16.10.07

Ketentuan Salat (Bagian-2)

Berdiri

Berdirinya kita menghadap Allah bukanlah berdiri dengan sikap asal-asal saja, bukan pula dengan menyombongkan diri. Kita berdiri di dalam salat dengan sikap tunduk patuh kepada-Nya.

“… dan berdirilah kalian karena Allah (selaku) orang-orang yang tunduk patuh.” (Quran 2:238)

Seruan

Setelah berdiri menghadap ke arah Masjid Larangan, kita buka komunikasi dengan memanggil Allah. Panggilan tersebut bisa “wahai Allah” (yaa Allah) atau “wahai Yang Pemurah” (yaa Rahmaan) atau nama-nama-Nya yang lain sebagaimana yang disebutkan di dalam Quran.

“... Serulah Allah, atau serulah Yang Pemurah, mana saja yang kalian seru, maka bagi-Nya nama-nama yang paling baik.” (Quran 17:110)

Jangan memanggil “akbar”, karena itu bukan nama Allah. Nama yang mewakili kebesaran-Nya adalah “al-Kabir”.

Suara

Seluruh panggilan, agungan, maupun permohonan di dalam salat, baik itu ketika berdiri, berlutut, maupun sujud diucapkan dengan suara pelan. Tidak dikeraskan dan tidak pula dibisikkan, tetapi pertengahan antara yang demikian.

“... Dan janganlah mengeraskan suara dalam salat engkau, dan janganlah membisik padanya, dan carilah jalan di antaranya.” (Quran 17:110)

Bahasa

Allah tidak ada menetapkan bahasa tertentu (misal: bahasa Arab) untuk digunakan di dalam salat. Jadi gunakan saja bahasa kita sendiri, bahasa yang kita pahami.

Dengan memahami apa yang kita ucapkan, mudah-mudahan kita terhindar dari bertingkah seperti orang mabuk yang berdiri menghadap Allah untuk lalu memerintah-Nya dengan ucapan dalam bahasa Arab yang maknanya: “Katakanlah, ‘wahai orang-orang kafir’ …” dan seterusnya.

Bacaan

Setelah tadi kita memanggil nama-Nya, kita lanjutkan dengan mengagungkan-Nya dengan kalimat pujian: “Pujian bagi Allah yang tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak ada baginya pelindung dari kehinaan”.

Agungan di awal salat tersebut merupakan ikrar peng-Esa-an Allah. Kita mengagungkan-Nya sekaligus mengingkari paham Nasrani yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak, paham orang-orang yang menyekutukan sesuatu dengan Allah, dan paham Yahudi yang mengatakan bahwa Allah lemah dan membutuhkan.

“Dan katakanlah, ‘Pujian bagi Allah yang tidak mengambil anak, dan tidak ada bagi-Nya sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak ada bagi-Nya pelindung dari kehinaan …” (Quran 17:111)

Pada dasarnya ucapan yang telah ditetapkan di dalam salat hanyalah tiga, yaitu: seruan/panggilan pada awal salat, agungan yang mengiringi seruan tersebut sebagaimana yang baru saja dibahas, dan kalimat penutup nanti pada akhir salat kita.

Jadi setelah kita mengagungkan-Nya, tidak ada lagi bacaan khusus yang harus diucapkan baik itu ketika berdiri, berlutut, maupun sujud sampai menjelang selesai salat.

Rentang “bebas” ini manfaatkanlah untuk membesarkan Allah, meminta ampunan, memohon pertolongan, dan bermunajat mengadukan hal kita kepada-Nya. Kita bisa mencontoh doa-doa yang ada di dalam Quran, ataupun menyampaikan doa yang kita untai sendiri.

“Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat …” (Quran 2:45)

“... dan besarkanlah/ agungkanlah Dia (dengan sebenar-benarnya) pembesaran/ pengagungan.” (Quran 17:111)

Ruku’

Dari berdiri kita kemudian ruku’. Ruku’ bukanlah menunduk atau membungkuk, akan tetapi berlutut. Meskipun di dalam kamus tercakup makna menunduk disamping makna berlutut, namun makna berlututlah yang dikonfirmasi oleh Quran.

Hal ini diketahui dari kisah Nabi Daud
(damai atasnya) sewaktu beliau jatuh berlutut. Susunan kata “jatuh” (kharra) yang diikuti dengan kata “berlutut” (raki’an) saling menjelaskan satu sama lain. “Jatuh” menjelaskan bagaimana ruku’ Nabi Daud, dan “berlutut” menjelaskan bagaimana jatuh beliau.

“... Dan Daud menyangka bahwa Kami mengujinya, maka dia meminta ampun kepada Tuannya, dan dia jatuh, berlutut, dan bertobat.” (Quran 38:24)

Sujud

Dari posisi berlutut, kita kemudian sujud. Sujud dilakukan dengan menyungkurkan badan sehingga wajah menyentuh bumi.

Apabila didaratkan di atas permukaan yang tidak cukup lembut, maka sujud-sujud kita akan meninggalkan bekas di wajah/dahi sebagaimana orang-orang terdahulu.

“Muhammad itu (adalah) utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia itu keras terhadap orang-orang ingkar, pengasih sesama mereka. Engkau melihat mereka berlutut, sujud, mencari anugerah Allah, dan keridaan. Tanda mereka (adalah) pada wajah-wajah mereka dari bekas sujud ...” (Quran 48:29)

Akhir Salat

Sujud adalah sikap terakhir dalam rangkaian gerakan salat kita. Di akhir sujud menjelang selesai salat kita disuruh untuk melafalkan agungan kepada Allah.

“Dan dari (sebagian) malam agungkanlah Dia, dan (agungkanlah Dia) di akhir-akhir sujud.” (Quran 50:40)

Agungan kepada Allah dilakukan dengan memuji-Nya (50:39), yaitu dengan mengucapkan “Pujian bagi Allah, Tuan semesta alam” (alhamdulillahi rabbil ’aalamiin). Ucapan yang sama juga menjadi akhir seruan para penghuni kebun akhirat (surga).

“… Dan akhir seruan mereka: ‘Pujian bagi Allah, Tuan semesta alam.’” (Quran 10:10)

Rakaat

Dengan selesainya satu siklus gerakan berdiri-berlutut-sujud sebagaimana diterangkan di atas, telah sempurnalah salat kita. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, gerakan salat dimulai dengan berdiri dan berakhir dengan selesainya sujud.

“… apabila mereka telah sujud, hendaklah mereka berada dari belakang engkau (berjaga-jaga) …” (Quran 4:102)

Bagaimana kalau belum merasa puas dengan satu kali berdiri-berlutut-sujud? Silakan berdiri lagi untuk salat, karena memang tidak ada batasan untuk mengulanginya kembali.

Menyingkat Salat

Apabila kita melakukan salat di dalam kediaman kita tentu tidak ada faktor keamanan yang perlu dikhawatirkan. Namun apabila kita sedang berada di luar kediaman, ada kemungkinan kita menghadapi situasi keamanan yang tidak kondusif untuk melaksanakan salat. Mungkin karena salat kita dianggap aneh dan tidak dapat diterima, atau karena sedang pecah konflik antara orang-orang beriman dengan orang-orang yang ingkar.

Dalam keadaan yang demikian kita boleh menyingkat salat kita. Misalnya kita biasa salat lima belas menit, dalam kondisi ini kita salat mungkin lima menit saja.

“Dan apabila kalian berpergian di bumi, maka tiadalah atas kalian kesalahan untuk menyingkat salat itu, jika kalian khawatir bahwa
orang-orang yang ingkar akan menyerang kalian ...” (Quran 4:101)

Salat Dalam Keadaan Genting

Salat dengan gerakan berdiri-berlutut-sujud sebagaimana yang telah dijelaskan dilakukan apabila keadaannya memungkinkan. Di medan peperangan pun ketika perang tidak sedang berkecamuk kita dapat melakukan salat dengan berdiri-berlutut-sujud, tentunya dengan saling berjaga-jaga bergantian sebagaimana yang dicontohkan pada praktik salat Nabi.

Namun apabila keadaan sedang genting seperti dalam perang yang sedang berkecamuk, atau sedang dikejar musuh, maka salat dapat dilakukan sambil berjalan kaki ataupun berkendara.

Salat dalam kondisi ini tentu tidak mungkin dilakukan dengan gerakan berdiri-berlutut-sujud. Cukuplah lakukan apa yang memungkinkan saja yaitu menyeru Allah, memohon pertolongan, dan memuji-Nya.

Kalau kondisi sudah mereda/aman, dan waktu salat masih ada, kita kembali mengingat Allah (salat) dengan cara sebagaimana yang telah diajarkan-Nya.

“Maka jika kalian khawatir, maka (salatlah dengan) berjalan kaki atau berkendaraan. Kemudian apabila kalian telah aman, ingatlah Allah sebagaimana Dia telah mengajarkan kalian apa-apa yang tidak kalian ketahui.” (Quran 2:239)

Salat Berjemaah

Ketentuan salat dengan berjemaah pada dasarnya tidak berbeda dengan ketentuan salat yang telah diterangkan. Kekhususannya adalah, pada salat berjemaah ada pemimpin salat (imam) dan pengikut salat (makmum).

Makmum berdiri di belakang imam. Ketika imam berlutut makmum ikut berlutut, ketika imam sujud makmum ikut sujud. Ketika makmum telah mengikuti imam bersujud, maka sempurnalah kepengikutannya di dalam salat berjemaah tersebut. Selanjutnya makmum dapat bangkit dari sujudnya apabila telah selesai tanpa perlu mengikuti atau menunggu bangkitnya imam.

(Terakhir diperbarui: 31 Desember 2008)

Share on Facebook

Artikel Terkait: