11.2.11

Apakah Islam Itu?

Mengidentikkan Islam dengan ajaran Nabi Muhammad (damai atasnya) yang muncul di Jazirah Arab pada abad ke-7 adalah sebuah kesalahpahaman. Islam, yang secara harfiah artinya “berserah”, adalah nama bagi agama yang dibawa oleh semua nabi-nabi yang diutus Tuhan. Tidak saja Nabi Muhammad, nabi-nabi yang lain seperti Ibrahim (damai atasnya), Musa (damai atasnya), dan Isa (damai atasnya) pun membawa ajaran Islam.

“Tiadalah Ibrahim itu seorang Yahudi, dan tidak (pula) seorang Nasrani, dan tetapi dia adalah seorang yang lurus, seorang yang berserah (Islam), dan tiadalah dia tergolong orang-orang yang menyekutukan.” (Quran 3:67 [lihat pula 22:78])

“Dan Musa berkata, ‘Wahai kaumku, jika kalian percaya kepada Tuhan, maka bersandarlah kepada-Nya, jika kalian orang-orang yang berserah (Islam).’” (Quran 10:84)

“Maka ketika Isa merasakan keingkaran itu dari mereka, dia berkata, ‘Siapakah penolong-penolongku kepada Tuhan?’ Berkatalah para penyokong, ‘Kamilah penolong-penolong Tuhan; kami telah percaya kepada Tuhan, dan engkau saksikanlah sesungguhnya kami (adalah) orang-orang yang berserah (Islam).’” (Quran 3:52)

Inti dari ajaran Islam yang dibawa oleh para nabi itu adalah penghambaan kepada Tuhan dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Wujud ideal yang diharapkan kemudian adalah terlepasnya umat dari ajaran yang diada-adakan oleh manusia (pemuka, rabi, resi, pendeta, ulama, imam, dll), dan hanya terpaut kepada ajaran Tuhan. Itulah pembuktian manusia sebagai hamba bagi Dia, dan bukan hamba bagi selain Dia.

“...Dia telah memerintahkan bahwa janganlah kalian menghamba selain kepada-Nya. Itulah agama yang lurus, dan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Quran 12:40)

Pesan inti peng-esa-an Tuhan tersebut tidak pernah berubah sejak awal pengutusan nabi dan rasul ke dunia. Adapun mengenai detail ajaran yang harus diindahkan dalam laku penghambaan, terdapat perbedaan-perbedaan antara era kenabian yang satu dengan yang lain.

Pada zaman Nabi Musa, ketentuan agama Islam tentang apa-apa yang diperintahkan dan apa-apa yang dilarang adalah sebagaimana yang tercantum di dalam Taurat. Pada era Nabi Isa, aturan-aturan agama Islam itu adalah apa yang disebutkan di dalam Injil. Dan sejak masa Nabi Muhammad hingga akhir zaman nanti, pedoman agama Islam adalah apa yang tertulis di dalam Quran.

(Catatan: Pembahasan “Islam” sebagai nama/sebutan di dalam tulisan ini tidak menafikan makna “Islam” sebagai ungkapan sikap “berserah” sebagaimana yang banyak ditemukan di dalam ayat-ayat Quran.)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

3 comments:

joker mengatakan...

menurut saya agama yang sebenarnya tidak bernama, islam mungkin hanya mewakili suatu makna: berserah. namun hakikatnya itu bisa diwakili oleh kata dari bahasa masing2 makhluknya.

jadi keyakinan apapun, yang sejalan dengan "islam", bisa disebut islam walaupun sama sekali tidak kenal dengan Muhammad.

tapi saya lebih sepakat agama tidak usah ada namanya, karena bisa mereduksi makna aslinya.

dan lebih bahaya kalau sudah terlembaga, orang hanya berpegang pada baju luar, daripada isinya.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Joker: Betul bahwa penamaan berpotensi mereduksi makna asli, namun kita tetap perlu penamaan untuk identifikasi. Dan kenyataannya Tuhan memang memberi "nama" bagi agama-Nya.

Yang penting adalah kita tetap menjelaskan pengertian yang benar atas sebuah "nama".

Silakan baca juga tulisan berjudul Tuhan Hanya Menurunkan Satu Agama untuk melengkapi pemahaman.

Raga mengatakan...

Salam,
Detail ajaran yg berbeda itu misalnya apa saja ? Apa mengenai tata cara shalat ? Puasa ? Dll.
Bisa tolong dijelaskan ?
Thx

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih