22.3.10

Rasul Suci dari Dosa?

Seseorang berinisial GSS pada tanggal 14 Maret 2010 telah meninggalkan komentar berikut di Facebook page Sakti A Sihite (damai atasnya): “Apakah anda bersih dari dosa sampai anda beranggapan bahwa diri anda adalah rosul Allah?”

Pertanyaan dari GSS itu berangkat dari persepsi yang salah tentang latar belakang pengakuan kerasulan. Klaim kerasulan itu bukan dilatarbelakangi oleh inisiatif pribadi. Bukan karena misalnya merasa suci, atau merasa mulia, atau merasa hebat lalu saya mengklaim diri sebagai rasul.

Tidak ada suatu perbuatan, atau keahlian, atau prestasi yang bisa dijadikan dasar bagi seseorang untuk mengklaim dirinya sebagai rasul!

Saya menyatakan diri saya sebagai rasulullah berdasarkan wahyu kerasulan yang saya terima.

Jadi, kalaupun misalnya Tuhan mengkondisikan saya menjadi pribadi yang bersih dari dosa, saya tetap tidak akan mengklaim diri saya sebagai rasul kecuali ada wahyu kerasulan yang saya terima.

Karunia kerasulan itu sendiri adalah hak prerogatif Tuhan yang diberikan-Nya kepada siapapun yang Dia kehendaki. Keputusan Tuhan tentunya tidak bisa ditakar dengan pengetahuan manusia yang sangat terbatas.

Coba ingat kisah Nabi Musa (damai atasnya). Status beliau sebelum dilantik menjadi rasul adalah buron kasus pembunuhan. Beliau melarikan diri ke Madyan setelah memukul seorang Qibti hingga tewas.

Apakah lantas Nabi Musa tidak layak menjadi rasul? Siapakah yang berhak menyatakan tidak layak atas pilihan Tuhan?

Pada kenyataannya, manusia yang “suci dari dosa” itu tidak pernah ada. Nabi Muhammad (damai atasnya) sekalipun, yang oleh sebagian besar umat Islam diimajinasikan sebagai pribadi suci, beberapa kali ditegur Tuhan (baca Quran 66:1, 80:1-10).

Berhentilah mengaitkan nabi/rasul dengan imajinasi-imajinasi melangit yang tidak realistis! Rasul juga manusia yang tidak luput dari dosa dan kesalahan.

Share on Facebook

Artikel Terkait:

18 comments:

Abu Hafiz mengatakan...

Salah satu topik yang acap kali muncul menjadi persoalan umat Muslim adalah mengenai definisi Nabi dan Rasul. Apakah kedua sebutan itu sama ataukah berbeda?. Jika berbeda, apakah perbedaannya? Kemudian juga, apakah ada Nabi dan/atau Rasul yang datang setelah Nabi Muhammad?
Sebuah aliran Islam mengatakan bahwa tiap-tiap Nabi adalah Rasul dan tiap-tiap Rasul adalah Nabi, dimana pengiriman Nabi-nabi terus berjalan setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Aliran yang lain menyatakan bahwa Rasul itu sudah pasti Nabi, sedang Nabi itu belum tentu Rasul. Serta, bahwa kedatangan Nabi/Rasul setelah Nabi penutup (Muhammad) adalah sebuah mitos.
Sesungguhnya, tak seorangpun yang dapat mendefinisikannya lebih baik dari Dia yang mengirim keduanya, nabi-nabi dan rasul-rasul. Dan definisi nabi dan rasul ternyata begitu jelasnya disebutkan dalam Quran. Namun demikian, banyak ulama, dan para pengikut mereka yang tidak menerima definisi yang diberikan oleh Tuhan dan malahan menerima definisi yang mereka berikan sendiri atau definisi yang diberikan oleh ulama-ulama sebelumnya.
Beriman kepada Tuhan berarti mempercayaiNya dan menerima ajaranNya dan kata-kataNya. Memilih para pemimpin agama, pendeta, ulama di atas Tuhan mencerminkan sebuah ketidakpercayaan kepada Tuhan dan kata-kataNya (Quran). Tuhan menyebut perbuatan semacam ini sebagai penyekutuan. (9:31)

Abu Hafiz mengatakan...

Definisi Tuhan tentang Nabi dan Rasul
Dalam (3:81) Tuhan menerangkan fungsi Nabi dan fungsi Rasul. Bagi orang-orang beriman secara tulus, kedua definisi itu telah jelas dan diterangkan dengan baik oleh Pengajar Quran, Yang Maha Pengasih.
"Allah mengambil perjanjian para nabi, 'Aku memberikan kepada kamu kitab dan hikmah. Kemudian, seorang rasul akan datang untuk membenarkan apa-apa yang ada pada kamu. Hendaklah kamu beriman kepadanya dan menolongnya." (3:81)
Ayat (3:81), di antara banyak ayat-ayat lainnya, memberikan definisi 'Nabi' dan 'Rasul'. Jadi, 'Nabi' adalah utusan (rasul) Tuhan yang menyampaikan suatu kitab yang baru, sedangkan 'Rasul' adalah utusan Tuhan untuk membenarkan kitab yang ada; ia tidak membawa suatu kitab yang baru. Menurut Quran, setiap 'Nabi' adalah seorang 'Rasul', tetapi tidak setiap 'Rasul' adalah seorang 'Nabi'. Adalah tidak masuk akal bahwa Tuhan akan memberikan sebuah kitab kepada seorang nabi, lalu memintanya untuk menyimpannya khusus untuk dirinya sendiri, seperti dinyatakan oleh beberapa 'ulama' Muslim (2:42, 146, 159).
Dengan istilah lain semua Nabi adalah Rasul, tetapi tidak semua Rasul adalah Nabi. Rasul bisa dipilih dari antara malaikat dan manusia.
"Allah memilih dari malaikat rasul-rasul, begitu pula dari manusia..." (22:75)
Kata Arab "yashthafii" (memilih) dalam ayat di atas merupakan bentuk kata kerja yang mewakili waktu saat ini dan di masa datang. Jadi di samping masa di mana ayat itu diturunkan, rasul akan diturunkan di masa kemudian. Demikian pula kata-kata "yadzara" (membiarkan), "yamiza" (memisahkan), "yuthli'a" (memberitahukan), dan "yajtabii" (memilih) dalam ayat berikut:
"Sekali-kali Allah tidak membiarkan orang-orang beriman sebagaimana keadaanmu sekarang, tanpa Dia pisahkan yang buruk dari yang baik. Dan sekali-kali Allah tidak memberitahumu yang ghaib, tetapi Allah memilih di antara rasul-rasulNya siapa yang dikehendakiNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasulNya..." (3:179)
Dalam kedua ayat yang memiliki kandungan arti yang berlaku di masa datang itu dikaitkan dengan Rasul-rasul dan tidak dengan Nabi atau Nabi-nabi. Tugas Rasul dalam hal ini adalah membenarkan Kitab yang ada, dia tidak membawa suatu Kitab yang baru, kecuali bila dia adalah seorang Nabi. Serta di antara mereka ada yang dikaruniai pengetahuan untuk menyingkap hal-hal yang ghaib, dengan ijin Tuhan. Kata "Rasul" lebih umum ketimbang kata "Nabi". Sebagai contoh, kata "Rasul" digunakan untuk utusan Raja Mesir dalam ayat (12:50), tetapi kata "Nabi" selalu digunakan untuk utusan-utusan Tuhan.
Tidak setiap Rasul diberikan suatu Kitab baru. Klaim yang mengatakan bahwa Harun adalah seorang 'Nabi' seperti dinyatakan dalam (19:53), yang tidak menerima suatu kitab dapat mengacaukan arti dari "Nabi" dan "Rasul" ini. Tetapi, Quran menyatakan dengan terang bahwa Taurat diberikan secara khusus "kepada keduanya Musa dan Harun" (21:48, 37:117). Sesuai dengan definisi di atas, maka Harun adalah seorang Nabi karena memang dia menerima Kitab bersama dengan Musa, dan dia juga seorang rasul karenanya.
Dalam hal kenabian, secara jelas, tegas dan tanpa dapat disangkal, Quran menyatakan bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir, tetapi tidak disebut sebagai Rasul terakhir:
"Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antaramu, tetapi dia adalah utusan (rasul) Allah dan penutup nabi-nabi..." (33:40)
Ada kecenderungan manusia untuk menolak Rasul yang baru setelah Rasul terakhir yang dikenalnya. Yusuf dideklarasikan sebagai Rasul terakhir oleh kaumnya (40:34). Padahal, banyak Rasul-rasul yang datang setelahnya, termasuk Musa, Dawud, Isa dan Muhammad.

Abu Hafiz mengatakan...

Membedakan Rasul-rasul Tuhan dari yang Palsu
Ada beberapa kriteria Quran untuk membedakan Rasul-rasul yang sebenarnya dengan yang salah: 1) Rasul Tuhan mendorong penyembahan atau pengabdian kepada Tuhan semata serta penghapusan segala bentuk kemusyrikan; 2) Rasul Tuhan tak pernah meminta upah bagi dirinya; 3) Rasul Tuhan diberikan bukti-bukti kerasulan yang tak dapat disangkal.
Melalui Kitab-kitab tradisi, sejumlah figur seperti Mahdi, Juru Selamat, Imam Zaman, dsb bermunculan. Sehingga, setelah meninggalnya Nabi Muhammad, umat manusia mulai menunggu datangnya Mahdi, Isa, Imam ke-12, dan bukannya seorang Rasul.

Kenabian dan kitab
Manakala Tuhan menyebutkan kenabian dalam Quran, Dia menyebutkan kitab dan kadangkala kebijaksanaan (hikmah). Hubungan antara kenabian dan kitab tidaklah dapat lepas kecuali oleh mereka yang terkunci dari melihat kebenaran.
"Tidak layak bagi seseorang setelah diberikan Allah kepadanya Kitab dan kenabian, lalu mengatakan kepada manusia, 'Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku, di samping Allah." (3:79)
"Mereka itulah orang-orang yang telah Kami beri Kitab, kebijaksanaan, dan kenabian..." (6:89)
"Dan Kami berikan kepadanya, Ishaq dan Yakub dan Kami anugerahkan pada keturunannya kenabian dan Kitab..." (29:27)
"Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Bani Israel Kitab, kebijaksanaan dan kenabian..." (45:16)
"Dan sungguh telah Kami utus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan Kitab..." (57:26)
Rasul yang Nabi (Rasulan Nabiyya) dan bukan Nabi yang Rasul (Nabiyyan Rasula)
Contoh pertama untuk rasul nabi datang dari (7:157) dan (7:158) dimana Tuhan menerangkan Nabi Muhammad sebagai "rasul yang nabi" dan bukan sebagai "nabi yang rasul". Itu bukanlah cuma suatu kebetulan, karena tak ada suatu kebetulan bagi Tuhan. Alasannya adalah bahwa setiap rasul adalah seorang nabi dan karena itu kata 'nabi' digunakan untuk mendefinisikan dan memperjelas secara lebih lanjut atas kata 'rasul' tersebut.
"orang-orang yang mengikuti Rasul (yang) Nabi yang ummi..." (7:157)
"...maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya (yang) Nabi yang ummi..." (7:158)
Musa, Rasul Nabi
Dalam (19:51), Musa diterangkan oleh Tuhan sebagai seorang rasul nabi, dan bukan sebagai seorang nabi rasul.
Ismail, Rasul Nabi
Dalam (19:54), Ismail diterangkan dengan cara yang sama, rasul nabi. Alasannya adalah, tidak setiap rasul adalah seorang nabi, tetapi setiap nabi adalah seorang rasul, sehingga Tuhan mendefinisikan kata 'Rasul' dengan menambahnya dengan 'Nabiyya'. Tuhan tidak membuat kesalahan dan Dia tidak memilih kata-kataNya secara tanpa makna, tetapi itu memang betul-betul dimaksudkan dengan urutan seperti itu.

Abu Hafiz mengatakan...

Manusia sebagai Rasul
Dalam ayat (17:93), kita catat bahwa rangkaian kata yang digunakan adalah "seorang manusia rasul" (Basyaran Rasula) dan bukan "seorang rasul manusia (Rasulan Basyara)." Alasannya adalah bahwa tidak setiap manusia adalah seorang rasul sementara setiap rasul dari antara kita adalah seorang manusia.
Ayat (17:94) juga memiliki pendefinisian yang sama, manusia rasul (Basyaran Rasula), bukan (Rasulan Basyara).
Malaikat Rasul
Dalam ayat (17:95), kita catat, "malaikat rasul" (Malakan Rasula) digunakan dan bukan "rasul malaikat (Rasulan Malaka)." Alasannya adalah bahwa tidak setiap malaikat adalah se'orang' rasul tetapi setiap rasul dari kalangan tentara-tentara Tuhan adalah berjenis malaikat.
Orang Suci yang Nabi
Dalam ayat (19:41), Tuhan menerangkan Ibrahim sebagai "seorang suci yang nabi (Siddiqan Nabiyya)" dan bukan sebagai "seorang nabi yang suci (Nabiyyan Siddiqa). Alasannya adalah bahwa tidak setiap orang suci (Siddik) adalah seorang nabi, sementara setiap nabi adalah seorang siddiq.
Apabila Tuhan hendak mengatakan, Ibrahim adalah Nabiyyan Siddiqa (nabi suci), ini akan memiliki arti bahwa tidak setiap nabi adalah orang suci sementara setiap orang suci adalah nabi.
Dalam ayat (19:56), Tuhan menerangkan nabi Idris dengan cara yang sama, sebagai seorang Siddiqan Nabiyya (orang suci yang nabi).
Tidak ada dalam keseluruhan Quran Tuhan menggunakan istilah-istilah tersebut secara berbeda atau tidak konsisten. Tuhan tidak pernah menerangkan seorang nabi sebagai seorang nabi rasul (Nabiyyan Rasula), atau nabi suci (Nabiyyan Siddiqa).

Kesimpulan
- Nabi tidak identik dengan Rasul
- Setiap Nabi pasti Rasul, tetapi Rasul belum tentu seorang Nabi
- Tidak ada Nabi yang akan datang setelah Nabi penutup
- Nabi Muhammad adalah Nabi penutup (terakhir)
- Tidak disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah penutup Rasul-rasul
- Setiap Nabi diberikan Kitab baru, sehingga Quran merupakan Kitab Perjanjian Terakhir yang disampaikan oleh Nabi terakhir
- Telah sempurna din Islam melalui Kitab terakhir yang diwahyukan untuk seluruh umat manusia; Quran yang universal, sempurna, lengkap, terperinci dan satu-satunya sumber petunjuk keagamaan dan keibadahan yang 100% valid dan mutlak kebenarannya
Setelah kita memiliki definisi yang jelas antara nabi dan rasul seperti yang diajarkan oleh Tuhan yang mengutus mereka, kini terpulang kepada kita apakah kita meyakini apa yang dikatakanNya dalam Quran ataukah tetap mengikuti definisi para ulama dan kitab-kitab di luar Quran. Umat-umat sebelum kita telah pula melakukan hal yang memprihatinkan itu:
"Mereka menjadikan pemimpin-pemimpin agama dan rahib-rahib (ulama) mereka sebagai tuhan selain Allah, dan Almasih putra Maryam (sebagai Tuhan) padahal mereka diperintahkan menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (9:31)
Semoga Tuhan membimbing kita untuk percaya kepadaNya dan kata-kataNya dengan sepenuh hati.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Abu Hafiz: Terima kasih atas penjelasan tambahan yang anda uraikan :)

@Indra:
1. Pertanyaan "siapakah Tuhan yang telah melantik" mengindikasikan ada lebih dari satu Tuhan. Justru saya jadi balik bertanya, ada berapa Tuhan menurut anda?

2. Mungkin maksud anda rasul (saya tidak pernah menyatakan diri sebagai nabi). Saya belum temukan.

3. 'Rasul' adalah bahasa Arab dari 'utusan'. 'Utusan' adalah bahasa Indonesia dari 'rasul'. Anda menyalahpahami dua istilah yang sebenarnya artinya sama saja.

@Anonim: Seseorang bisa saja disucikan Tuhan lewat pengampunan dan kasih sayang-Nya, namun itu tidak menghilangkan sifat dasar manusia yang tidak lepas dari dosa dan kesalahan.

Di ayat 35:45 disebutkan bahwa sekiranya Tuhan menghukum manusia atas apa yang diperbuatnya, niscaya tidak tinggal sesuatupun yang melata di bumi.

Artinya, tidak ada seorang manusiapun yang luput dari dosa dan kesalahan. Namun dengan kasih sayang-Nya Dia mengampuni dan menyucikan siapa yang Dia kehendaki.

AGS mengatakan...

Bener anda tidak salah mengatakan Anda raul.Sedangkan virus sekecil itu pun utusan Allah.Yang penting Risalah siapa kah yang anda Bawa dan ingin sampaikan itulah yang menetukan kebenaran ANDA?

kakak mengatakan...

KAKAK :
Sakti ....
Insyaf dan bertobatlah kamu segera kepada Allah SWT, semoga Allah menurunkan rahmat dan hidayahN ya kepadamu.

Dari seorang kakak dimasa kecilmu di Bukittinggi

imam seo mengatakan...

Saya Satu pemikiran dengan pernyataan2 yang anda tulis di blog ini...!!!

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Kakak: Kak siapa ya ini..? jadi penasaran :)
Apa yang saya jalani sekarang ini adalah berkat dari hidayah-Nya kak, walaupun dianggap sesat di mata manusia.

Tapi kalau kakak bisa mengajukan dalil tentang kekeliruan saya dan kebenaran pandangan kakak, silakan.. saya akan mengikuti :)

Hamba Tuhan mengatakan...

Salam,

Klo menurut saya....perbedaan nabi dan rasul ialah
dalam tata bahasa arab yang benar nabi = pembawa berita, rasul = risalah-risalah Tuhan..
jadi bisa kita simpulkan bahwa nabi rasulan = si pembawa berita tentang risalah-risalah Tuhan.
jadi anda bisa menyimpulkan sendiri makna dari ayat-ayat yang ada didalam kitab quran yang menjelaskan
tentang nabi dan rasul. Umumnya label nama yang di berikan Tuhan kepada seorang utusan dari kalangan
manusia disebut nabi = pembawa berita yang rasulan = risalah-risalah Tuhan, seperti Ibrahim,
ismail,....musa, isa dan muhammad. Sedangkan rasul = sebagai seseorang yang hanya membenarkan lalu
menyampaikan risalah-risalah Tuhan. dan rasul ini maknannya luas dan predikat ini berikan kepada
siapa saja yang menyampaikan dari risalah-risalah Tuhan, INGAT!!! konteksnya bukan pada diri manusianya
akan tetapi apa yang disampaikannya yang harus kita tunduk atau menyetujuinya. contohnya ketika seorang manusia
atau malaikat menyampaikan risalah-risalah Tuhan yang ada dilam Quran diberikan label sebagai RASUL!!.
Terlepas dari penyampaiannya sebagai rasulan...di adalah manusia biasa seperti kita. kita bisa bercanda bermain
dan segala hal yang dilakukan manusia pada umumnya dan yang pasti tidak terlepas juga dari dosa. INGAT!! siapapun
dia orang mana pun dia dari kalangan manapun dia ketika ia membacakan ayat-ayat Tuhan maka, ia sedang menjalankan
kerasulannya. dan ini tidak merujuk kepada seseorang tapi kepada siapa saja yang menyampaikannya.Ingat lagi!! konteks
penegrtian rasul itu bukan predikat kepada orangnya akan tetapi rasul itu adalah risalah-risalahnya Tuhan. Semoga ini bisa
membantu memberikan penjelasan tentang nabi dan rasul. (pembawa berita risalah-risalah Tuhan) Thanks GOD!!

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Hamba: Salam,
Sepertinya anda telah rancu memahami istilah "rasul" dan "risalah".

Risalah itu adalah surat/pesan yang dibawa. Sedangkan rasul itu adalah utusan yang membawa risalah itu, jadi dia mengacu pada orang (person).

Rasulullah, dengan segala hak dan kewajiban yang dilekatkan Tuhan kepadanya, adalah orang yang memang telah dilantik Tuhan untuk menyampaikan risalah-Nya.

Coba baca Quran 16:43, di situ disebutkan bahwa seorang rasul itu pasti mendapatkan wahyu terkait kerasulannya.

Jadi walau penyampaian ayat2 bisa dilakukan siapa saja, hal itu bukanlah penentu kerasulan. Tentang ini sudah saya paparkan dengan lebih detil di Definisi Nabi serta Rasul

Hamba Tuhan mengatakan...

coba anda jelaskan kepada saya pelantikan apa yang sudah anda dapatkan dari Tuhan?? apa anda sudah melalui proses pengujian seperti yang dilakukan para nabi dan rasul?? seperti ibrahim, yg melalui proses penghancuran berhala dgn seorang diri tanpa gentar untuk melawan kebatilan, yusuf dengan keteguhan dirinya mengemban dengan kebenaran akan kejujurannya sampai harus menderita didalam sel bertahun2...Musa dengan perjuangannya membebaskan bani israil dari genggaman firaun, dll. apakah anda sudah melalui proses pengujian yang dilalu para utusan? nah pertanyaannya klo anda meneggakkan kebenaran Tuhan kenapa anda harus lari...??? bukankah anda seorang Rasul yang dengan segala konsekwensinya anda bisa pertanggung jawabkan didepan publik apa yang anda sampaikan? dan bukankah seorang rasul itu akan selalu dijaga oleh Tuhan?? kenapa anda harus takut?? tunjukan kebenaran itu klo memang anda mengajarkan kebenaran? nah untuk lebih mengenal pengertian nabi dan rasul...pertannyaannya, apakah anda sudah benar2 menguasai tata bahasa arab yang benar, yah...paling tidak mengertilah walau sedikit...kenapa harus mengandalkan dari terjemahan DEPAG, apakah anda tidak merasa curiga sedikitpun apakah sudah benar apa yang di terjemahkan oleh DEPAG, kalau benar coba anda cek sendiri kenapa banyak sekali terjemahan ayat2 yang sangat kontradiksi dengan terjemahan ayat2 yang lain...apakah anda tidak curiga...??? cobalah untuk jujur pada diri anda sendiri, apakah benar demikian?? banyak sekali ayat2 terjemahan yg sangat kontradiksi. saya ambil contoh saja satu dulu...karena klo dipaparkan disini banyak sekali ayat2nya terjemahan yg kontradiksi karangan DEPAG : 14:4, 74:31, 16:93
coba anda perhatikan ayatnya berbunyi :
...Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. apakah benar terjemahan seperti ini menurut anda??Pertanyaannya...begitu buat apa kita hidup toh sudah ditentukan kok siapa yang sesat siapa yang dapat petunjuk. wah berarti tuhan sangat arogan dong? sewenang-wenag dong.nah inilah yang harus kita perhatikan,apakah anda sudah benar2 memahami betul tentang tata bahasa arab yang benar, sehingga anda benar-benar tahu apa sebenarnya definisi yang benar tentang nabi dan rasul. jadi pengertian secara tata bahasa arab yang benar perkenaan dengan ayat tadi adalah dari kata "Allahu man yashao wayahdee man yashao" diartikan sebagai = Allah menyesatkan kepada siapa yang mau dan Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang mau. jadi disini dilihat Tuhan tidak arogan, Tuhan tidak sewenang-wenang Tuhan hanya menunjukan jalannya mau kemana kamu ke kiri atau kekanan...nih jalannya. Semoga bermanfaat.

Hamba Tuhan mengatakan...

Dalam hal saya mempercayai kerasulan Anda, apa yang selanjutnya harus saya lakukan?

Anda dapat menemui dan membaiat saya. Isi baiat adalah ikrar untuk menjauhi dosa-dosa besar dan untuk mematuhi rasul. Saya kemudian akan menerima baiat Anda dan memohonkan ampunan Tuhan untuk Anda.

nah ini dia saya juga rancu membacanya...apa baiat itu menurut anda?? tahukah anda apa baiat itu bisa anda jelaskan kepada saya secara mendetail apa pengertiannya menurut anda?? Thanks

Hamba Tuhan

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Hamba: Garis besar dari proses pelantikan yang saya alami dapat anda baca di Pertanyaan Seputar Kerasulan.

Dalam menjalankan misi kerasulan ini sayapun mengalami berbagai cobaan. Bentuknya tentu tidak persis dengan apa yang dialami para rasul sebelumnya, karena hal tersebut menyangkut jalan hidup masing2 orang yang tentu saja berbeda2. Apa wujud cobaannya tidak perlulah saya curhat di sini :)

Mengenai menyingkirnya saya, mestinya tidak anda pertanyakan kalau anda telah menghayati perjuangan para rasul sebagaimana tercantum di Quran.

Nabi Muhammad sempat sembunyi di dalam gua ketika hijrah dari Mekah, Nabi Musa pun dengan diam2 lari dari Mesir pada akhir malam. Hijrah bukan sesuatu yang salah. Malah itu perintah Tuhan.

Terjemahan Depag memang mengandung banyak kesalahan. Dan sebenarnya saya pun memang tidak mengandalkan itu lagi (coba cermati terjemahan yang saya gunakan pada tulisan2 saya).

Mengenai baiat, anda bisa membaca penjelasannya di sini.
Terima kasih

zinting mengatakan...

qt semua orang indonesia,kenapa qt memperdebatkan nabi dan rosul dari negri laen,yang qt sendiri belum tentu tau asal usulnya,kenapa qt tdk mencari kearifan2 lokal yang ada pada budaya qt sendiri yang menurut saya lebih tinggi dari asal nabi dan rosul yang ada,karena tuhan tidak menurunkan rosul dan nabinya di negri kita ini,bukankah diturunkannya rosul dan nabi karena suatu daerah yang mengalami jaman jahiliah dan kekacauan aklak umat manusia di suatu daerah tertentu,kenapa tuhan gak menurunkan nabi atau rosulnya ntah apa saya gak tau yang 25 nabi itu di negara qt indonesia tercinta ini?dan apakah sebenernya negara qt ini pada zamannya,sudah lebih beradab dan berakhlak dari para daerah2 nabi dab rosul2 itu?

normala mengatakan...

diakhir zaman nanti Nabi isa akan muncul.beliau akan dibenarkan oleh org2 yg telah dipilih oleh Allah.Rasulullah bermakna utusan Allah.siapa saja yg dtg dlm hidup kita mengubah diri kita dia adalah utusan Allah.

ICHWANHADI mengatakan...

QS: 49 ayat 7 "Dan ketahuilah bahwa padamu ada Rasul Allah, kalau dia mentaati kamu pada kebanyakan dari urusan, tentu kamu akan jadi rendah. Tetapi Allah menyebabkan kamu mencintai iman dan menghiasinya dalam hatimu dan menjadikan kamu membenci kekafiran dan kefasikan dan penyanggahan. Itulah orang-orang yang menyadari.( 3/101, 10/47, 16/36, 6/116, 4/65, 5/49, 28/88, 33/36, 48/29).
KALANGAN JIN JUGA ADA ROSULNYA LHO !!!
BACA QS: 6 ayat 130 "Wahai masyarakat jin dan manusia, tidakkah datang padamu Rasul-Rasul dari kamu yang menceritakan atasmu Ayat-Ayat-KU dan memperingatkan kamu pada pertemuan Hari ini ? Mereka berkata:” Kami telah membuktikan atas diri kami.” Kehidupan dunia telah memperdaya mereka, dan mereka membuktikan atas diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang kafir.” ( 6/25, 14/4, 16/36, 20/111, 27/66, 6/32, 29/64, 39/48, 57/20, 72/1).
...........................salam.

Amy mengatakan...

@ Abu Hafiz,

pada (3:81) kalau kita baca secara keseluruhan ayat yang terkait sebelum dan sesudahnya mengindikasikan Allah mengambil perjanjian para nabi dengan umatnya bahwa akan datang "RASULUN-MUSHODDIQ" Rasul yg membenarkan. perhatikan pula hubungannya dengan ayat terkait pada (7:157)yaitu "ARRASUL-ANNABIY-AL-UMMIY"

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih