28.3.08

Pertanyaan Seputar Kerasulan

Anda mengaku sebagai rasul, tapi bukankah kerasulan telah ditutup dengan hadirnya Nabi Muhammad (damai atasnya)?

Nabi Muhammad, sebagaimana dapat dibaca pada Quran 33:40, adalah penutup nabi-nabi (khataman nabiyyin). Beliau bukan disebut penutup rasul-rasul. Kita jangan gegabah membuat kesimpulan bahwa kerasulan telah tertutup padahal tidak ada dalil yang menyatakan demikian.

Bukankah dengan tertutupnya kenabian maka otomatis kerasulan juga ikut tertutup?

Anggapan demikian muncul karena sejak kecil kita diajarkan bahwa rasul itu pasti seorang nabi. Konsekuensinya, jika kenabian sudah tertutup maka otomatis kerasulan juga ikut tertutup. Padahal, rasul itu tidak pasti nabi.

Ayat Quran tentang perjanjian nabi-nabi dengan jelas mengindikasikan masih akan datangnya rasul setelah Nabi Muhammad. Pada ayat 3:81 diceritakan bahwa Tuhan telah mengambil janji dari nabi-nabi. Pokok dari janji tersebut adalah bahwa nabi-nabi itu akan mempercayai dan menolong rasul yang akan datang membenarkan apa yang ada pada mereka.


Selanjutnya melalui ayat 33:7 kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad termasuk salah seorang nabi yang diikat dalam perjanjian tersebut. Artinya, setelah Nabi Muhammad masih akan datang lagi seorang rasul.

Rasul yang datang ini bukanlah seorang nabi yang membawa ajaran atau kitab baru. Saya hanya membenarkan ajaran dari kitab yang telah ada.

Bagaimana dengan ayat Quran yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia?

Artinya, Nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia secara umum, bukan khusus untuk bangsa tertentu. Hal ini berbeda dengan misalnya Nabi Musa (damai atasnya) dan Isa (damai atasnya) yang diutus khusus untuk bangsa Israel.

Namun peran kerasulan Nabi Muhammad (menjelaskan ayat-ayat, memutuskan perkara, memintakan pengampunan untuk pengikut, dll) telah berakhir seiring dengan telah wafatnya beliau.

Bagaimana awal mulanya sampai Anda mendeklarasikan diri sebagai rasul?

Ceritanya dapat ditarik mundur ke pertengahan tahun 2005 ketika pada suatu malam saya mengalami semacam “induksi energi” yang sangat kuat yang membuat saya lemas satu atau dua hari. Badan saya menggigil kedinginan meskipun udara tidak dingin. Ada semacam cekaman rasa takut yang mengguncang, meskipun saya tidak melihat ataupun mengetahui ada ancaman yang perlu saya takuti.

Energi tersebut mengantarkan pesan bahwa saya telah dipilih Tuhan untuk menyampaikan ajaran ketauhidan yang sejati. Pada tahap ini saya sudah sempat menilai bahwa apa yang saya alami adalah penunjukan saya sebagai rasul. Namun dalam perkembangannya kemudian, saya mulai ragu dan menepis kesimpulan semula.

Sekitar bulan Juli 2007 saya kembali mengalami apa yang saya sebut sebagai induksi energi yang sangat kuat itu. Kali ini induksi terjadi sangat intensif, nyaris setiap hari. Setiap kali itu berlangsung, dada saya terasa sakit. Jantung rasanya seperti dibakar. Induksi yang membakar jantung ini betul-betul membuat saya kepayahan secara fisik maupun mental.

Setelah lebih kurang dua bulan didera oleh “pembakaran jantung” itu, pada awal bulan September 2007 induksi energi kembali meningkat. Kali ini wujudnya adalah luapan kuat dari dalam dada yang mendesak saya supaya mengumumkan jatidiri sebagai rasul.

Saya kemudian mengadu kepada Tuhan, bagaimana mungkin saya akan mengumumkan bahwa saya ini seorang rasul sedangkan keyakinan saya sendiri mengenai itu belum bulat. Karenanya saya memohon kepada Tuhan untuk diberikan tanda yang akan meyakinkan saya.

Akhirnya pada tanggal 13 September 2007 / 1 Ramadhan 1428 di dalam tidur saya menyaksikan roh yang diutus Tuhan, dalam wujud cahaya/energi berwarna hijau, datang dan memenuhi rongga dada saya. Cahaya/energi tersebut menyuarakan, “engkau adalah rasulullah, engkau adalah rasulullah…” berulang-ulang. Tiga minggu kemudian saya mendeklarasikan kerasulan saya.

Apa alasan saya untuk mempercayai Anda?

Anda dapat mempertimbangkan kenyataan bahwa apa yang saya serukan adalah ayat-ayat Tuhan, bahwa saya tidak mengharapkan materi dari dakwah yang penuh risiko ini, dan bahwa—oleh teman-teman dekat—saya dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya alias bukan tukang bohong.

Bagaimanapun, mustahil saya mengharuskan Anda untuk percaya. Tuhan telah menetapkan dengan pasti siapa-siapa saja orang yang akan tertunjuki dan siapa saja yang akan tersesat.

Cobalah menghayati penjelasan-penjelasan yang saya kemukakan. Tulisan-tulisan saya adalah jembatan bagi interaksi mental di antara kita. Jika Anda memang ditakdirkan untuk tertunjuki, insyaAllah penjelasan-penjelasan tersebut sudah memadai untuk menyalakan benih keimanan yang ada di dalam hati Anda.

Berbicara tentang kerasulan, apakah hal itu memang perlu dideklarasikan?

Tentu saja. Peristiwa kerasulan itu pada awalnya adalah pengalaman spiritual pribadi. Khalayak ramai tidak akan mengetahui keberadaan seorang rasul di tengah-tengah mereka jika kerasulan tersebut tidak diumumkan.

Apakah rasul-rasul zaman dahulu mendeklarasikan diri juga?

Sudah barang tentu. Nabi Muhammad disuruh mendeklarasikan kerasulan beliau kepada umat (baca 7:158), demikian pula halnya dengan rasul-rasul yang lain seperti Nuh (damai atasnya) (baca 7:61), Hud (damai atasnya) (baca 7:67), Musa (damai atasnya) (baca 26:16), Luth (damai atasnya) (baca 26:162), dan Syuaib (damai atasnya) (baca 26:178).

Apa misi kerasulan yang Anda bawa?

Tidak berbeda dengan rasul-rasul lain sepanjang zaman, misi saya adalah untuk menyampaikan ayat-ayat Tuhan dan mengajak manusia untuk memurnikan penghambaan hanya kepada-Nya.

Apakah Anda beragama Islam? Kalau ya, apakah Anda Islam sejak lahir atau pindahan dari agama lain?

Ya, saya beragama Islam sejak lahir, begitu pula kedua orang tua saya. Saya disunat, mengaji di madrasah, dan aktif di kegiatan keislaman kampus. Dari garis bapak, saya adalah generasi ke-tiga yang menganut Islam setelah mendiang ompung saya beralih agama dari Nasrani ke Islam ketika remajanya. Kalau dari garis ibu, sepertinya dari dulunya memang sudah Islam semua.

Apakah Anda ini Imam Mahdi yang sering diramalkan?

Saya tidak punya petunjuk terkait dengan ramalan kemunculan “Imam Mahdi” ataupun figur-figur lain yang sering diramalkan. Karena itu, saya tidak bisa mengonfirmasi hal tersebut. Yang dapat saya konfirmasikan adalah bahwa saya seorang utusan Tuhan (rasulullah). Hanya itu.

Dalam hal saya mempercayai kerasulan Anda, apa yang selanjutnya harus saya lakukan?

Anda dapat menemui dan membaiat saya. Isi baiat adalah ikrar untuk menjauhi dosa-dosa besar dan untuk mematuhi rasul. Saya kemudian akan menerima baiat Anda dan memohonkan ampunan Tuhan untuk Anda.

Tidak ada biaya apapun. Saya tidak meminta imbalan atas risalah yang saya sampaikan ini. Cukuplah imbalan saya dari Tuhan yang telah mengutus saya.

Share on Facebook

Artikel Terkait: