18.11.11

Akhlak Kepada Rasul

Pada dasarnya, utusan Tuhan (rasulullah) adalah manusia biasa yang tidak berbeda dengan manusia lain. Namun demikian, terkait dengan status “rasul” yang disandangkan Tuhan ke atas dirinya, terdapat ketentuan khusus dalam bersikap terhadap utusan yang tidak bisa disamakan dengan sikap kita terhadap orang lain pada umumnya.

Sekurang-kurangnya ada sebelas butir ketentuan bersikap terhadap rasul di dalam Quran. Ketentuan ini adalah bagian dari panduan agama, karenanya ia harus diindahkan dengan sebenar-benarnya oleh orang beriman.

Sebelas butir tersebut selengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Patuh pada rasul.

Ini adalah akhlak yang paling mendasar. Orang-orang yang beriman hendaknya mematuhi segala apa yang diputuskan oleh utusan. Apabila rasul meminta pendapat, silakan kemukakan pendapat kita jika memang ada. Namun ketika suatu urusan telah diputuskan, maka yang tinggal hanyalah pelaksanaan sepenuh hati tanpa ada keberatan.

“Dan tidaklah Kami mengutus seorang utusan selain untuk dipatuhi dengan izin Tuhan ...” (Quran 4:64)

Kepatuhan pada utusan senilai dengan kepatuhan pada Tuhan. Oleh karena itu, jangan hanya melihat pada wujud rasul yang tidak lain adalah manusia biasa. Tetapi sadarilah nilai yang terkandung di dalam kepatuhan kita kepada dirinya.

“Barang siapa mematuhi utusan itu, maka sungguh dia telah mematuhi Tuhan ...” (Quran 4:80)

2. Tidak menganggap biasa seruan rasul.

Di dalam pergaulan dengan sesama, tidak jarang kita menawar atau menolak suatu ajakan dari rekan kita. Misalnya ada teman yang mengajak untuk bertemu pada jam delapan, lalu kita bilang supaya pertemuannya jam sepuluh saja. Atau ketika ada rekan kita yang mengajak ke sebuah acara, mungkin kita menolaknya dengan alasan tidak menyukai acara tersebut.

Reaksi seperti yang demikian lumrah saja dalam pergaulan yang umum.

Namun Tuhan mengingatkan orang beriman agar tidak memperlakukan ajakan dari rasul sama seperti ajakan dari orang lain yang bisa saja ditawar atau ditolak. Ketika rasul mengimbau untuk suatu urusan, penuhilah imbauan tersebut dengan segenap kepatuhan.

“Janganlah kalian jadikan panggilan rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian (kepada) sebagian (yang lain) ...” (Quran 24:63)

3. Tidak mendahului rasul dalam perkataan maupun perbuatan.

Ketika bersama utusan, tahanlah diri untuk tidak memutuskan sesuatu yang belum diputuskan oleh utusan. Dan jangan pula berinisiatif mengambil suatu tindakan yang belum ada ketetapan atau persetujuan dari rasul untuk itu.

“Wahai orang-orang yang percaya, janganlah kalian mendahului di hadapan Tuhan dan utusan-Nya, dan takutlah kepada Tuhan. Sesungguhnya Tuhan Mendengar, Mengetahui.” (Quran 49:1)

4. Tidak coba menyimpangi apa yang telah diputuskan oleh rasul.

Butir ke empat ini berkaitan dengan butir pertama, yaitu kepatuhan. Ketika suatu urusan telah diputuskan oleh rasul, tidak ada lagi ruang untuk mempertanyakan keputusan tersebut.

Apabila rasul telah menetapkan A, maka tidak pada tempatnya orang beriman berkata, “Bagaimana kalau B saja?” atau “Kami pikir C akan lebih baik”, dan semacamnya. Yang patut diucapkan oleh orang beriman atas putusan rasul adalah ekspresi kepatuhan, yaitu “Kami dengar, dan kami patuh”.

“Dan tiadalah bagi lelaki beriman, dan tiadalah (pula) (bagi) perempuan beriman, apabila Tuhan dan utusan-Nya telah menetapkan suatu perkara, akan ada bagi mereka pilihan dari perkara mereka. Dan barang siapa mendurhakai Tuhan dan utusan-Nya, maka sungguh telah sesat, (dengan) kesesatan yang nyata.” (Quran 33:36)

5. Mencintai rasul lebih daripada rasa cinta kepada orang tua, anak, saudara, pasangan, suku, harta benda, usaha, maupun tempat tinggal.

Orang-orang yang percaya harus meletakkan kecintaannya terhadap hal-hal keduniawian tersebut di bawah kecintaannya kepada Tuhan dan utusan-Nya. Ketika ada seruan dari rasul untuk misalnya berjuang di jalan Tuhan, orang-orang beriman akan bersegera kepada ajakan tersebut meski konsekuensinya mereka harus berpisah dari apa-apa yang mereka sukai.

“... ‘Jika bapak-bapak kalian dan putra-putra kalian, dan saudara-saudara kalian, dan pasangan-pasangan kalian, dan suku kalian, dan harta benda yang kalian peroleh, dan perniagaan yang kalian takuti kerugiannya, dan tempat-tempat tinggal yang kalian senangi lebih kalian cintai daripada Tuhan dan utusan-Nya dan (daripada) berjuang di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Tuhan mendatangkan perintah-Nya. Dan Tuhan tidak menunjuki kaum pendosa’.” (Quran 9:24)

6. Tidak membeda-bedakan para rasul.

Para utusan itu memang ada yang derajatnya dilebihkan Tuhan dibandingkan utusan yang lain. Ada pula rasul yang diberi Tuhan kelebihan tertentu yang tidak dikaruniakan kepada rasul yang lain. Contohnya, rasulullah Musa (damai atasnya) diberi kesempatan bercakap-cakap dengan Tuhan; rasulullah Ibrahim (damai atasnya) disebut Tuhan sebagai “sahabat”-Nya.

Meskipun demikian, orang-orang beriman tidak boleh membeda-bedakan para utusan. Tidak boleh menganggap ada “rasul besar” sehingga secara tidak langsung yang selainnya dianggap “rasul kecil”. Para utusan yang telah dipilih Tuhan tersebut semuanya sama berstatus “utusan”, karena itu perlakukanlah mereka semua sama sebagai utusan Tuhan.

“Utusan itu telah percaya pada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuannya, dan (demikian pula) orang-orang yang percaya. Tiap-tiap mereka telah percaya pada Tuhan, dan malaikat-malaikat-Nya, dan Kitab-Kitab-Nya, dan utusan-utusan-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun antara utusan-utusan-Nya.’ Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami patuh, (kami mohon) pengampunan Engkau (wahai) Tuan kami, dan kepada Engkau lah tempat kembali.’” (Quran 2:285)

7. Merendahkan suara ketika berbicara di dekat rasul.

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suara mereka di sisi utusan Tuhan, mereka itulah orang-orang yang telah Tuhan uji hatinya untuk berhati-hati (takwa). Bagi mereka ampunan dan imbalan yang besar.” (Quran 49:3)

8. Bersedekah sebelum melakukan pembicaraan khusus (empat mata) dengan rasul.

Orang beriman meminta kesempatan berbicara secara khusus dengan rasul biasanya sehubungan dengan hal-hal yang bersifat privat, seperti pengakuan dosa dan permohonan pengampunan.

“... Dan apabila mereka menzalimi diri-diri mereka sendiri mereka datang kepada engkau, lalu meminta ampun kepada Tuhan, dan utusan (pun) memintakan ampun untuk mereka, niscaya mereka mendapati bahwa Tuhan Penerima Tobat, Pengasih.” (Quran 4:64)

Sebelum seorang beriman melangsungkan pembicaraan khusus dengan utusan, wajib baginya menyerahkan sejumlah sedekah kepada rasul, kecuali jika dia memang tidak memiliki sesuatu apa yang akan disedekahkan.

“Wahai orang-orang yang percaya, apabila kalian berbicara khusus dengan utusan, maka sebelum pembicaraan khusus kalian itu dahulukanlah (dengan) suatu sedekah. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, dan lebih bersih. Kemudian jika kalian tidak mendapatkan, maka sesungguhnya Tuhan Pengampun, Pengasih.” (Quran 58:12)

Pemungutan sedekah oleh utusan atas harta orang-orang beriman sejalan dengan salah satu fungsi diutusnya rasul ke tengah-tengah umat, yaitu untuk menyucikan mereka (lihat Quran 2:129, 2:151, 3:164, 62:2).

Rasul menyucikan orang-orang beriman dengan jalan menarik sedekah dari mereka.

“Ambillah dari harta mereka sedekah (yang) dengannya engkau membersihkan mereka dan menyucikan mereka, dan berkatilah mereka. Sesungguhnya pemberkatan engkau (adalah) ketenteraman bagi mereka. Dan Tuhan Mendengar, Mengetahui.” (Quran 9:103)

Sedekah yang dikutip oleh rasul selanjutnya akan digunakan sesuai dengan peruntukan sedekah sebagaimana yang telah diatur di dalam Quran.

9. Tidak meninggalkan suatu pertemuan dengan rasul sebelum meminta izin kepadanya.

“Sesungguhnya hanyasanya orang-orang beriman itu (adalah) mereka yang percaya pada Tuhan dan utusan-Nya, dan apabila mereka berkumpul bersama dia atas suatu urusan, mereka tidak pergi sehingga mereka meminta izinnya ...” (Quran 24:62)

10. Tidak mengadakan suatu pembicaraan rahasia (pembicaraan terbatas dan tanpa kehadiran rasul) dalam rangka mendurhakai rasul.

“Wahai orang-orang yang percaya, apabila kalian saling berbicara rahasia maka janganlah berbicara rahasia dengan dosa, dan permusuhan, dan mendurhakai utusan. Dan berbicara rahasialah dengan kebaikan dan kehati-hatian (takwa), dan takutlah kepada Tuhan yang kepada-Nya kalian akan dihimpun.” (Quran 58:9)

11. Tidak mengawini perempuan yang pernah diperistri oleh rasul.

“... Dan tiadalah bagi kalian untuk menyakiti utusan Tuhan, dan tiada (pula) mengawini istri-istrinya sesudah dia selama-lamanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah besar pada sisi Tuhan.” (Quran 33:53)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

0 comments:

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih