15.7.08

Puasa Ramadan

“Wahai orang-orang yang percaya, ditetapkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah ditetapkan atas orang-orang yang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian berhati-hati (takwa).” (Quran 2:183)

Berpuasa pada bulan Ramadan adalah salah satu kewajiban yang ditetapkan Tuhan atas orang-orang yang percaya. Mereka yang pada bulan itu “hadir”, dalam arti tidak sedang dalam perjalanan, diperintahkan berpuasa.

“Bulan Ramadan yang padanya Quran diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia, dan dalil-dalil dari Petunjuk itu, dan Pemisah. Maka hendaklah orang-orang antara kalian yang hadir pada bulan itu berpuasa …” (Quran 2:185)

Puasa yang dalam bahasa Arab disebut “shawm/shiyaam” secara literal bermakna “menahan/mengekang”. Dalam praktiknya, puasa Ramadan dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan seksual dari sejak fajar sampai dengan datangnya malam.

Pada malam harinya orang-orang yang berpuasa diperbolehkan untuk makan, minum, maupun melakukan hubungan suami-istri.

Kaitannya dengan kebolehan melakukan hubungan seksual pada malam hari, perlu diingat untuk tidak mendatangi istri ketika sedang bertekun di masjid. Yang disebut masjid bukan saja bangunan khusus untuk salat, ia juga termasuk sekadar hamparan di dalam rumah atau di dalam kamar yang digunakan untuk salat.

Apabila ketika sedang bertekun di masjid muncul keinginan untuk mendatangi istri, segeralah beranjak dari sana. Jangan bermesra-mesraan di atas sajadah!

“Dibolehkan bagi kalian pada malam puasa bercampur dengan perempuan-perempuan kalian; mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka … dan janganlah campuri mereka sedang kalian bertekun di masjid...” (Quran 2:187)

Waktu Berpuasa
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, puasa dimulai pada saat fajar dan berakhir ketika telah masuk malam.

“… Makan dan minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam dari fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam …” (Quran 2:187)

Fajar adalah waktu antara akhir malam dan awal pagi. Ketika itu keadaan langit masih agak gelap, namun sinar cerah mentari telah tampak menyemburat di cakrawala. Keadaan ini mulai terjadi pada saat posisi relatif matahari kurang lebih 9 derajat di bawah horizon.

Untuk negara-negara yang terletak pada lintang rendah seperti Indonesia, kita bisa memperhitungkan bahwa fajar selalu akan didapati kurang lebih 35 menit sebelum terbit matahari. Apabila dikonversi ke perhitungan waktu “subuh” versi Departemen Agama RI yang menggunakan patokan posisi matahari 20 derajat di bawah horizon, waktu fajar itu adalah 45 menit setelah waktu “subuh”.

Jadi ada dua rumus yang bisa kita gunakan untuk menentukan masuknya fajar, yaitu:
Fajar = “waktu subuh + 45 menit”
Fajar = “waktu terbit – 35 menit”

Sebaliknya, malam adalah saat ketika kegelapan telah menutupi siang sehingga menjadi nyatalah benda-benda langit seperti bintang.

“Ketika malam telah menutupi, dia melihat sebuah bintang …” (Quran 6:76)

“Dan suatu tanda bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang darinya, dan seketika mereka dalam kegelapan.” (Quran 36:37)

Kata kunci untuk “malam” adalah “gelap”. Waktu terbenamnya matahari (magrib) belum dapat disebut malam karena pada saat itu belum datang kegelapan yang menutupi. Terbukti kita masih dapat melihat dengan jelas tanpa alat penerangan saat terbenamnya matahari.

Kegelapan malam yang menandakan akhir ritual puasa baru datang setelah posisi relatif matahari mencapai antara 9 sampai 10 derajat di bawah horizon, atau sekitar 35-40 menit setelah terbenam untuk Indonesia dan negara-negara di lintang rendah. Jika matahari terbenam jam 18.00 petang, maka mereka yang berpuasa baru akan berbuka sesudah jam 18.35 atau 18:40 malam.

Tebusan Atas Orang Yang Tidak Berpuasa
Orang-orang yang sanggup berpuasa namun ingin tidak berpuasa, bisa menggantinya dengan tebusan (fidyah). Ketentuan tebusan ini berlaku umum tanpa batasan tertentu. Siapapun, dengan alasan apapun, bisa menggunakannya bila mau.

Tebusan yang ditetapkan Tuhan adalah memberi makan seorang miskin. Tidak berpuasa sehari ditebus dengan memberi makan satu orang miskin; tidak berpuasa lima hari ditebus dengan memberi makan lima orang miskin; tidak berpuasa tiga puluh hari penuh selama bulan Ramadan ditebus dengan memberi makan tiga puluh orang miskin.

Ketentuan tebusan ini berlaku untuk orang-orang yang sebenarnya sanggup berpuasa. Orang-orang yang secara permanen memang tidak sanggup berpuasa, seperti misalnya orang tua yang sudah sangat lemah, tidak diwajibkan untuk mengeluarkan tebusan.

Meskipun ada pilihan antara berpuasa atau membayar tebusan, Tuhan mengingatkan bahwa berpuasa itu adalah pilihan yang lebih baik. Jadi, siapa yang sanggup berpuasa sebaiknya tidak meninggalkannya.

“… dan atas orang-orang yang menyanggupinya, tebusan, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Tetapi lebih baik baginya membuat kebaikan dengan sukarela, berpuasa adalah lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (Quran 2:184)

Sakit Dan Dalam Perjalanan
Apabila pada bulan Ramadan kita sakit atau melakukan perjalanan, kita boleh tidak berpuasa selama hari-hari tersebut namun harus menggantinya pada hari-hari lain. Berapa hari puasa Ramadan yang ditinggalkan, sejumlah itu pula puasa pengganti harus dilakukan.

“… barang siapa diantara kalian sakit, atau dalam perjalanan, maka sebilangan dari hari-hari yang lain …” (Quran 2:184)

Status puasa pengganti tidak berbeda dengan puasa Ramadan, karenanya ia juga dapat diganti dengan tebusan. Meskipun demikian, kembali diingatkan bahwa berpuasa adalah pilihan yang lebih baik.

Perempuan Haid/Hamil/Menyusui
Perempuan yang sedang haid, atau hamil, atau menyusui tidak dikecualikan dari kewajiban berpuasa. Mereka tetap wajib berpuasa pada bulan Ramadan.

Apabila ternyata keadaan perempuan yang sedang haid, atau hamil, atau menyusui melemahkan tubuhnya sehingga tidak sanggup berpuasa, atau disarankan untuk tidak berpuasa oleh dokter, maka atasnya berlaku ketentuan orang sakit.

Apabila sebenarnya dia sanggup berpuasa tapi memilih untuk tidak berpuasa, mungkin demi kecukupan nutrisi bayinya atau alasan lain, maka atasnya berlaku ketentuan tebusan sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya.

Tulisan terkait: Berbuka Puasa Prematur

Share on Facebook

Artikel Terkait:

21 comments:

Moch Dali/Dali mengatakan...

Salamun Alaikum,
Bapak Sakti yang baik mohon dijelaskan sebagaimana bapak cantumkan Surah ke 2 ayat 185 yaitu Bulan Ramadan.... kemudian yang menjadi saya tidak jelas Apakah Wahyu Allah tersebut yaitu Al Qur an diturunkan pada sebulan lamanya yaitu Bulan Ramadan ataukah diturunkan tiap tiap bulan Ramadan setiap tahun ? Menurut akal saya yang sedang belajar tentang Islam agak bingung, Kata Allah bertahab dan ada yang ber ulang ulang sangat, tidak mungkin otak manusia memahami Al Quran untuk waktu selama satu bulan . Demikian dan kewajiban bapaklah memberikan penjelasan kepada saya yang bodo ini, Terimaksih Salam

sakti mengatakan...

Alaika salam Pak Dali,
Hemat kami bulan Ramadan yang dimaksud itu merupakan momen penurunan Quran untuk pertama kali.
Selanjutnya kandungan Quran itu diturunkan Tuhan melalui ruh-Nya (jibril) secara bertahap ke dalam hati rasul pada waktunya (tidak mesti bulan Ramadan).
Salam

nanang mengatakan...

Sepakat saya sakti, sehingga wahyu yang asli ada di dalam qolbunya nabi muhammad, yg ada sekarang adalah rekaman berupa tulisan wahyu (al-qur'an) so....jika ada yg merusak atau dlll rekaman itu kita tidak usah marah-2.QS:6/33Sungguh Kami mengetahui bahwa akan menyusahkanmu apa yang mereka katakan, padahal mereka bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang dzalim itu menentang Ayat-Ayat Allah. (2/209, 3/184, 4/60, 4/81, 6/54, 39/25 ).
n soooooo.... sehingga kalo ada yg menanyakan sholat, .....itu adalah wahyu praktek ! slamun'alaikum.

harris mengatakan...

Komentar dikit, tentang buka puasa ! Waktu buka puasa pada permulaan malam, INI DITINJAU DARI GARIS KATULISTIWA (UMATAN TENGAH),SHG DLAM SATU BUJUR DERAJATNYA LINTANG UTARA DAN SELATAN, WAKTUNYA SAMA ! BETULKAH A.SAKTI ? JADI TIDAK MALAM DIDAERAH SETEMPAT ATAU MASING-2. SALAMUN'ALAIKUM.

nursatya mengatakan...

barang siapa diantara kamu sakit, atau dalam perjalanan, maka sebilangan dari hari-hari yang lain…” (Quran 2:184)MENURUT SAYA,..... ATAU DALAM PERJALANAN (INI MAKSUDNYA ATAS BEBAN) SEHINGGA TIDAK DIARTIKAN ORANG BEPERGIAN SAJA. SALAMUN'ALIKUM

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Harris: Malam daerah masing-masing, karena setahu saya perhitungan terbit dan terbenamnya matahari berbeda2 di tiap lintang meski dalam garis bujur yang sama.
Salam

@Nursatya: "Perjalanan" tersebut adalah terjemahan dari "safarin". Saya tidak menemukan referensi bahwa "safarin" bisa diterjemahkan sebagai "beban". Kalau anda punya referensinya, sila disampaikan.
Salam

nursatya mengatakan...

..........Terbit dan terbenamnya matahari berbeda2 di tiap lintang meski dalam garis bujur yang sama.BETUL BERBEDA !!!, OLEH KARENA ITU HARUS MENGGUNAKAN WAKTU TENGAH (UMATAN WASATOH)/ DI GARIS KATULISTIWA. KALAU MENGGUNAKAN TERBIT DAN TERBENAM MATAHARI DI MASING-2 DAERAH, BAGAIMANA DAERAH YANG SIANGNYA 3 JAM ATAU SEBALIKNYA ( CONTOH DI NORWEGIA )Salamun'alaikum.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Nursatya: Panduan waktu dalam berpuasa itu adalah fajar dan malam. Maka setiap orang yang berpuasa berpatokan pada fajar dan malam wilayahnya masing-masing.

Kalau semua manusia harus berpatokan dengan waktu khatulistiwa, maka di wilayah tertentu akan ada yang berbuka pada siang hari, ini jelas tidak berdasar dan menyesatkan.

Untuk wilayah yang memiliki perbedaan waktu siang dan malam yang ekstrem, ketentuan berpuasa sejak fajar hingga malam tetap berlaku. Jika merasa berat, maka dapat menebus (fidyah) dengan memberi makan orang miskin. Simple kan..?
Salam

m'hariis'son mengatakan...

TAHUN 1431H,puasanya jatuh berapa hari n 1 Romadhon pada hari apa tanggal syasiahnya ? moga A.sakti mau menjawabnya. Salamun'alaikum.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@M.Hariis: Tuhan mengatakan bahwa peredaran matahari dan bulan adalah panduan waktu bagi manusia. Dan fenomena alam tersebut telah dimanfaatkan ilmuwan sejak dulu kala untuk menciptakan suatu sistem kalender.

Sistem kalender ini disusun dengan akurasi yang tinggi, dan sifatnya eksak. Maka kapan jatuhnya 1 Ramadhan 100 tahun yang akan datang pun sudah dapat diketahui dengan pasti.

Kembali ke pertanyaan anda, 1 Ramadhan 1431H menurut kalender bertepatan pada hari Rabu tanggal 11 Agustus 2010. Itulah hari awal puasa. Salam

Kang Paiman mengatakan...

Puasa yang dalam bahasa Arab disebut “shawm/shiyaam” secara literal bermakna “menahan/mengekang”. Dalam praktiknya, puasa Ramadhan dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan seksual dari sejak fajar sampai dengan datangnya malam.

Salamun Alaikum...
Bagaimana dengan merokok di siang hari?

Sakti A. Sihite mengatakan...

Alaika salam,
Boleh. Merokok tidak dapat disamakan dengan makan/minum.

Desi Ariyanti Mezia mengatakan...

pak, kondisi masyarakat sekarang, banyak yang hidup digaris kemiskinan, buat makan sehari2 saja belum tentu bisa terpenuhi.. masih disuruh puasa... apa iya Tuhan se-dzalim itu...
apa esensi puasa menurut pemahaman bapak?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Desi: Puasa diwajibkan atas orang-orang beriman tanpa memandang kaya atau miskin. Mengapa pewajiban puasa sampai anda anggap "kezaliman"? Apa alasannya??

Deni mengatakan...

Salam,

Bagaimana dengan hukum jika berpuasa di hari pertama bulan syawal ? Kalau menurut pemahaman MUI kan haram.

Apa ada larangan waktu berpuasa ? Jika ada kapan saja ?

Bagaimana jika saya bernazar untuk berpuasa? Apa boleh ?

Menurut Anda apa ada lebaran Idul Fitri & Idul Adha ?

Thx

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Deni: Salam
Tidak ada waktu larangan untuk berpuasa di dalam kitab Tuhan. Kalau anda bernazar untuk berpuasa boleh saja, yang tidak boleh adalah berpuasa dengan didasari syariat "buatan manusia".

Lebaran itukan hanya budaya, bukan syariat agama.

Raga mengatakan...

Salam,
Bagaimana menurut anda dengan pemahaman yg umum mengenai malam Lailatulqadar ?

Amir Makmur mengatakan...

Saya tidak setuju dgn pendapat bang sakti mengenai defenisi malam, malam itu di mulai dari terbenam matahari, kenapa masih terang karena masih ada pendaran cahaya, dan kategori malam di alquran juga ada dua yaitu permulaan malam (maghrib) sesuai dgn QS 11:114 dan gelap malam (isya) sesuai dgn QS 17:78, jadi kesimpulan saya buka puasa itu di mulai dari terbenam matahari (maghrib) bukan pada saat gelap, trims
amir makmur nasution

sakti alexander sihite mengatakan...

@Amir: Quran 11:114 yang menyebut salat pada "dua tepi siang" itu justru menjadi dalil bahwa terbenam matahari (magrib) masih masuk ke dalam "siang". Coba deh dipikir.

Amir juga bisa melakukan pengamatan sendiri seperti yg pernah abang posting di sini. Ambil foto langit pada 3 momen, yaitu 30 menit sebelum magrib (masih termasuk siang), pas magrib, dan 30 menit setelah magrib (sudah termasuk malam), lalu silakan lihat sendiri foto yg pas magrib lebih cocok ikut dengan yg 30 menit sebelumnya (siang) atau dengan yg 30 menit sesudahnya (malam).

Septina Yulianti mengatakan...

salam,,,

saya masih bingung dengan istilah ramadhan dalam alquran, bukankah pd saat ayat turun belum ada penanggalan, jadi kata ramadhan dalam alquran harusnya diterjemahkan dalam bahasa indonesia, pernah dengar ada pendapat bahwa ramadhan yg dimaksud adalah purnama/supermoon/perigri, berarti awal puasa harusnya pd bulan purnama...
mohon petunjuk kak sakti utusan Tuhan..

sakti alexander sihite mengatakan...

@Septina: Salam. Masyarakat Arab pada masa sebelum Nabi Muhammad sudah menggunakan penamaan bulan-bulan, dan nama2 tersebut (Muharam, Shafar, dst) tetap digunakan dalam penanggalan hijriah.

Salah kalau menghubungkan Ramadan dengan bulan yg malam2 kita lihat di langit, karena Ramadan itu disebut "syahr" (month), bukan "qamar" (moon). Jadi melihatnya bukan di langit, tapi di kalender :)

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih