24.5.10

The Power of Dream

“... Mimpi-mimpi yang kacau! Bahkan dia mengada-adakannya; bahkan dia seorang penyair! Maka hendaklah dia mendatangkan kepada kita satu tanda (mukjizat) sebagaimana orang-orang terdahulu diutus.” (Quran 21:5)

Cukup banyak yang mempertanyakan bagaimana bisa saya meyakini kerasulan saya dengan “hanya” didasari oleh sebuah mimpi. Ada juga yang menyayangkan mengapa saya tidak mengkonsultasikan dulu mimpi saya tersebut kepada para “ulama” agar saya tidak salah dalam mengambil kesimpulan.

Sah-sah saja orang bersikap skeptis terhadap mimpi. Tapi kenyataan berkata bahwa mimpi adalah media komunikasi yang sering digunakan Tuhan untuk menyampaikan pesan kepada hamba-hamba-Nya.

Pada ayat yang saya kutip di awal tulisan ini, orang-orang ingkar pada zaman Rasulullah Muhammad (damai atasnya) telah mencemooh mimpi beliau. Meski tidak disebutkan apa yang telah disampaikan oleh Nabi, namun dari tanggapan orang-orang ingkar tersebut dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad telah mengajukan mimpi sebagai dasar kerasulan beliau.

Fakta mengenai mimpi Nabi Muhammad tersebut jarang diketahui orang. Umumnya ketika berbicara tentang pelantikan kerasulan Muhammad, orang mengacu pada catatan sejarah mengenai hadirnya Jibril di Gua Hira, tempat di mana Nabi Muhammad menyepi untuk mempertajam ruhaninya.

Saya tidak mengatakan bahwa cerita tentang kehadiran Jibril di Gua Hira itu salah. Tentunya pengalaman spiritual tidak harus terjadi satu kali saja. Mungkin saja pengalaman didatangi Jibril di Gua Hira itu benar adanya, di samping pengalaman spiritual berupa mimpi sebagaimana yang telah disinggung. Namun yang dapat dikonfirmasi langsung dengan ayat Quran adalah bahwa Nabi Muhammad telah mengajukan mimpi sebagai dasar kerasulan beliau.

Tuhan kembali berkomunikasi kepada Nabi Muhammad lewat mimpi ketika memberitahu bahwa Mekah akan ditaklukkan. Pada waktu itu Nabi berstatus sebagai migran di Madinah setelah menyingkir dari Mekah yang bersikap tidak bersahabat kepada beliau.

“Sungguh Tuhan menjadikan benar mimpi/penglihatan utusan-Nya dengan sebenarnya (yaitu) sungguh kalian akan memasuki Masjid Larangan, jika Tuhan kehendaki, dengan aman. Mencukur kepala-kepala kalian, dan memendekkan rambut tanpa merasa takut. Maka Dia mengetahui apa yang kalian tidak ketahui, maka Dia menjadikan selain itu satu kemenangan yang dekat.” (Quran 48:27)

Yang tidak boleh dilewatkan terkait dengan pembahasan mengenai mimpi adalah kisah yang mengharu biru tentang Nabi Ibrahim (damai atasnya) yang akan mengorbankan Ismail (damai atasnya) putranya. Kisah pengorbanan yang sangat monumental tersebut menjadi salah satu rujukan terbaik dalam menghayati arti kesabaran.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa perintah Tuhan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail, disampaikan lewat suatu penglihatan di dalam mimpi. Nabi Ibrahim melihat di dalam mimpi bahwa beliau menyembelih Ismail, dan beliau yakin bahwa itu adalah perintah Tuhan yang harus diwujudkan.

“Maka apabila dia (Ismail) telah sampai umur (untuk bisa) berusaha bersama dia (Ibrahim), dia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam tidurku bahwa aku menyembelih kamu, maka renungkanlah, apa pendapat kamu?’ Berkata (Ismail), ‘Wahai ayahku, perbuatlah apa yang diperintahkan kepada kamu. kamu akan mendapati aku, jika Tuhan menghendaki, termasuk orang-orang yang sabar.’” (Quran 37:102)

Mimpi-mimpi spiritual yang dialami oleh para rasul memiliki sifat yang unik. Ia menghadirkan suatu keyakinan yang mantap secara seketika. Itulah mengapa Nabi Ibrahim bertekad melaksanakan mimpinya, meski wujudnya adalah penyembelihan terhadap putra beliau sendiri. Itu pula sebabnya mengapa saya tidak merasa perlu mengkonsultasikan mimpi kerasulan saya kepada siapapun.

Adapun pertanyaan Nabi Ibrahim kepada Ismail, sebagaimana terbaca pada ayat yang dikutip, bukan menunjukkan keraguan beliau atas mimpi tersebut. Itu adalah cara Nabi Ibrahim selaku seorang bapak mengkomunikasikan perintah Tuhan tersebut kepada anaknya.

Kami, para rasul, bukanlah orang-orang konyol yang akan menelan mentah-mentah segala sesuatu yang melintas di dalam mimpi. Tentu saja ada mimpi-mimpi yang sifatnya sekadar penghias tidur. Tapi jangan lantas menyamaratakan semua mimpi sebagai bunga tidur belaka. Telah terbukti dalam sejarah panjang kerasulan bahwa Tuhan sering meninggalkan pesan lewat sebuah mimpi.

Share on Facebook

Artikel Terkait:

16 comments:

Dendriarsa mengatakan...

mimpi adalah salah satu jalan komunikasi manusia dengan yang Ilahi, tapi yang lebih dari itu adalah iman. Saya salut iman anda begitu kuat, didukung kepandaian logika anda. Tapi saya sekedar mengingatkan, bahwa Allah mengatasi logika, bahkan sering bertentangan dengan logika, begitu juga dengan iman. Tidak semua Kepercayan dapat diurai dengan logika. tapi bagaimanapun, teruskanlah usaha anda, selama itu bisa menambah keimanan anda, juga kebahagiaan anda. Dan semoga berimbas juga pada kehidupan manusia, Allah hidup bagi manusia hidup.

Anonim mengatakan...

mimpi ada yang berasal dari Allah, ada yg berasal dari jin dan ada yang berasal dari khayalan manusia.
hati2..............

Anonim mengatakan...

Nabi Muhammad SAW, nabi yang terhakhir, ga ada lagi setelah itu, titik!!!!

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Anonim: Sepakat. Muhammad adalah nabi yang terakhir. Tapi bukan rasul yang terakhir.

Gemini mengatakan...

Saya ada sedikit pertanyaan untuk anda, jika ada sebagai seorang yang meyakini adalah utusan sebagai rasul, maka apa dasar agama yang anda gunakan untuk menjalankan kegiatan kerasulan tersebut.
Karena penyampaian kegiatan2 yang dilakukan memiliki dasar acuan dari suatu buku / agama maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan kerasulan tersebut membawa penjelasan ataupun pemaknaan dari apa yang pernah dituliskan.
Sebagaimana yang saya baca bahwa buku yang anda gunakan sebagai acuan adalah Quran, maka pertanyaan saya adalah :
1. Mengapa Quran ditulis dalam bahasa Arab, apakah karena hanya itulah bahasa yang dipilih tuhan. Tapi nyatanya masih banyak sekali manusia di bumi tidak bisa berbahasa arab.
2. Jika suatu bahasa dipertahankan dan dianggap bahasa pilihan tuhan, apakah tuhan menginginkan kesamaan seluruh bahasa di muka bumi ini hanya bahasa Arab.
3. Sebagaimana kita meyakini bahwa tuhan adalah kekuatan yang melebihi segala kekuatan, mengapa masih ada orang di pedalaman yang belum memiliki agama, serta bagaimana nasib orang ini, apakah karena tidak memiliki agama maka ia akan masuk neraka walaupun dalam hidupnya ia selalu berbuat kebaikan?

Terima kasih

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Gemini:
1. Quran berbahasa Arab karena ia diturunkan kepada Nabi Muhammad yang merupakan orang Arab. Tidak logis kalau kitab tersebut diturunkan dengan bahasa yang tidak dipahami oleh orang yang menerimanya.

2. Sudah saya jawab di atas. Sebagai tambahan, perbedaan bahasa-bahasa manusia adalah kehendak Tuhan dan merupakan salah satu tanda kekuasaan-Nya (baca 30:22). Bukankah sesuatu yang menakjubkan bahwa kita, manusia, yang satu spesies ini bisa bertutur dalam ribuan bahasa berbeda?

3. Satu hal yang pasti adalah, Tuhan tidak akan menzalimi hamba-hamba-Nya. Pertanggungjawaban tiap orang tentu sesuai dengan keadaannya masing-masing.

Perlu dicatat pula bahwa esensi penghambaan kepada Tuhan bukanlah "memiliki agama", melainkan beriman dan mengerjakan kebaikan. Jadi orang yang anda maksud tetap bisa selamat jika dia beriman dengan benar.

Silakan baca juga tulisan yang berkaitan dengan pertanyaan anda berjudul Inti Keberagamaan. Terima kasih

Gemini mengatakan...

Terima kasih atas jawabannya, kesimpulan saya sebenarnya penyebaran agama dalam label apapun bukanlah persoalan yang besar, tetapi pengajaran akan nilai kebaikan adalah yang utama. Jika anda berkunjung ke suatu pedalaman yang belum tersentuh oleh agama namun penduduknya hidup dalam nilai2 kebajikan dalam hal ini apakah agama itu perlu diperkenalkan? Kalau ya bukankah ajarannya juga sama yaitu kebaikan hanya saya memiliki label pada sesuai nama agama tersebut.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Gemini: Sebelum pengajaran nilai kebaikan, adalah pengajaran prinsip keimanan. Jika penduduk pedalaman tersebut belum lurus dalam keimanan, -seperti masih menganggap ada banyak Tuhan, menyembah roh leluhur, dsb- tentu ajaran keimanan yang lurus perlu diajarkan.

Kompleksitas ajaran agama itu sendiri seperti zikir, shalat, puasa, haji, dll bukan tidak ada gunanya. Ia berperan sebagai penguat keterhubungan manusia dengan Pencipta.

erwin mengatakan...

Salam kenal untuk "Rasul Baru"...

Anda mungkin telah berhasil membuktikan bahwa Mimpi adalah salah satu media komunikasi Tuhan kepada hambanya, termasuk para Rasul..... tapi anda belum membuktikan bahwa Mimpi yang anda alami itu adalah bentuk komukasi Tuhan kepada anda sebagaimana para Rasul mengalminya... (mohon arahan)

Sebagaimana kita tidak boleh menyamaratakan semua Mimpi sebagai bunga tidur belaka, tentunya kita juga tidak boleh menyama-ratakan semua Mimpin sebagai bentuk komunikasi Tuhan kepada hamba, apalagi sebagai legitimasi ke-Rasulan.

Sebagaimana anda, Kami juga bukan orang konyol yang akan menelan mentah2 segala sesuatu yang melintas di dalam mimpi, apalagi itu Mimpi orang lain..

Trmksh.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Erwin: Salam..
Tentu selalu ada batas tentang apa-apa yang mungkin dibuktikan. Saya tidak mungkin bisa membuktikan derajat mimpi saya, karena tetap saja itu adalah sebuah pengalaman pribadi yang hanya saya sendirilah yang bisa merasakan getar keyakinan yang dihadirkannya. Nabi Ibrahim pun tentu tidak akan mampu membuktikan kepada orang lain bahwa mimpi beliau menyembelih Ismail itu adalah perintah Tuhan (bukan perintah setan misalnya).

Jangankan untuk membuktikan kualitas mimpi. Sekadar untuk membuktikan bermimpi sesuatu pun kita tidak bisa. Kalau anda bermimpi melihat pesawat, apa bisa anda tunjukkan rekamannya kepada saya agar saya percaya bahwa anda benar-benar telah mimpi melihat pesawat? :)

Uraian pada artikel ini memang hanya sebatas membuktikan bahwa mimpi adalah salah satu media komunikasi Tuhan dengan hamba-Nya. Adapun untuk mempertimbangkan kerasulan saya, anda (dan siapa saja) dapat mempertimbangkan hal-hal lain seperti ajaran yang saya sampaikan maupun dalil-dalil yang saya kemukakan. Terima kasih

hamba allah umat muhammad mengatakan...

salam..
mahasuci allah,mahabenar allah dengan segala firmannya,semoga kita selalu mendapat ampunannya amin,..

adhittya mengatakan...

mimpi..... pelajari... tela'ah.... dan jangan diprediksi....

princess mengatakan...

Jika anda mengangap diri anda sebagai rosul, saya punya pertanyaan.
1. Duluan mana yg ada dibumi ini, Adam & Hawa or Dinosaurus?
2. Manusia pertama yg di ciptakan Allah SWT itukan adam dan hawa, lalu mangapa sekarang di bumi ini banyak sekali bangsa2 yg beda bahasa, warna kulit, bahasa, dan lain sebagainya? bagaimanakah ini bisa terjadi? dari manakah asal muasal itu semua krn mengingat hanya ada adam & hawa yg ada dibumi ini pertama kalinya?
3. Adam & Hawa itu berasal dari negara mana?
4. Dari manakah asal muasal terciptanya berbagai macam hewan dan pohon beserta isi bumi ini seluruhnya?

Terima kasih

hamba tuhan mengatakan...

bapak sakti yang terhormat....
apakah dengan mimpi.. anda yakin anda rasul..? hati2 dengan mimpi kadang itu jin yang menyerupai cahaya.. anda perlu membuktikan lagi bahwa anda diangkat rasul bukan hanya karna mimpi semata.... telaah rasul2 lain... mereka bukan hanya sekedar mimpi... tapi mereka memang berkali2 di berikan lebih dari kita.....
harusnya anda tau... paham... apakah cuma sekedar mimpi anda mengklem anda seorang rasul.... buktikan dengan lebih... kalau bukan hanya sekedar mimpi belaka.......
ingat... mimpi bisa membuat salah persepsi....
wassalam.......

Corey Taylor mengatakan...

Mas, boleh ya saya panggil mas, karena saya gak yakin atau menurut anda belum yakin terserah anda.

Bagaimana kalau terdapat banyak orang yang mendapat mimpi serupa? apa anda pernah bertemu atau mendapat berita? Kalau ada apa semuanya rasul? karena teman saya sendiri mengakui dirinya Rasul.

Terus bagaimana dengan saya yang mendapati mimpi ditunjukkan bentuk yang dapat dipahami manusia sebagai Syaithan? Apa saya termasuk Dajjal? atau sudah sesat? karena pengalaman spiritual saya juga lumayan banyak, namun banyak dari segi penampakan dan pengalaman bentuk2 gaib.

Kalau secara nalar Agama, saya belum pernah atau setidaknya tidak tahu atau tidak mengerti seperti apa itu Pencerahan, petunjuk atau entah apa namanya dari jargon2 tiap tiap Agama.

Yang saya yakini anda pintar dalam segi bahasa, memorinya besar hingga lumayan gak gila gila amat, karena banyak orang yang saya temui cukup pintar dan tergolong jenius untuk men-justify berdasarkan sepenggal2 ayat dalam kitab suci.

Gila=pintar, tapi belum diyakini kebenarannya. (logical thinking proven by scriptures) sayang sekali kalau anda bersifat hostile untuk menjawab argumen2 orang lain, mudah2an tidak, yah siapa yang tau juga? mungkin anda diberi kelebihan untuk disampaikan mimpi yang baik2, beruntungnya anda beda sama saya yang sekian kali disampaikan mimpi diperkenalkan dengan bentuk2 aneh namun saya yakini sebagai "Syaithan".

tolong di beri argumen yang bisa diterima, saya yakin anda cukup pintar dan pengalaman.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Corey: Saya tidak ingin berandai-andai. Lagi pula pelantikan kerasulan itu sifatnya sangat personal. Hanya orang yang bersangkutan yang dapat menilai dan menyimpulkan apa yang dia alami.

Dalam kasus teman anda yang mengaku sebagai rasul, anda dapat menguji pengakuannya dengan beberapa kriteria yang terdapat di sini.

Tidak ada kaitannya karena anda ditunjukkan setan di dalam mimpi, maka berarti anda dajal :)

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih