11.12.08

Tragedi Kaum-Kaum Yang Mendustakan Rasul

Kaum Nabi Nuh
Rasulullah Nuh (damai atasnya) telah diutus kepada kaumnya untuk memperingatkan mereka supaya menghamba dan bertakwa kepada Allah, serta mematuhi Nuh selaku rasul.

Pembesar-pembesar kaumnya mengingkari seruan Nuh dan berkata bahwa Nuh adalah orang yang sesat.  Kaumnya yang ingkar menyombongkan diri dengan berkata bahwa Nuh itu hanya diikuti oleh orang-orang yang hina.  Mereka mengancam akan melempari Nuh apabila tidak menghentikan dakwahnya.

Allah kemudian memerintahkan Nuh untuk membangun sebuah kapal.  Pembesar kaumnya mengejek Nuh setiap kali mereka melewati Nuh yang sedang membangun kapal.  Nuh yang telah mengetahui dari Allah tentang rencana penenggelaman kaumnya menjawab ejekan mereka dengan berkata bahwa nanti giliran merekalah yang akan diejek.

Pada waktu yang telah ditetapkan Allah, hujan turun tak henti-henti dan mata air meluap-luap.  Nuh segera memerintahkan pengikutnya untuk naik bersama keluarga mereka ke atas kapal.  Mereka berlayar dengan selamat di atas gelombang besar sementara orang-orang yang ingkar musnah ditenggelamkan.

Kaum Ad
Kepada kaum Ad, Allah telah mengutus Rasulullah Hud (damai atasnya) untuk memperingatkan mereka supaya menghamba dan bertakwa kepada Allah, serta mematuhi Hud selaku rasul.

Pembesar-pembesar yang ingkar dari kaumnya mengatakan bahwa Hud dungu dan pendusta.  Mereka mempertanyakan ajakan Hud untuk menyembah hanya satu Tuhan, dan meninggalkan apa yang disembah oleh kakek moyang mereka.

Kaum Ad berkilah bahwa sama saja bagi mereka diberi peringatan atau tidak.  Mereka yakin bahwa mereka tidak akan mendapat azab Allah.  Mereka menantang Hud agar mendatangkan ancaman Allah itu jika memang dia adalah orang yang benar.

Pada hari yang ditentukan Allah, kaum Ad melihat awan berarak menuju lembah-lembah mereka.  Mereka merasa senang karena menyangka bahwa itu adalah awan yang membawa hujan.  Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya yang datang itu adalah angin ribut berbatu yang meluluhlantakkan segala yang dilewatinya.

Pada pagi harinya tiada lagi yang tersisa pada kaum Ad selain tempat tinggal mereka.  Adapun tubuh-tubuh mereka mati bergelimpangan bagaikan batang-batang kurma yang tumbang.

Kaum Tsamud
Rasulullah Saleh (damai atasnya) diutus kepada kaum Tsamud untuk memperingatkan mereka supaya menghamba dan bertakwa kepada Allah, serta mematuhi Saleh selaku rasul.

Kaumnya berkata bahwa Saleh tidak lain dari pendusta dan seorang yang kena sihir.  Menurut kaumnya mereka telah sesat dan gila kalau mengikuti Saleh yang tidak lain seorang manusia seperti mereka juga.

Kepada kaum Tsamud Allah mengaruniakan seekor unta betina sebagai suatu tanda dari Allah sekaligus cobaan bagi mereka.  Mereka dipesankan agar tidak mengganggu unta betina tersebut, dan membiarkannya mendapat giliran untuk minum.

Pembesar-pembesar kaumnya yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang beriman yang mereka anggap rendah, bahwa mereka tidak percaya kepada kerasulan Saleh.  Mereka lalu membunuh unta betina tersebut dan meminta Saleh agar mendatangkan ancaman Allah itu jika memang benar beliau seorang rasul.

Saleh berkata bahwa ancaman Allah akan digenapkan tiga hari kemudian.  Pada hari nahas itu kaum Tsamud direnggut oleh gempa bumi yang diiringi satu suara keras.  Mereka mati di tempat-tempat tinggal mereka, bergelimpangan seperti rumput-rumput ternak.

Kaum Nabi Luth
Rasulullah Luth (damai atasnya) telah diutus kepada kaumnya untuk memperingatkan mereka supaya menghamba dan bertakwa kepada Allah, serta mematuhi Luth selaku rasul.

Luth mengecam mereka atas perbuatan homoseksual yang biasa mereka lakukan.  Kaumnya menganggap bahwa Luth adalah orang yang ingin bersih, karena itu mereka mengusulkan agar Luth diusir saja dari negeri mereka.

Allah kemudian mengutus malaikat-Nya untuk membinasakan kaum Luth yang durhaka.  Luth dan keluarganya diperintahkan untuk menyingkir hijrah ke tempat yang telah diperintahkan Allah.  Mereka bergerak pada akhir malam, meninggalkan negeri yang akan tertimpa bencana.  Satu-satunya keluarga Luth yang tinggal adalah istrinya, karena dia termasuk orang yang ingkar.

Pada waktu matahari terbit, ledakan gunung berapi menjungkalkan negeri kaum Luth dan menghujani mereka dengan bebatuan yang membara.

Kaum Madyan
Rasulullah Syuaib (damai atasnya) telah diutus kepada penduduk Madyan.  Syuaib menyuruh mereka untuk menghamba kepada Allah, menepati sukatan, tidak berbuat curang, dan tidak merusak di bumi.

Pembesar-pembesar kaumnya yang menyombongkan diri berkata bahwa mereka akan mengusir Syuaib dan pengikutnya kecuali mereka kembali kepada keyakinan kaumnya.  Para pembesar tersebut berkata bahwa siapa yang mengikuti Syuaib adalah orang-orang yang merugi.

Kemudian gempa bumi yang diiringi suara keras merenggut mereka.  Menjadikan mereka bergelimpangan tak bernyawa di tempat-tempat tinggal mereka.

Kaum Firaun
Rasulullah Musa (damai atasnya) dan Harun (damai atasnya) telah diutus kepada Firaun.  Musa menyatakan kerasulannya dan meminta Firaun agar membebaskan bani Israel dari perbudakan, dan membiarkan mereka pergi bersamanya.

Firaun dan pembesar-pembesarnya mengetawakan Musa.  Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin mereka akan mempercayai dua orang manusia yang sama dengan mereka.  Apalagi Musa adalah orang yang mereka pandang hina, bahkan kaum Musa (bani Israel) adalah budak-budak mereka.

Firaun dan pengikutnya mengatakan bahwa Musa dan Harun adalah orang yang kerasukan, atau ahli sihir yang ingin berkuasa dan memalingkan mereka dari keyakinan yang telah mereka anut turun temurun.

Atas perintah Allah, Musa menghimpun bani Israel untuk berhijrah pada suatu malam.  Firaun yang menyadari pelarian Musa dan bani Israel memobilisasi balatentaranya untuk mengejar Musa dan pengikutnya di waktu matahari terbit.

Musa dan pengikutnya hampir tersusul, sementara di hadapan mereka laut Merah membentang.  Atas perintah Allah, Musa memukul laut dengan tongkatnya sehingga laut itu pun terbelah.  Masing-masing belahan bagaikan gunung tinggi yang besar.

Dua golongan yang berkejaran itu semakin dekat sebelum akhirnya Musa dan pengikutnya selamat sampai ke seberang dan laut kembali bertaut merenggut Firaun dan balatentaranya.

Umat-umat terdahulu dikisahkan di dalam kitab Allah untuk menjadi renungan dan peringatan bagi orang-orang yang datang kemudian.  Perhatikanlah akibat dari orang-orang yang mendustakan para rasul.  Bangunan-bangunan sisa peradaban mereka begitu kukuh dan hebat, melebihi kekuatan bangunan zaman kita ini.  Namun semua kehebatan itu tidak berguna menghadapi azab Allah.  Dalam sekejap mereka musnah dengan menghinakan.

Kini seorang rasul telah hadir di Indonesia.  Apabila penduduknya mendustakan, maka mereka pasti akan menemui nasib yang sama dengan kaum-kaum terdahulu.  Yang demikian itu adalah sunatullah yang tidak akan mungkin berubah.

Share on Facebook

Artikel Terkait: