kanan adalah orang-orang yang percaya dan berwaspada, yang sejak di dunia sudah menyangka akan adanya perhitungan ini. Mereka mendapatkan penghitungan yang mudah dan kembali kepada keluarga mereka dengan gembira. Mereka diselamatkan dari tempat itu untuk menuju kebun-kebun yang tinggi.
Mereka yang diberi buku perhitungan di tangan kiri atau dari belakang punggungnya dulu yakin bahwa kematian akan menamatkan segalanya, dan tidak menyangka bahwa Hari Perhitungan ini akan benar-benar ada.
Mereka didera penyesalan setelah melihat siksaan di hadapan mereka. Bagi mereka itu adalah hari pembuktian kesialan mereka, karena siksaan yang ketika di dunia mereka jadikan bahan olok-olok akhirnya benar-benar mereka temui.
Belenggu yang diikat rantai dipasangkan pada leher mereka, lalu mereka diseret pada muka mereka ke dalam air yang mendidih. Di dalamnya mereka dibakar dengan api yang panasnya naik sampai ke jantung, dan dikucurkan dengan air yang mengelupaskan kulit kepala. Setiap kali kulit mereka hangus, Tuhan menumbuhkan kembali kulit baru supaya mereka terus merasakan pedihnya siksaan itu.
Kehidupan mereka dinaungi oleh penjaga-penjaga yang bengis, dan siksaan cambuk besi. Kawah penyiksaan dipenuhi dengan suara erangan dan keluhan. Mereka memohon agar siksaan diringankan barang sehari, atau kalau bisa mereka dibinasakan saja. Namun permohonan mereka pada waktu itu hanya akan dianggap angin lalu. Siksaan mereka tidak akan diringankan barang sehari pun, dan mereka akan dibiarkan terus hidup untuk menjalaninya.
Golongan kawah api tidak mendapatkan apapun yang bisa diminum kecuali air mendidih yang memotong usus, dan nanah. Tidak mendapatkan apapun yang bisa dimakan selain pohon berduri yang tidak menghilangkan lapar, dan pohon Zaqum yang mayangnya seperti kepala-kepala setan.
Itulah akhir nasib mereka yang ketika di dunia menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Tuhan, memperolok-olok utusan-Nya, dan mendustakan Hari Akhir. Mereka kekal di dalamnya dan tidak sekali-kali akan dikeluarkan.
Di lain pihak, golongan yang akan memasuki kebun kenikmatan bersuka cita. Mereka disambut oleh ucapan selamat dari para malaikat.
Kebun kenikmatan yang disediakan untuk orang-orang yang berwaspada tersebut luasnya seluas langit dan bumi. Keadaannya teduh, tidak ada terik matahari dan tidak ada pula dingin yang menusuk.
Dipenuhi dengan mata air-mata air, kebun-kebun anggur, dan pohon buah-buahan yang tandannya rendah sehingga mudah dipetik. Sungai-sungai mengalir di bawahnya.
Penghuninya disediakan istana-istana dengan kamar-kamar yang tinggi. Mereka berpakaian sutera hijau dan diperhiaskan dengan emas dan mutiara.
Kepada mereka disajikan apa-apa yang mereka inginkan: daging burung, buah-buahan, dan minuman-minuman yang bersih di dalam bejana-bejana perak dan piala-piala kristal.
Di dalam kebun kenikmatan itu mereka dipasangkan dengan gadis-gadis pingitan bermata lebar dan berbuah dada penuh yang tidak pernah dijamah oleh manusia ataupun oleh jin sebelumnya. Cantik jelita bagaikan yakut dan marjan.
Para penghuni kebun kenikmatan menjalani kebahagiaan mereka tanpa ada mengenal lelah. Bercengkerama berhadap-hadapan di atas sofa yang dianyam, dan bantal-bantal sandaran. Anak-anak abadi berkeliling di sekitar mereka laksana mutiara yang bertaburan.
Perasaan dendam dicabut dari dalam hati mereka, dan mereka satu sama lain merasa seperti bersaudara. Di dalamnya hanya ada kedamaian yang kekal, tidak ada terdengar dusta atau ucapan sia-sia.
Itulah akhir nasib mereka yang di dalam kehidupan dunia beriman, berwaspada, serta mengerjakan kebaikan. Tuhan puas terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas kepada Tuhan.
Share on Facebook




8 comments:
Sepertinya mas Sakti ini awalnya Kristen ya...GBU
Dasar tulisan ini apa ya?
Apakah Quran? Bible? Tripitaka? atau Torah?
Atau punya kemampuan melihat masa depan?
Semua yang ditulis itu ada dalam Quran..coba simak surah Arrahman, surah Asshaafaat, dsb..
@Kohvenk: silakan baca di http://www.saktisihite.com/2008/11/pertanyaan-yang-umum.html
Tks
"Di dalam kebun kenikmatan itu mereka dipasangkan dengan gadis-gadis pingitan bermata lebar dan berbuah dada penuh yang tidak pernah dijamah oleh manusia ataupun oleh jin sebelumnya. Cantik jelita bagaikan yakut dan marjan.
"
Kalo laki-laki dipasangkan dengan gadis-gadis, bagaimana dengan perempuan yamg masuk kebun kenikmatan ?
@Rix: Dalam banyak ayat yang menerangkan kebun akhirat, digunakan kata 'azwaaj' yang berarti 'pasangan'. Jadi, untuk perempuan tentu akan dipasangkan dengan lelaki2 surgawi :)
Kalau pada awal kehidupan ini hanya ada Sang Tuhan, Awal dari segalanya. Semua yang diciptakannya seharunya bukanlah dari elemen selain Tuhan, karena tentu tidak ada Elemen selain Elemen tuhan. Tidak seperti manusia yang menciptakan patung, dimana memakai elemen tanah yang memang sudah ada.
Kalau misal benar demikian, sebenarnya kita semua ini adalah elemen yg diciptakan dari mother elemen, Sang Tuhan sendiri.
Pada saat manusia disiksa di Neraka, bukankah bisa diibaratkan Tuhan menyiksa elemen dirinya sendiri ?
Lagian kenapa sih manusia diciptakan, kalau diciptakan untuk mengabdi pada Sang Tuhan, berarti menjadi orang yang Baik ataupun Buruk sebenarnya sama2 mengabdi kepada Tuhan.
Benarkah jalan hidup manusia sudah bisa dilihat oleh sang Tuhan akan kemana ? Tuhan sudah tau si A itu akan masuk Neraka ato Surga.
Cara kerja alam semesta ini Tuhanlah yang menentukan. Kalau manusia saja bisa mengetahui/memprediksi hal2 kedepan dengan mengandalkan ilmu pengetahuan, parameter2 yang bisa diukur. Apalagi sang Tuhan, sang pencipta Aturan/Ilmu tersebut.
Jadi sekarang, kita semua mengabdi kepada Sang Tuhan, baik-buruk, itu semua memang yang Tuhan kehendaki.
Nb:Sedikit pemikiran saat membaca kisah Nabi Adam.
Tuhan menciptakan nabi Adam, malaikat heran, kenapa menciptakan manusia yang akan merusak bumi (malaikat sendiri nggak paham).
Kemudian adam disuruh tinggal di Kebun Surga, diberi sebuah larangan dan diberi Syetan untuk menggoda. Kalo dilihat di Quran sendiri, Syetan itu adalah dari kalangan Jin dan Manusia.
Kemudian Adam melanggar larangan tsb, sang Tuhan memaafkannya dan menurunkan Adam ke bumi.
pertanyaannya: kalau nabi adam tidak melanggar larangan, apa yang akan terjadi ? apakah tidak ada manusia di bumi ? kalau iya, berarti memang tuhan sedang menguji manusia Ciptaannya apakah bisa berbuat salah. Kalo tidak tentu tidak akan dikirim ke bumi.
Hikmahnya: manusia memang diciptakan seperti ini, bisa salah, bisa benar, egois, dll dll sifat manusiawi. Jadi karena sang pencipta sendiri sudah membuatnya demikian, ya tinggal kita jalani saja. Semua kejadian di bumi ini tentu tidak luput dari monitor sang Tuhan.
Terima kasih.
Saya tidak mendapati dalam alQur'an kalau Adam itu disebut oleh Allah sebagai nabi, kiranya bisa dibantu menjelaskan.
Poskan Komentar
Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih