6.1.15

Kode 19

Pada tahun 1980-an muncul sebuah “temuan” yang cukup menarik perhatian umat Islam, yaitu “kode 19”.  Singkatnya, bilangan 19 (dan kelipatannya) dianggap sebagai determinan dalam hitung-hitungan jumlah huruf, kata, ataupun ayat tertentu di dalam Quran.  Penemu kode ini adalah Rashad Khalifa.  Seorang doktor biokimia sekaligus imam masjid Tucson, Arizona, Amerika Serikat.

Rashad mengambil bilangan 19 dari penyebutan sembilan belas malaikat penjaga neraka yang terdapat di dalam Quran bab 74 ayat 30.

“Di atasnya sembilan belas.” (Quran 74:30)

Dengan bermodalkan utak-atik bilangan 19, Rashad memperbuat kedurhakaan dengan berusaha membatalkan ayat-ayat Allah.  Sebagai contoh, dia katakan bahwa dua ayat terakhir bab 9 (ayat 128 dan 129) adalah palsu karena keberadaan dua ayat tersebut tidak cocok dengan utak-atik bilangan 19-nya.  Maka, di dalam terbitan Quran versi Rashad, bab 9 hanya terdiri dari 127 ayat.

Kesesatan Rashad Khalifa sebenarnya langsung dipaparkan dengan terang di ayat selanjutnya dari ayat 74:30 yang menjadi pegangannya.  Ayat 74:31 meyebutkan bahwa bilangan malaikat yang 19 tersebut adalah cobaan yang akan menyesatkan orang-orang yang ingkar.

Orang-orang yang beriman ketika membaca pernyataan sembilan belas malaikat penjaga neraka mereka akan mempercayai informasi tersebut apa adanya (yaitu bahwa penjaga neraka ada 19 malaikat), dan mereka jadi bertambah yakin bahwa kehidupan akhirat itu benar-benar ada.

Namun—menurut Quran 74:31—ketika orang-orang yang ingkar dan orang-orang yang hatinya berpenyakit mendapati ayat tersebut, yang muncul adalah pikiran untuk mencari-cari takwil dari bilangan 19 itu padahal tidak ada apapun yang perlu ditakwilkan dari bilangan tersebut.  Hasilnya, dia menjadi sesat sebagaimana yang terjadi dengan Rashad Khalifa.

“Dan tidaklah kami jadikan penjaga neraka itu melainkan para malaikat, dan tidaklah kami jadikan bilangan mereka melainkan sebagai suatu cobaan bagi orang-orang yang ingkar, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, dan orang-orang yang beriman bertambah keimanan, dan (agar) orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang yang beriman tidak ragu-ragu, dan agar orang-orang yang di dalam jantung mereka ada penyakit dan orang-orang yang ingkar berkata, ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan ini (sebagai) suatu perumpamaan?’ Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki siapa yang Dia kehendaki.  Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuan kamu kecuali Dia. Dan tiadalah ia melainkan peringatan bagi manusia.” (Quran 74:31)

Jadi sejak awal kita sudah dapat menilai Rashad Khalifa dengan kode 19-nya tanpa perlu memusingkan akurasi hitung-hitungan 19-nya itu sendiri.

Tuduhan Rashad mengenai kepalsuan ayat Quran dimentahkan oleh pernyataan Allah bahwa Dia yang menjaga Quran itu (15:9) dan bahwa Quran itu tidak akan didatangi kepalsuan (41:42).  Terbukti berbagai upaya pemalsuan Quran selalu berhasil diungkap dengan segera.

Justru tindakan Rashad yang berusaha melemahkan ayat-ayat Allah dengan melemparkan tuduhan kepalsuan terhadapnya diancam Allah dengan siksaan neraka (lihat 22:51, 34:5, 34:38).

Sampai saat ini masih ada orang-orang yang percaya pada Rashad Khalifa dan kode 19-nya.  Hal tersebut menunjukkan bahwa jika Allah menghendaki kesesatan bagi seseorang maka tidak ada yang dapat menunjukinya.  Bahkan penjelasan yang tercantum tepat setelah ayat yang dia salah pahami pun tidak berhasil meluruskan pemahamannya.

Rashad Khalifa yang juga mengaku sebagai rasulullah tersebut tewas terbunuh pada tanggal 31 Januari 1990.  Terbunuhnya Rashad sekaligus menunjukkan bahwa pengakuan kerasulannya palsu, karena di Quran 5:67 dikatakan bahwa Allah akan melindungi rasul-Nya dari kejahatan manusia.  Dengan ayat tersebut maka tidak akan ada lagi kejadian terbunuhnya seorang rasul seperti yang pernah terjadi di masa lampau.

Share on Facebook

Artikel Terkait: