30.4.10

Telaga Yesus

Tulisan ini terinspirasi dari mimpi yang saya alami sekitar dua tahun yang lalu.

Di dalam mimpi itu saya sedang berada di taman surga dengan mata air-mata airnya yang mengalir jernih. Namun saya menemukan ternyata ada satu anak sungai yang airnya keruh. Aliran air yang keruh tersebut berasal dari telaga Nabi Isa (damai atasnya).

Timbul pertanyaan dalam hati saya mengapa telaga Nabi Isa airnya keruh? Seketika itu datang jawaban yang mengatakan bahwa sebabnya adalah karena Nabi Isa malu hati kepada Tuhan.

Beliau malu karena dirinya disebut-sebut oleh manusia sebagai Tuhan. Beliau malu disanjung sebagai Sang Raja, sementara beliau sadar bahwa dirinya tidak lebih dari pelayan di Kerajaan-Nya.

Apa yang saya lihat di dalam mimpi tersebut mungkin hanya simbol belaka. Tapi setidaknya ada suatu perspektif yang dapat saya sampaikan kepada sahabat-sahabat Nasrani, yaitu coba kita berempati dengan perasaan beliau seandainya kita dalam posisi yang sama.

Bagaimana rasanya apabila anda sebagai seorang hamba yang setia diposisikan sedemikian rupa sehingga terkesan anda terlibat dalam suatu kelancangan terhadap tuan anda?

Sahabat Nasrani yang saya hormati, tunjukkanlah penghormatan anda kepada Yesus dengan menempatkan beliau pada kedudukan yang sebenarnya. Menganggapnya sebagai Tuhan, atau anak Tuhan, berarti memposisikan beliau sebagai bagian dari penyimpangan keyakinan. Padahal, penyimpangan keyakinan itu sendiri merupakan hal yang hendak diluruskan oleh setiap nabi dan rasul, termasuk oleh Yesus sendiri.

Yesus bukan Tuhan, melainkan manusia yang diembankan amanat oleh Tuhan untuk menyampaikan ajaran-Nya. Beliau adalah seorang utusan.

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh. 17:3)

Seorang utusan tidak sama dengan yang mengutus. Kalau saya katakan saya akan mengutus, maka tentu bukan saya yang datang, tapi orang lain selaku utusan saya. Yesus adalah utusan Tuhan, maka bagaimana mungkin beliau sendiri dikatakan Tuhan?

Ketika Yesus berkata, “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa” (Mrk. 12:29), apakah yang beliau maksud dengan “Tuhan” itu adalah diri beliau sendiri?

Saya yakin ide untuk menghilangkan atribut “Tuhan” dari Yesus cukup menantang bagi anda. Doktrin tersebut sudah mendarah daging selama ribuan tahun, dan diajarkan sebagai kebenaran dari generasi ke generasi. Tapi para pencari kebenaran sejati memang akan dihadapkan pada situasi ketika keyakinan harus dipertanyakan. Memang tidak mudah, tapi itulah harganya.

Kecuali anda adalah orang yang tidak mau ambil pusing untuk menguji kebenaran, dan hanya berprinsip “saya percaya karena saya percaya”, maka rombaklah keyakinan anda dengan berani!

Jangan salah, saya tidak ada maksud mengarahkan anda untuk pindah agama. Menetapi kebenaran itu tidak ada urusannya dengan pindah agama. Silakan hayati kiblat anda dan tatacara beragama anda sendiri. Yang perlu anda lakukan adalah berpindah dari keyakinan yang salah menuju ke keyakinan yang benar.

Di bawah ini saya kutipkan ayat-ayat “Perjanjian Terakhir” yang mungkin dapat anda jadikan sebagai tambahan bahan renungan.

“Dan ketika Tuhan berkata, ‘Wahai Isa putra Mariam, adakah engkau mengatakan kepada manusia, ambillah aku dan ibuku (sebagai) sembahan-sembahan selain dari Tuhan?’ (Isa) berkata, ‘Agunglah Engkau! Tiadalah bagiku untuk mengatakan apa yang aku tiada hak. Jika aku mengatakannya, maka tentu Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang di dalam jiwaku, dan tidaklah aku mengetahui apa yang di dalam jiwa Engkau. Sesungguhnya Engkau mengetahui yang tersembunyi.’” (Quran 5:116)

“Tiada aku mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan aku dengannya, (yaitu) ‘Menghambalah kalian kepada Tuhan, Tuanku dan Tuan kalian.’ Dan aku seorang saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka. Kemudian setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah pengawas atas mereka. Dan Engkau saksi atas segala sesuatu.” (Quran 5:117)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

9 comments:

Jesus Is Not God (JING) mengatakan...

thanx pak sakti, benar2 bermanfaat

AsepR mengatakan...

saya sudah berkirim pesan ke FB anda. mohon di baca!

Gusmul mengatakan...

Nabi Isa (Yesus) akan datang menjelang kiamat, betul apa tidak kalau ditinjau dari ayat al-Qur'an bagaimana.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Gusmul: Tidak ada ayat Quran yang mengindikasikan bahwa Nabi Isa akan datang kembali.

Ada penelitian yang menyimpulkan bahwa pasca lolos dari upaya penyaliban, beliau hijrah ke Kashmir (perbatasan India-Pakistan) dan menjalani kehidupan secara normal hingga wafat di sana.

anthon mengatakan...

Ada penelitian yang menyimpulkan bahwa pasca lolos dari upaya penyaliban, beliau hijrah ke Kashmir (perbatasan India-Pakistan) dan menjalani kehidupan secara normal hingga wafat di sana.
------------------------------------------------
@Sakti :
Jawaban spt itu kelasnya sama dengan gossip.Tunjukkan penelitian yang mana, kalau memberi argumen, harus yang bisa dipertanggungjawabkan..

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Anthon: Silakan baca "Yesus Wafat di Kashmir" karangan A. Faber Kaiser. Aslinya diterbitkan di Inggris oleh Gordon Cremonesi Ltd. tahun 1977. Terjemahan versi digitalnya banyak tersebar di internet.

Anonim mengatakan...

@Sakti A. Sihite : berarti dengan begini anda mau menyalahkan alquran yang mengatakan bahwa Isa diangkat ke sisi Allah...

Anonim mengatakan...

saya hanya ingin bertanya,
1.apakah anda sudah membaca atau mempelajari agama lain selain Islam & Nasrani?
2.mengapa hanya mengacu pada 2 agama tersebut?
3.di tulisan anda "Yang perlu anda lakukan adalah berpindah dari keyakinan yang salah menuju ke keyakinan yang benar" apa anda yakin agama andalah, agama yang paling benar?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Anonim: Roh Nabi Isa memang diangkat Tuhan ke sisi-Nya setelah beliau wafat, jadi bukan menghilang secara ajaib untuk kemudian nanti muncul kembali (coba baca Quran 3:55). Bagian mana dari tulisan saya yang menyalahkan pengangkatan tersebut?

@Anonim: 1. Sedikit banyaknya saya pernah mempelajari ajaran agama lain juga.
2. Mungkin sementara ini kajian saya lebih banyak menyentuh agama Islam dan Nasrani, tapi bukan berarti ajaran lain tidak akan saya sentuh. Itu -insya Allah- hanya masalah waktu saja.
3. Bukankah anda dapat melihat sendiri bahwa yang saya ajarkan adalah kebenaran?

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih