13.10.10

Penyaliban Isa

Nabi Isa (damai atasnya), yang dikenal pula dengan sebutan Yesus, mempunyai tempat khusus di dalam khazanah agama umat Islam dan umat Nasrani. Terdapat beberapa perbedaan tentang bagaimana masing-masing umat memandang figur Isa, salah satunya adalah dalam masalah “penyaliban.”

Siapakah Yang Disalib?

Umat Islam menyatakan bahwa Isa tidak dihukum salib. Yang disalib itu menurut umat Islam adalah orang lain (Yudas) yang diserupakan dengan Isa. Jadi para penyalib itu melihat seakan-akan yang mereka salib adalah Isa, padahal bukan.

Keterangan Quran yang digunakan untuk mendasari pendapat tersebut adalah ayat berikut:

”... Tetapi mereka (orang-orang Yahudi) tidak membunuhnya, dan tidak juga menyalibnya, melainkan diserupakan bagi mereka...” (Quran 4:157)

Apakah benar ayat di atas menunjukkan bahwa bukan Isa yang dihukum salib? Sangat penting untuk mendudukkan dengan jelas siapa-siapa saja pihak yang ada pada ayat di atas agar kita dapat memahaminya dengan lebih jernih. Kita dapat melihat bahwa “mereka” pada ayat tersebut mengacu pada orang-orang Yahudi, dan “dia/nya” pada ayat tersebut mengacu pada Isa.

Lalu siapakah yang “diserupakan” pada ayat tersebut? Jawabannya adalah tentu saja Isa! Tidak logis kalau tiba-tiba kita mengajukan orang lain (katakanlah Yudas) yang sama sekali tidak pernah disinggung pada ayat tersebut maupun pada ayat-ayat sebelumnya sebagai objek yang “diserupakan.”

Jadi bukan orang lain yang wajahnya diserupakan seakan-akan dia Isa. Tapi Isa lah yang diserupakan seakan-akan dia telah mati.

Penyaliban adalah sebuah bentuk hukuman mati yang akan mematikan si terhukum secara perlahan-lahan. Sekali lagi ditegaskan bahwa penyaliban adalah hukuman mati. Jadi kalaupun seseorang telah diikat atau dipaku di tiang salib, namun tidak sampai terbunuh, maka itu bukanlah penyaliban dalam arti yang sesungguhnya. Dan hal tersebutlah yang terjadi pada Isa.

Memang terdapat keterbatasan bahasa dalam mengistilahkan peristiwa penyaliban. Kalau orang yang dihukum salib sampai mati kita sebut “disalib,” lalu orang yang disalibkan tetapi tidak sampai mati--seperti yang sering dilakukan sebagian umat Nasrani untuk menapaktilasi pengalaman Yesus--harus disebut apa? Sepertinya tidak ada pilihan lain selain mengatakannya “disalib” juga.

Tetapi setidaknya kita paham bahwa “penyaliban” dalam arti yang sesungguhnya adalah sebentuk hukuman mati. Dari sudut pandang ini, maka orang yang disalibkan namun tidak sampai mati bisa dibilang “tidak disalib.”

Sampai di sini kiranya umat Islam dapat mengoreksi pemahamannya atas penyaliban Isa. Yaitu sebenarnya tidak ada “pemeran pengganti” dalam peristiwa penyaliban tersebut.

Koreksi selanjutnya ditujukan kepada umat Nasrani yang menganggap Yesus wafat disalib. Kali ini ayat-ayat dalam Bibel yang akan banyak dikutip sebagai dasar penjelasan.

Apakah Yesus Mati Disalib?

Dengan berbagai fitnah akhirnya orang-orang Yahudi berhasil meyakinkan raja agar menjatuhkan hukuman salib atas diri Yesus. Pada hari penyaliban tersebut Yesus disalib bersama dua orang terhukum lain. Satu orang di sebelah kanan, dan satu orang lagi di sebelah kiri beliau.

Karena saat itu adalah hari persiapan untuk Sabat, yaitu hari yang disucikan oleh kaum Yahudi, maka orang-orang Yahudi meminta agar mayat para tersalib segera diturunkan agar tidak menjadi aib. Masalahnya, para terhukum salib tersebut masih belum mati karena penyaliban berlangsung belum cukup lama.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ada cara untuk mempercepat kematian orang yang dihukum salib, yaitu dengan mematahkan kakinya. Kaki dua orang terhukum lain yang masih hidup dipatahkan oleh eksekutor, namun kaki Yesus tidak dipatahkan karena mereka melihat bahwa beliau telah mati.

“tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,” (Yohanes 19:33)

Perhatikan kata-kata “melihat bahwa Ia telah mati” pada ayat di atas. Ungkapan tersebut sejajar dengan apa yang di dalam Quran dinyatakan sebagai “diserupakan bagi mereka.”

Ada dua kemungkinan apabila seseorang “terlihat telah mati.” Kemungkinan pertama adalah bahwa dia benar-benar telah mati, dan kemungkinan yang lain adalah bahwa dia sebenarnya belum mati.

Pada zaman ketika ilmu kedokteran sudah maju seperti saat ini saja kita masih mendengar ada “mayat” yang hidup kembali beberapa jam setelah dinyatakan mati. Maksudnya orang tersebut sebenarnya belum benar-benar mati, tapi hanya pingsan atau jantungnya berhenti sementara (mati suri). Maka dua ribu tahun yang lalu kesalahan dalam mendiagnosa kematian seseorang tentu lebih mungkin lagi terjadi.

Sekadar mengingatkan kembali bahwa ketika eksekutor “melihat Yesus telah mati,” dua orang terhukum lain yang disalib bersama dengan beliau masih hidup (maka kaki mereka dipatahkan). Fakta ini memperkuat alasan untuk mengatakan bahwa penyaliban yang dilakukan pada saat itu--tiga jam menurut sejarawan--belum cukup lama untuk mematikan si terhukum.

Tidak kurang dari raja pun merasa heran dengan berita kematian Yesus. Keheranan raja disebabkan dia tahu bahwa seharusnya dibutuhkan waktu penyaliban yang lebih lama untuk membuat seorang terhukum salib itu mati.

“Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati.” (Markus 15:44)

Jadi, sebenarnya saat itu Yesus sudah mati atau masih hidup? Kita lanjutkan dulu ceritanya sedikit lagi.

Setelah eksekusi dianggap selesai, dan Yesus dianggap sudah mati, murid-murid rahasia Yesus--yaitu Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus--menghadap raja untuk meminta jasad guru mereka. Dan permintaan tersebut dikabulkan.

Mereka kemudian menurunkan Yesus dari tiang salib, mengafani beliau, dan memakamkan beliau di dalam sebuah kuburan yang terletak tidak jauh dari lokasi penyaliban. Jangan bayangkan kuburan Yesus tersebut berupa timbunan tanah seperti yang umumnya kita ketahui. Kuburan beliau adalah berupa ruang bawah tanah (gua batu) yang memiliki celah-celah udara, sehingga masih memungkinkan orang untuk bernapas di dalamnya.

Dua hari kemudian, salah seorang murid Yesus, Maria Magdalena datang ke kuburan beliau dan mendapati batu penutup makam telah tergeser, dan jasad beliau sudah tidak ada di tempatnya. Maria pun menangis. Di saat yang menyedihkan itu, Yesus--yang menyamar sebagai penunggu taman- hadir dan menyatakan bahwa diri beliau belum mati. Pada malam harinya Yesus memunculkan diri pula di hadapan murid-murid yang lain, dan menegaskan bahwa dirinya masih hidup.

Ya, Yesus masih hidup!

Pertanyaannya kemudian, status Yesus yang hadir kembali dalam keadaan hidup tersebut adalah sebagai orang yang belum mati, ataukah orang yang telah mati namun hidup kembali?

Kehadiran Yesus dalam keadaan hidup menunjukkan bahwa beliau belum mati dalam penyaliban. Beliau hanya sempat pingsan atau mati suri saja ketika itu. Hal ini merupakan wujud dari didengarkannya doa beliau oleh Tuhan. Doa yang “didengarkan” maksudnya adalah doa tersebut dikabulkan/dipenuhi.

“Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” (Mazmur 5:7)

Apakah Yesus ada berdoa terkait dengan ancaman yang beliau hadapi ketika itu? Ya, sebelum terjadinya penangkapan di Getsemani, Yesus bermunajat kepada Tuhan agar diselamatkan dari cawan kematian yang tengah dipersiapkan oleh musuh-musuhnya.

“’Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.’” (Lukas 22:42)

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” (Lukas 22:44)

Jika Yesus mati disalib, maka tidak bisa dikatakan bahwa doa beliau telah dikabulkan Tuhan. Tetapi Tuhan telah mengabulkan doa hamba-Nya yang saleh tersebut dengan menyelamatkan Yesus dari maut.

Sampai di sini hendaklah saudara-saudara Nasrani bangun dari lamunannya tentang Yesus yang berkorban untuk menebus dosa manusia. Yesus tidak berkorban (beliau justru meratap agar diselamatkan dari upaya tersebut), dan upaya untuk “mengorbankan” beliau telah gagal.

Jika anda ingin mendapat keselamatan, berimanlah dengan benar, dan berbuatlah yang benar. Jika tidak, ketahuilah bahwa tiada siapapun yang dapat menyelamatkan anda di pengadilan Tuhan kelak.

Kepada orang-orang Yahudi yang kerap besar kepala karena merasa sebagai “kesayangan Tuhan,” ketahuilah bahwa makar kalian telah gagal. Tipu daya kalian terhadap utusan Allah telah dibalas-Nya dengan tipu daya yang lebih hebat!

“Dan mereka membuat tipu daya, dan Allah membuat tipu daya, dan Allah adalah yang terbaik (di antara) pembuat-pembuat tipu daya.” (Quran 3:54)

Share on Facebook

Artikel Terkait: