17.8.08

Rasul Zaman Ini

Allah mengatakan bahwa Dia membangkitkan rasul pada tiap ”umat”.

”Tiap-tiap umat ada rasulnya. Maka apabila rasul mereka datang, dengan adil perkara diputuskan antara mereka dan mereka tidak dizalimi.” (Quran 10:47)

”Sesungguhnya Kami telah membangkitkan dalam tiap-tiap umat seorang rasul, (yang berpesan) ’Menghambalah kepada Allah dan jauhilah sembahan-sembahan lain itu.’ Kemudian antara mereka ada yang Allah tunjuki, dan antara mereka telah pasti kesesatan itu ...” (Quran 16:36)

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah itu berarti bahwa di setiap zaman dan pada setiap suku/bangsa ada manusia yang dilantik Allah menjadi rasul-Nya? Sebelum menjawabnya baiklah kita kaji terlebih dahulu apa yang sebenarnya dimaksud dengan istilah ”umat”.

Bangsa/Komunitas
Kata ”umat” yang berasal dari akar Alif-Mim-Mim memiliki beberapa kelompok arti. Pertama, ”umat” mencakup pengertian: rakyat, bangsa, dan ciptaan Allah secara umum.

Kita dapat menemukan beberapa ayat Quran yang menggunakan istilah ”umat” dalam pengertian pertama ini. Dua di antaranya adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan Nabi Musa (damai atasnya) berikut ini:

”Dan apabila dia sampai di perairan Madyan, dia mendapati satu umat manusia di sana yang memberi minum ...” (Quran 28:23)

”Antara kaum Musa ada umat yang memberi petunjuk dengan benar dan dengannya mereka menjalankan keadilan.” (Quran 7:159)

Dua ayat di atas menggunakan istilah ”umat” untuk menunjuk sekumpulan manusia atau segolongan kaum tertentu.

Tidak hanya pada manusia, pada bangsa binatang pun Allah menggunakan istilah ”umat”.

”Tiada makhluk yang merayap di bumi, tiada burung yang terbang dengan sayap-sayapnya, melainkan umat-umat yang seumpama dengan kalian ...” (Quran 6:38)

Dalam pengertian yang pertama ini bisa dikatakan bahwa semua manusia masuk dalam kategori ”umat”. Apabila kita membatasi ”umat” hanya dalam pengertian ini, maka pertanyaan awal di atas tadi akan mendapat jawaban: ya, di setiap zaman dan pada setiap suku/bangsa ada manusia yang dilantik Allah menjadi rasul-Nya. Maka, sepanjang sejarah tidak seorang manusia pun yang tidak kedatangan rasul.

Umat Tidak Identik Dengan ”Seluruh Manusia”
Namun kenyataannya tidak pada setiap zaman atau setiap penjuru bumi ada rasul itu.

Mungkin sulit bagi kita untuk memastikan ada atau tiadanya rasul di waktu dan tempat yang terpaut jauh dari kita. Katakanlah lima ratus atau seribu tahun yang lalu di negeri antah-berantah. Tapi kita bisa memeriksanya di lingkungan yang dekat, yaitu di negeri kita sendiri, pada era bapak atau kakek kita yang mungkin belum lama meninggal.

Apabila tidak ada manusia yang tidak kedatangan rasul, tentunya bapak atau kakek kita yang telah wafat pun sempat mendapat peringatan dari seorang rasul. Dan karena masanya sangat dekat dengan kita hari ini, sepatutnya kita pun mengetahui keberadaan rasul tersebut.

Siapakah rasul yang telah dibangkitkan Allah untuk bapak atau kakek kita? Adakah sedikit catatan tentang perjuangan rasul tersebut? Apakah pada masa rasul tersebut akhirnya agama yang benar mencapai kegemilangannya sebagaimana yang telah dijanjikan Allah?

Sebenarnya, Allah mengadakan jeda pada pengutusan rasul-rasul. Akibatnya tentu saja akan ada manusia yang tidak kedatangan rasul. Yaitu generasi-generasi yang hidup pada masa jeda tersebut.

“Wahai orang Kitab, sungguh telah datang kepada kalian rasul Kami dengan menjelaskan kepada kalian pada masa jeda rasul-rasul, supaya kalian tidak mengatakan, ’Tidak datang kepada kami seorang pembawa kabar gembira, dan tidak (juga) seorang pemberi peringatan’...” (Quran 5:19)

Secara lebih jelas Allah di dalam salah satu ayat-Nya mengindikasikan adanya kaum yang tidak kedatangan rasul. Mereka ini adalah generasi-generasi manusia yang tidak diberi peringatan.

”Supaya engkau memperingatkan kaum yang bapak-bapak mereka tidak diberi peringatan, maka mereka lalai.” (Quran 36:6)

Frasa ”bapak-bapak” yang berbentuk plural mengacu kepada bapak, kakek, bapak dari kakek, dan seterusnya. Jadi ”bapak-bapak” dari kaum yang disebutkan Allah pada ayat 36:6 itu bisa terdiri dari bergenerasi-generasi manusia. Dan mereka semua tidak mendapat peringatan.

Ketika suatu kaum tidak didatangi oleh seorang pemberi peringatan, artinya tidak ada rasul yang telah datang kepada mereka. Hal ini karena tugas seorang rasul adalah untuk memberi peringatan.

”Sesungguhnya Kami mengutus engkau dengan kebenaran, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan ....” (Quran 35:24)

Masih dalam ayat 35:24, Allah menegaskan bahwa tidak ada ”umat” yang tidak didatangi seorang pemberi peringatan.

”... dan tiadalah sesuatu umat selain telah berlalu di dalamnya seorang pemberi peringatan.” (Quran 35:24)

Karena pada setiap ”umat” pasti ada pemberi peringatan, maka generasi-generasi manusia yang tidak diberi peringatan sebagaimana disebutkan Allah di dalam ayat 36:6 tidak masuk dalam kategori ”umat”. Dengan kata lain, ternyata ”umat” tidak selalu identik dengan pengertian ”seluruh manusia”.

Pengertian Khusus dari ”Umat”
Lalu apakah yang dimaksud dengan ”umat” yang, kata Allah, akan selalu kedatangan rasul itu? Kita dapat menemukan jawabannya dengan mencermati pula kelompok arti lain yang mendefinisikan ”umat”.

Selain diterjemahkan sebagai rakyat atau bangsa sebagaimana yang telah dibahas di awal, ”umat” juga memiliki arti: kepemimpinan, peraturan, jalan, dan agama.

Kita dapat menemukan penggunaan istilah ”umat” dalam pengertian ”agama” dalam ayat Quran berikut ini:

”Bahkan mereka berkata, ’Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami atas sesuatu anutan/agama (ummatin), dan kami mendapat petunjuk atas jejak-jejak mereka’.” (Quran 43:22)

Terakhir, ”umat” juga bermakna ”waktu” sebagaimana kita dapati pada ayat berikut ini:

”Dan telah berkata orang yang selamat dari mereka berdua dan teringat setelah sesuatu waktu (ummatin), ’Aku akan memberitakan kalian interpretasinya, maka utuslah aku’.” (Quran 12:45)

Dengan menghubungkan unsur-unsur pengertian ”umat” sebagai ”bangsa/komunitas”, ”umat” sebagai ”peraturan/jalan/agama” maupun ”waktu”, dan makna akar Alif-Mim-Mim yang maknanya ”bermaksud/menyengaja”, maka secara sederhana kami merumuskan definisi ”umat” dalam arti khusus sebagai: Generasi manusia yang padanya Allah bermaksud untuk menegakkan agama-Nya.

Sebagaimana kita ketahui dari Quran, pada masa lalu Allah telah membangkitkan rasul-rasul-Nya di muka bumi. Setelah melewati jalan perjuangan yang tidak mudah, para rasul yang dikehendaki Allah sampai pada tahap tegaknya ajaran Allah di muka bumi. Agama kebenaran menjadi terang bagi manusia, terlepas apakah mereka mau mengikuti atau tidak.

Sepeninggal para rasul, generasi-generasi berikutnya mulai melupakan ajaran rasul. Pergeseran ajaran terjadi sedikit demi sedikit sampai akhirnya apa yang dianut oleh manusia telah jauh menyimpang dari kebenaran. Ada yang mempertuhankan rasul yang pernah diutus, ada yang mengada-ada ajaran agama dengan mengatasnamakan nabi, dan sebagainya.

Era “kegelapan” itu bisa berlangsung melintasi waktu ratusan bahkan ribuan tahun. Manusia beragama tanpa berpandukan kitab Allah sebagai standar kebenaran. Mereka hanya mengikuti keyakinan yang mereka dapati dari bapak dan kakek mereka. Setelah mati, mereka mewariskan keyakinan tersebut kepada anak dan cucu mereka sebagaimana dulu bapak dan kakek mereka mewariskan keyakinan tersebut kepada mereka.

Pada zaman tertentu—jika Allah menghendaki—Dia bermaksud untuk kembali menjadikan kebenaran itu nyata di muka bumi. Untuk itu Allah kemudian membangkitkan rasul dari siapa yang Dia kehendaki. Generasi manusia pada masa itulah yang disebut “umat” dalam pengertian khusus.

Di antara “umat” tersebut kemudian—sesuai dengan ketetapan Allah—akan ada golongan manusia yang percaya kepada rasul dan mendedikasikan hidupnya untuk berjuang bersama rasul, dan akan ada pula golongan manusia yang mengingkarinya setelah keterangan-keterangan menjadi jelas bagi mereka.

Rasul zaman ini telah dibangkitkan Allah. Anda akan masuk golongan yang mana?

Share on Facebook

Artikel Terkait: