8.11.10

Bulan-Bulan Larangan

Hari ini kita memasuki bulan ke dua belas dalam penanggalan Hijriah, yaitu bulan Dzulhijjah. Berarti hari ini adalah awal dari bulan-bulan larangan yang berlangsung selama empat bulan, yakni dari bulan Dzulhijjah sampai dengan bulan Rabiul-Awwal.

“Sesungguhnya hitungan bulan-bulan di sisi Tuhan (adalah) dua belas bulan di dalam ketetapan Tuhan pada hari Dia menciptakan langit-langit dan bumi, empat di antaranya (bulan-bulan) larangan …” (Quran 9:36)

Merujuk kepada penanggalan Masehi yang biasa kita gunakan, periode bulan-bulan larangan kali ini bertepatan dengan tanggal 8 November 2010 sampai dengan 6 Maret 2011.

Selama empat bulan tersebut berlaku dua larangan.

Pertama, dilarang melakukan peperangan. Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad (damai atasnya) pada bulan Dzulhijjah tahun 10 Hijriah telah mengumumkan pembatalan perjanjian damai dengan orang-orang yang menyekutukan. Mereka diberi waktu selama empat bulan, yakni sampai habis bulan-bulan larangan, sebelum kemudian diberlakukan ketentuan perang.

“Kemudian apabila telah lewat bulan-bulan larangan itu, maka bunuhlah orang-orang yang menyekutukan di mana saja kalian mendapati mereka, dan ambillah mereka, dan kepunglah mereka, dan duduklah untuk (mengawasi) mereka di setiap tempat pengintaian ...” (Quran 9:5)

Terdapat pengecualian mengenai larangan berperang dalam bulan larangan, yaitu manakala pada bulan-bulan tersebut ada suatu ancaman terhadap kehormatan agama dan keselamatan umat. Dalam keadaan ini kita dihadapkan pada dua pilihan sulit. Pilihan pertama adalah menodai kehormatan bulan larangan dengan melakukan peperangan, pilihan ke dua adalah membiarkan kemaslahatan agama dan umat berada dalam gangguan.

Dalam kondisi yang demikian, Tuhan menetapkan bahwa membiarkan ancaman terhadap agama dan umat adalah lebih berat urusannya. Maka penanggulangan atas ancaman tersebut mesti tetap dilaksanakan meskipun untuk itu kaum beriman terpaksa berperang pada bulan larangan.

“Mereka menanyai engkau mengenai bulan larangan, (yakni) berperang di dalamnya. Katakanlah, ’Berperang di dalamnya (adalah perkara) yang besar. Dan menghalangi dari jalan Tuhan, dan keingkaran (kepada) Dia, dan (menghalangi dari) Masjid Larangan, dan mengeluarkan orang-orangnya darinya (adalah) lebih besar (perkaranya) di sisi Tuhan. Dan kekacauan itu lebih besar (perkaranya) daripada peperangan/pembunuhan’ ...” (Quran 2:217)

Larangan ke dua yang berlaku di dalam bulan-bulan larangan adalah dilarang memburu binatang darat. Siapa yang melanggar larangan ini wajib membayar denda berupa hewan kurban yang dibawa ke Ka’bah, sepadan dengan binatang yang dia buru. Putusan tentang hewan ternak seperti apa yang dianggap sepadan, dimintakan kepada dua orang yang dipandang adil di kalangan orang-orang yang percaya.

Pilihan lain selain mempersembahkan hewan kurban adalah membayar tebusan dengan memberi makan orang-orang miskin, atau menjalani puasa yang sebanding dengan hukuman tersebut.

“Wahai orang-orang yang percaya, janganlah kalian membunuh binatang buruan padahal kalian (dalam status) terlarang. Dan barang siapa yang membunuhnya dengan sengaja di antara kalian, maka balasannya adalah binatang ternak seumpama dengan apa yang telah dia bunuh, (menurut) putusan dua orang yang adil di antara kalian, (berupa) hewan kurban yang sampai ke Ka’bah, atau tebusan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa yang sebanding dengan itu, supaya dia merasakan akibat buruk perkaranya ...” (Quran 5:95)

Binatang yang tidak boleh diburu hanyalah binatang buruan darat. Adapun binatang laut seperti ikan dan sebagainya tetap boleh diburu/ditangkap pada bulan-bulan larangan.

“Telah dibolehkan bagi kalian binatang buruan laut dan memakannya (sebagai) kesenangan bagi kalian dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan. Dan dilarang bagi kalian binatang buruan darat selama kalian (dalam status) terlarang. Dan takutlah kepada Tuhan yang kepada-Nya kalian akan dihimpun.” (Quran 5:96)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

2 comments:

Anonim mengatakan...

Salam
Pak Sakti yg saya hormati
di 9:36 kata haram biasanya diterjemahkan dengan dihormati/suci di situ diterjemahkan terlarang
Klo saya lihat terlarang di 6:140 memakai doble "R" Harram, apakah itu sama atau beda pak mohon penjelasan
Salam...

Sakti A. Sihite mengatakan...

Salam pak Quraniawan yang saya hormati,

Makna dari kata h-r-m yang bapak sebutkan itu sama, yakni "terlarang".

"Dihormati" atau "suci" bukanlah terjemahan yang benar dari h-r-m. Itu hanya sebuah penilaian saja.

Karena pada bulan-bulan tersebut terdapat larangan yang harus dihormati, maka dikaitkan orang lah bulan haram itu dengan istilah dihormati.

Karena bulan-bulan tersebut harus disterilkan dari perbuatan terlarang yang akan menodainya, maka dikaitkan orang lah bulan haram tersebut dengan istilah suci. Begitu pak.

Salam

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih