24.4.10

Allah, Ilah, dan Rabb

Sebagaimana yang sebelumnya pernah diulas pada tulisan berjudul “Allah atau Tuhan?”, “Allah” adalah istilah bahasa Arab untuk menyebut “Tuhan”.

Sebutan “Allah” di benak orang Arab, sama dengan sebutan “Tuhan” di benak orang Indonesia. Sifatnya netral dan tidak terkait dengan agama tertentu.

Dari beberapa tanggapan yang saya terima, ternyata tidak sedikit yang menyangkal apa yang saya kemukakan dengan dalih: “Tuhan” dalam Bahasa Arab bukan “Allah”, melainkan “ilah” atau “rabb”. Dengan kata lain mereka hendak mengatakan bahwa kata “Allah” itu tidak bisa diganti dengan kata “Tuhan”.

Kalau kita perhatikan, memang di dalam kebanyakan terjemahan Quran kata “ilah” diterjemahkan sebagai “Tuhan”. Ungkapan terkait yang mungkin paling familiar bagi kita adalah “Laa ilaaha illallah”, yang diartikan sebagai “Tidak ada Tuhan selain Allah”.

Kata “rabb” juga sering diterjemahkan sebagai “Tuhan”, sebagaimana ungkapan “Alhamdulillahi rabbil aalamiin” yang biasa diterjemahkan sebagai “Pujian bagi Allah, Tuhan semesta alam”.

Terjemahan yang telah memasyarakat tersebut sebenarnya tidak tepat.

“Ilah” artinya adalah sesuatu yang dituhankan. “Tuhan” masuk ke dalam pengertian “ilah” karena memang Dia adalah sesuatu yang dituhankan. Malah sejatinya hanya Dia yang patut dituhankan, sebagaimana komitmen “Laa ilaaha illallah”. Namun, istilah “ilah” itu sendiri tidak selalu mengacu pada Tuhan.

Patung berhala, penguasa, bahkan keinginan diri (hawa nafsu) semua itu disebut “ilah” apabila telah dituhankan.

Perhatikan ayat-ayat berikut:

“Dan ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, ‘Adakah kamu menjadikan patung-patung (sebagai) sembahan-sembahan/tuhan-tuhan (aalihatan)?....” (Quran 6:74)

“Sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan keinginannya (sebagai) sembahannya/tuhannya (ilaahahu)?...” (Quran 25:43)

“Dan berkata Firaun, ‘Wahai pembesar-pembesar, aku tidak mengetahui ada bagi kalian sembahan/tuhan (ilaahin) selain aku!...’” (Quran 28:38)

Sebagai catatan, istilah “sesuatu yang dituhankan” biasa diganti dengan kata “sembahan” atau “tuhan” (dengan huruf “T” kecil) agar lebih praktis dalam penulisan kalimat.

“Rabb” mengandung arti “pemelihara”, “pengasuh”, “pendidik”, dan “tuan”. Saya lebih cenderung kepada arti “tuan” menimbang arti ini memiliki lebih banyak kesesuaian konteks dengan kata-kata “rabb” yang terdapat di dalam Quran.

Dalam kaitannya dengan Tuhan, kita menyebut-Nya sebagai “rabb” karena sejatinya Dia adalah Tuan kita, dan kita adalah hamba-Nya. Jadi “rabb” itu adalah salah satu gelar atau sebutan bagi Tuhan, tapi bukan terjemahan dari kata “Tuhan” itu sendiri.

Kata “rabb” juga digunakan ketika menyebut “tuan” dalam konteks hubungan antara sesama manusia (pelayan - majikan). Sila perhatikan dua ayat di bawah ini:

“Wahai kedua sahabatku sepenjara, bagi salah seorang dari kalian, maka dia akan menuangkan arak untuk tuannya (rabbaahu)...” (Quran 12:41)

“Dan dia berkata kepada orang yang disangkanya akan selamat di antara mereka berdua, ‘Ingatkanlah aku kepada tuanmu (rabbika)’...” (Quran 12:42)

Ringkasan:
Allah = Tuhan = God
ilah = sembahan/sesuatu yang dituhankan = god/deity
rabb = tuan = lord

Mengulangi imbauan yang pernah saya sampaikan, marilah kita gunakan kata “Tuhan” sebagai pengganti kata “Allah”. Dengan langsung menggunakan bahasa kita sendiri, kita akan terhindar dari kesalahan persepsi yang meracuni ketauhidan, yaitu mengaggap bahwa “Allah” adalah salah satu dari Tuhan.

Share on Facebook

Artikel Terkait:

9 comments:

Thomas Hasan mengatakan...

“Rabb” mengandung arti “pemelihara”, “pengasuh”, “pendidik”, dan “tuan”. Saya lebih cenderung kepada arti “tuan” menimbang arti ini memiliki lebih banyak kesesuaian konteks dengan kata-kata “rabb” yang terdapat di dalam Quran.

Klo menurut saya lebih cenderung ke Pengatur, coz itu melingkupi semuanya

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Thomas: Dikaitkan dengan kedudukan kita sebagai hamba (abid), maka pasangannya adalah tuan (rabb).

Karena Dia adalah Tuan kita, maka Dia yang mengatur dan memelihara kita.

Anonim mengatakan...

اتقوا الله يا بنات - خافوا ربنا ويوم لا ينفع فيه الندم

Emanon mengatakan...

Apakah Tuhan dalam agama2 lain itu sama.
Seperti Brahma, YHWH, Ahura Mazda?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Emanon: Prinsipnya, tidak ada masalah dengan adanya berbagai nama/panggilan yang dilekatkan kepada DIA oleh tradisi manusia yang berbeda-beda.

Yang jadi masalah adalah apabila sesuatu yang bukan DIA dianggap sebagai DIA.

Di antara sifat2 DIA yang dapat dijadikan patokan untuk mengidentifikasi adalah: maha awal (tidak ada yang menciptakan/melahirkan), maha pencipta, maha kuasa, maha mengetahui, maha mendengar, maha melihat, tunggal, menghidupkan, mematikan, tidak ada yang menyepadani, dan tidak terjangkau penglihatan.

Kembali ke contoh yang anda ajukan, sepengetahuan saya Brahman itu adalah salah satu penamaan terhadap DIA.

Yahweh masih diperdebatkan tentang artinya, namun mengingat bahasa Ibrani masih satu rumpun dengan bahasa Arab, ada kemungkinan Yahweh itu identik dengan frasa ya huwa di dalam bahasa Arab yang artinya "wahai dia". Kalau benar demikian, maka Yahweh pun tidak lebih dari sebuah panggilan terhadap DIA.

Informasi yang saya dapatkan tentang Ahura Mazda rasanya kurang lengkap. Tapi konsep ketuhanan apapun tinggal dikembalikan kepada prinsip dasar sebagaimana tiga paragraf awal yang saya kemukakan di atas.

Mengajar Membaca Menulis mengatakan...

Jadi, apakah terjemahan yang sebenar mengikut "Laa ilaaha illallah" anda? adakah perkataan arab 'allah' diterjemah 'Allah'. tidakah ia akan menjadi ;"tiada tuhan selain Tuhan".. maaf bertanya, mungkin saya ada terkeliru dimana-mana..

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Mengajar: Laa ilaaha ilallah dapat diterjemahkan sebagai Tiada yang dituhankan selain Tuhan, atau Tiada sembahan selain Tuhan.

Parmin mengatakan...

Bagus banget, seharusnya semua orang Islam sudah tahu masalah ini. saya baru sadar ternyata banyak yg tidak menyadarinya. Berati selama ini siapa yg disembah oleh kebanyakan orang? Berhala yg dibentuk oleh image mereka tentang Tuhan??? ( Buat orang Yahudi Nama Tuhan haram disebutkan, jd seperti kata mas Yahweh hanya cara untuk menyebut Tuhan)

Agus mengatakan...

Salut untuk Mas Sakti..

Saya setuju. Saya sendiri, terlepas dari orang lain dalam agama saya, menyatakan bahwa "Ekam Evam Adityam Brahman" berarti tiada yang lebih berkuasa dari Tuhan atau Tuhan = Brahman tiada yang menandingi/menduakan. Saya tidak menyebutkan tiada Tuhan selain Brahman disini, walaupun bisa saja orang-orang menafsirkan seperti itu.

Saya kembali berkaca pada kalimat "Ekam Evam Sadwivrah Bahuddha Wadanti" yang kira-kira berarti sesungguhnya hanya satu tetapi orang yang arif bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama.

Semoga pembaca menjadi orang yang bijaksana, merasakan Keesaan dari Ia Sang Pencipta, dan menjadikannya yang satu untuk disembah.

-bagi pembaca yang merasakan ada yang salah, khususnya umat seagama saya, mohon dimaafkan, sekedar melepaskan unek2 dari kepenatan pikiran saja.

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih