4.9.08

Allah Atau Tuhan?

Ada “sesuatu” yang maha berkuasa di jagat raya ini. “Sesuatu” itu menciptakan dan mengatur tatanan seisi alam semesta. “Sesuatu” itu adalah sumber kehidupan sekaligus penentu kematian. “Sesuatu” itu tidak terlihat, tetapi keberadaannya sangat nyata.

“Sesuatu” itu dibahasakan oleh orang Arab sebagai “Allah”. Orang-orang yang berbahasa Inggris mengatakannya “God”. Dalam bahasa Indonesia ia disebut “Tuhan”. Ribuan bahasa lain di dunia ini mempunyai kosa katanya masing-masing untuk menyebut “sesuatu” itu.

Sebutan “Allah”, selain digunakan oleh orang Arab, juga digunakan oleh umat Islam di berbagai negara non-Arab termasuk Indonesia.

Penyebutan “Allah” oleh masyarakat Islam di Indonesia adalah hasil penyerapan istilah-istilah Arab yang masuk seiring dengan datangnya ajaran Islam ke Nusantara. Karena sebutan “Allah” itu awal datangnya melekat pada agama Islam, selanjutnya orang-orang Islam mengidentikkan sebutan “Allah” itu dengan identitas keislaman mereka. Nah, dari sinilah kemudian akan muncul bahaya.

Orang Arab, apapun agamanya, menyebut “Allah” untuk memaksudkan “Tuhan”. Ada pula istilah “ilah” yang bisa dimaknai sebagai apapun (termasuk patung berhala, pemimpin/ulama, keinginan) yang dipertuhankan. Tetapi untuk menyebut “sesuatu” yang Maha Kuasa itu (Tuhan), tidak ada kosa kata bahasa Arab selain “Allah”.

Sebutan “Allah” di benak orang Arab, sama dengan sebutan “Tuhan” di benak orang Indonesia. Sifatnya umum dan netral, tidak khas agama tertentu. Kita bisa membaca di dalam Quran bab 9 ayat 30 bahwa istilah “Allah” digunakan sebagai padanan untuk istilah “Tuhan” yang disebut oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Bisa jadi pada kenyataannya kaum Yahudi dan Nasrani yang diceritakan pada ayat tersebut tidak melafalkan istilah “Allah,” namun karena redaksional Quran adalah dalam bahasa Arab, maka istilah yang mereka gunakan dalam menyebut “Tuhan” turut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi “Allah”.

Hal yang sama akan kita temukan di dalam Bibel terjemahan bahasa Arab. Sebagai contoh, kitab Kejadian pasal 1 ayat 1 yang terjemahan dalam bahasa Indonesianya berbunyi, “Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi”, di dalam Bibel terjemahan bahasa Arab tertulis, “Fil bad’i khalaqallaahu samaawaati wal ardh”.


“Allah” di sana adalah terjemahan bahasa Arab untuk istilah bahasa Ibrani “Elohim” yang berarti “Tuhan/God.”

Jadi sudah sangat jelas bahwa “Allah” tidak lebih dari istilah bahasa Arab untuk menyebut “Tuhan.”

Lain di Arab, lain pula di sini. Di Indonesia, dan di negara-negara lain yang tidak berbahasa Arab, umat Islam menyebut “Allah” untuk memberi kesan eksklusif sebagai “Tuhannya orang Islam”.

Adanya peng-eksklusif-an sebutan “Allah” ini dapat dilihat dari perilaku umat. Umat Islam lebih memilih untuk menyebut “Allah” daripada “Tuhan”. Seakan-akan sebutan “Allah” itu memiliki keterkaitan yang tak terpisahkan dengan keislaman. Sebaliknya, sebutan “Tuhan” dirasa kurang “islami” karena bersifat netral.

Selain itu, umat Islam merasa perlu melekatkan gelar “SWT” untuk membedakan “Allah” yang mereka sebut dengan “Allah” yang orang Nasrani juga sebut. Sejatinya, SWT (Subhanahu Wa Ta’ala) adalah sebuah pujian yang artinya “Agung dan Tinggilah Dia”. Namun kemudian pujian tersebut mengkristal menjadi “nama belakang” yang digunakan untuk menandakan “Allahnya orang Islam”.

Upaya pembedaan lainnya—yang tampak dipaksakan—adalah dengan memodifikasi tulisan “Allah” menjadi “Alloh” (dengan “o”). Mereka ingin menegaskan bahwa yang mereka tulis itu dibaca dengan “L” tebal, bukan dengan “L” tipis seperti pengucapan orang Nasrani. Saya katakan ini sebagai upaya yang dipaksakan karena aksen Arab sendiri lebih condong kepada bunyi “Allah”, bukan “Alloh”.

Dengan mempersepsi “Allah” sebagai “Tuhannya orang Islam”—yang tampak dari berbagai upaya pengeksklusifan di atas,—sebenarnya umat sudah terjebak pada kerangka berpikir yang berbahaya.

Jika umat mengakui ada “Tuhannya orang Islam” (yaitu “Allah”), maka pasti sebaliknya diakui pula ada “Tuhannya orang non-Islam”. Dengan kata lain, tanpa disadari terbentuk anggapan bahwa Tuhan itu ada lebih dari satu!

Padahal, Tuhan itu Esa. Yang menurunkan kitab suci dan mengutus para nabi dan rasul adalah Tuhan; yang menghidupkan dan mematikan kita maupun rekan kita yang berlainan agama adalah Tuhan; yang mengaruniakan rezeki kepada orang Islam maupun kepada orang Nasrani, orang Hindu, orang ateis, dsb. adalah Tuhan. Hanya ada satu Tuhan. Tidak ada “Tuhannya orang Islam” atau “Tuhannya orang non-Islam”.

Adapun yang dijadikan sembahan oleh manusia memang bisa banyak, baik itu Tuhan maupun yang selain Tuhan. Maka ungkapan yang tepat bukan “Tuhannya orang Islam”, “Tuhannya orang Nasrani”, dst., melainkan “sembahan orang Islam”, “sembahan orang Nasrani”, dst.

Racun pikiran yang lahir dari penggunaan sebutan “Allah” ini memang sangat halus, namun dampaknya fatal. Itu berawal dari penggunaan istilah Arab yang ditautkan dengan keislaman.

Karena itu, mari kita sudahi penggunaan sebutan “Allah”, dan menggantinya dengan sebutan “Tuhan”. Dengan langsung menggunakan bahasa sendiri, kita akan terhindar dari salah persepsi yang merusak ketauhidan.

(Terakhir diperbarui: 11 November 2016)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

17 comments:

Anonim mengatakan...

Selamat ! Anda berpendapat ! Tetapi orang lainpun juga dapat berpendapat kan ??? mari bina persatuan, hindari pertikaian !!!

Anonim mengatakan...

horas lae sihite.
saya setuju dan mendukung penggunaan sebutan “Allah”, dan menggantinya dengan sebutan “Tuhan”. Dengan langsung menggunakan bahasa sendiri..... Namun lae sebagai utusan tuhan sebaiknya universal, rahmatan alamin dan tidak pandang bulu atas pendapatan ini, untuk agama-agama lain yang menggunakan sebutan "Allah" perlu perlu disaranin menganti dengan sebutan "tuhan" agar mereka dari salah persepsi yang membahayakan ketauhidan mereka.
kalau boleh saya memberi pendapat sebagai orang dari bona pasongit perlu lae pertimbangkan sebutan untuk tuhan adalah somba debata simula jadi nabolon (bahasa sendiri indonesia)

sakti mengatakan...

Mungkin penekanan saya pada tulisan di atas memang pada yang beragama Islam, namun inti dari pesan saya sebenarnya berlaku untuk siapapun.

Yaitu, jangan sampai kita terjebak oleh pemahaman yang salah hanya karena kukuh untuk menyebut DIA dalam bahasa asing.

Bagi yang biasa bertutur dalam bahasa Batak, tentu saja dapat menggunakan sebutan "mula jadi nabolon" (arti: prima causa yang besar) sebagaimana yang anda usulkan.

Terima kasih.

Anonim mengatakan...

saya mau tanya, mengapa di Al-Qur'an disebutkan nama Robbi dan Allah??

Anonim mengatakan...

saya rasa artikel anda tidak terlalu beralasan dan tidak memberikan bukti bahwa dalam literatur arab sesuatu itu dikatakn dengan Allah

Anonim mengatakan...

Allahulaa ilaahailla huwalhayyul qoyyum
Secara harfiah Allah memperkenalkan diri-Nya secara terang-terangan : Akulah Allah...

Fra : Rudi Hilman

Anonim mengatakan...

sihite, anda jangan membuat argumen yang berkesan seolah-olah:

1. anda seorang ahli tata bahasa Semit..
2. anda memaksakan argumen anda kepada kaum Muslim..

jika anda mau, silahkan anda sebarkan ajaran kerasulan anda ke:

www.answering-ff.org

akan banyak cendikiawan Muslim berdebat dengan anda dan anda bisa tunjukkan bukti kerasulan anda lewat olah logika dan agama..

saya tunggu,

n'DhiK

sakti mengatakan...

Allah = Tuhan (God)
Rabb = tuan (Lord)

Anonim mengatakan...

Saya sangat setuju dengan tulisan anda. Memang ada kesan dipaksakan, dan terlalu dibuat2...
namanya juga Indonesia :)
Tidaklah perlu menggembar-gemborkan ke-Islam-an kita, yang penting hati di dalam.

achmad mengatakan...

sakti saya sangat ingin bertemu untuk sharing kapan dan waktunya saya tunggu??!!

siwi (your old friend) mengatakan...

Sakti, di Al-Quran, Allah menyebut diri beliau Allah...
Saya ngga setuju kalau kamu berpendapat menyebut Tuhan dengan Allah bisa menjadi racun halus di hati manusia. Menyebut Allah dengan Tuhan ya sah2 saja, karena Allah SWT memang Tuhan..the supreme being..
Kalau kita menyebut Tuhan dengan Allah SWT bukan untuk sok sokan bahwa Allah itu punya orang Islam aja kan..Allah sendiri ngga pernah bilang beliau hanya Tuhannya org muslim beliau Tuhan untuk semesta alam dan isinya..semuanya
thx

Anonim mengatakan...

Ini mi orang terlalu kepintaran..alquran di logikakan..logika tuwh yg musti di alqur'ankan..hemm..protez yach..? Aku dah tahu kuk..

rookie in Islam mengatakan...

sebenernya yg mana aja gak masalah .. asal jangan -> 4JJI apaan ini..????

upi mengatakan...

Astaghfirullah..... Tobatlah Sakti.... Y Allah....bukakanlah hatinya...

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Achmad: Sementara ini saya belum bisa ditemui offline. Untuk komunikasi tertutup, silakan gunakan fasilitas 'message' yang ada di Facebook (lihat 'Hubungi saya' yang ada di pojok kanan atas blog ini).

@Siwi: Di Quran penyebutan-Nya adalah 'Allah' karena Quran itu berbahasa Arab. Bahasa Arabnya 'Tuhan' ya 'Allah' :)

Pernyataan Siwi 'Allah SWT memang Tuhan' itu coba deh dicermati. Seakan-akan 'Allah' itu termasuk di antara 'Tuhan'. Artinya, selain 'Allah' ada juga 'Tuhan' yang lain.

@Anonim: Logika diberikan Tuhan untuk dipakai.Tuhan mencela orang yang tidak memakai nalarnya. Bahkan, penghuni neraka pun menyesal mengapa sewaktu di dunia mereka tidak menggunakan nalar (baca: 67:10).

Anonim mengatakan...

Tiada Tuhan Selain ALLAH


Woy Sobat Itu Juga dah jelas.....

kita aja sholat harus pake bahasa arab...
ga boleh pake bahasa indonesia....

Salah satu Tanda - tanda Kiamat

makin Banyak Nya Orang Mengaku Nabi atau Rasul

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Anonim: Shalat boleh menggunakan bahasa apapun yang kita pahami.

Apa anda pikir Tuhan tidak mengerti bahasa Indonesia? Apakah ada dalilnya bahwa shalat harus memakai bahasa Arab?

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih