8.10.07

Definisi Nabi dan Rasul

Nabi

Istilah “nabi” mempunyai kaitan dengan “naba’” yang berarti berita.  Nabi adalah manusia yang kepadanya Allah menurunkan kitab yang merupakan sebuah berita agung dari-Nya.

“Katakanlah, ’Ia (Quran) adalah berita besar, yang kalian berpaling darinya.” (Quran 38:67—68)

Contohnya Nabi Muhammad.  Di dalam Quran yang diberikan kepada beliau terkandung banyak berita mengenai orang-orang terdahulu yang dimaksudkan sebagai bahan pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang datang kemudian.  Salah satu kisah yang banyak diberitakan adalah mengenai kaum-kaum yang dimusnahkan Allah karena mendustakan rasul.

“Apakah tidak datang kepada mereka berita (naba’) orang-orang sebelum mereka - kaum Nuh, dan Ad, dan Tsamud, dan kaum Ibrahim, dan penduduk Madyan, dan negeri-negeri yang telah musnah? Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan; maka Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (Quran 9:70)

Selain berita mengenai orang-orang terdahulu, ada pula berita mengenai suatu hari besar yang akan terjadi di masa mendatang.  Yaitu hari berbangkit/pembalasan yang didahului dengan hancurnya alam semesta.

“Mengenai apakah mereka saling bertanya?  Mengenai berita (naba’) besar, yang dalam hal itu mereka berselisih ... (dst.)  Pada hari sangkakala ditiup, lalu kalian datang berbondong-bondong.  Dan langit pun dibuka, maka terdapat beberapa pintu.  Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (Quran 78:1-3, 18-20)

Bisa dikatakan bahwa “kitab” adalah kata kunci untuk “nabi.”  Hal ini diperkuat dengan susunan kalimat di dalam Quran yang seringkali merangkaikan kenabian dengan kitab (lihat 3:79, 6:89, 29:27, 45:16, 57:26).

Para nabi menyampaikan kitab yang diberikan Allah kepadanya untuk menjadi kabar gembira dan peringatan bagi manusia.  Penyampaian tersebut sekaligus menandakan melekatnya peran sebagai “rasul” pada diri seorang nabi.  Dengan kata lain, setiap nabi adalah rasul.

“Manusia adalah umat yang satu, kemudian Allah membangkitkan nabi-nabi sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.  Dan Dia turunkan bersama mereka kitab dengan kebenaran untuk memberi keputusan di antara manusia dalam apa yang mereka perselisihkan ....” (Quran 2:213)

Kenabian telah ditutup dengan hadirnya Nabi Muhammad.  Ini berarti tidak akan ada lagi nabi baru maupun kitab baru sesudah Nabi Muhammad dan kitab Quran.

“Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kalian, tetapi utusan Allah dan penutup nabi-nabi ....” (Quran 33:40)

Rasul

Berikutnya kita akan membahas rasul yang secara sederhana berarti “utusan.”  Rasul adalah manusia yang diutus Allah untuk menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada manusia.

Kata kunci untuk rasul bukanlah “menyampaikan,” akan tetapi “diutus.”  Ketika seseorang dijadikan utusan Allah akan ada pengangkatan dimana Yang mengutus, atau wakil-Nya, menyatakan seseorang itu sebagai rasul-Nya.

Seseorang tidak disebut rasul hanya karena dia berinisiatif menyampaikan ayat-ayat Allah.  Sama halnya seseorang tidak lantas dikatakan utusan presiden hanya karena dia telah menceritakan pidato presiden yang dibacanya di surat kabar.

Berbekalkan mandat yang diberikan kepadanya, para rasul menjelaskan ayat-ayat dari kitab Allah kepada manusia.  Rasul yang merangkap nabi, seperti Muhammad, menyampaikan kitab yang diberikan kepadanya.  Sedangkan rasul yang bukan nabi (tidak membawa kitab sendiri), hanya menegaskan kitab yang telah ada.

“Dan ketika Allah mengambil perjanjian nabi-nabi, ‘Bahwa Aku memberi kalian kitab dan hikmah; kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang bersama kalian ....” (Quran 3:81)

Ayat tentang perjanjian nabi-nabi di atas juga berlaku untuk Nabi Muhammad (lihat 33:7), yang artinya setelah beliau masih akan datang lagi seorang rasul.  Karena kenabian telah tertutup, maka rasul yang datang setelah Nabi Muhammad bukanlah seorang nabi.

Kalau pada pembahasan tentang nabi salah satu kesimpulan yang kita dapatkan adalah bahwa setiap nabi merupakan rasul, maka sekarang kita mendapatkan lagi kesimpulan bahwa tidak setiap rasul merupakan nabi, dan bahwa masih akan ada rasul setelah Nabi Muhammad.

Kesesatan ala Bani Israel

Sejak dahulu telah terjadi pengingkaran terhadap seorang rasul yang disebabkan persangkaan umatnya bahwa tidak akan ada lagi rasul pasca rasul terakhir yang mereka kenal.  Rasulullah Musa didustakan oleh bani Israel yang beranggapan tidak akan ada lagi rasul selepas Yusuf.

“Dan sungguh sebelumnya Yusuf telah datang kepada kalian dengan keterangan-keterangan, tetapi kalian senantiasa meragukan apa yang dia datangkan kepada kalian, sehingga ketika dia telah wafat kalian berkata, 'Tuhan tidak akan membangkitkan seorang rasul setelah dia.’  Demikianlah Allah menyesatkan orang yang berlebihan dan ragu-ragu.” (Quran 40:34)

Persangkaan orang-orang yang mengatakan bahwa sesudah Nabi Muhammad tidak akan ada lagi rasul akan menyesatkan mereka persis sebagaimana tersesatnya bani Israel yang menyangka tidak akan ada lagi rasul setelah Yusuf.

Share on Facebook

Artikel Terkait:

5 comments:

Anonim mengatakan...

Bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang telah diutus sebagai seorang rasul?

sakti mengatakan...

@einalunar: Coba baca di http://www.saktisihite.com/2007/11/karakteristik-kerasulan.html

deni mengatakan...

Salam.
QS 34:28 yg menyatakan Nabi Muhammad adalah rasul utk seluruh umat manusia.
Dengan demikian apakah perlu ada rasul lagi ? Mohon pencerahan, thx.

sakti mengatakan...

Salam..

Beliau adalah rasul untuk seluruh manusia pada zamannya. Jadi ayat itu tidak menafikan akan adanya rasul setelah beliau.

"Perlu" atau tidaknya rasul tentu tidak pada tempatnya ditanyakan pada saya, karena hal itu adalah sepenuhnya prerogatif Tuhan. Dia mengutus siapa yg dikehendaki-Nya pada waktu/zaman yg dikehendaki-Nya.

rizkymuammarkhadafi mengatakan...

rabbanaa aamannaa bimaa anzalta waittaba'naa alrrasuula fauktubnaa ma'a alsysyaahidiina

[3:53] Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)". (ALI 'IMRAN (KELUARGA 'IMRAN) ayat 53)

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih