12.8.05

Metode Mempelajari Quran

Susunan Quran
Ketika membuka lembaran-lembaran Quran kita akan menemukan sebuah susunan yang unik dan tidak biasa. Dikatakan demikian karena topik-topik yang dibahas di dalam Quran umumnya tidak termuat utuh di dalam rangkaian ayat-ayat yang berurutan.

Sebagai contoh, uraian tentang “salat” kita temukan tersebar pada banyak tempat yaitu di bab ke 2, bab ke 4, bab ke 5, bab ke 6, bab ke 7, bab ke 8, bab ke 9, bab ke 10, bab ke 11, bab ke 13, bab ke 14, bab ke 17, bab ke 19, bab ke 20, bab ke 21, bab ke 22, bab ke 23, bab ke 24, bab ke 27, bab ke 29, bab ke 30, bab ke 31, bab ke 33, bab ke 35, bab ke 42, bab ke 58, bab ke 62, bab ke 70, bab 73, bab ke 98, dan bab ke 107.

Susunan yang demikian berbeda dengan buku yang umumnya kita baca, dimana setiap topik dimuat pada sebuah bab. Misalnya topik A dibahas tuntas pada bab pertama, topik B dibahas tuntas pada bab ke dua, dan seterusnya.

Menyusun Ayat-Ayat Berdasarkan Topik
Untuk menangkap pesan yang utuh tentang topik tertentu di dalam Quran, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menyusun/ mengelompokkan ayat-ayat dalam topik yang sama.

Apabila misalnya kita ingin mendapatkan pengertian mengenai “salat”, maka kita bisa mulai menginventarisasi semua ayat-ayat yang menyinggung tentang “salat” di dalam Quran.

Menelaah dan Menarik Pengertian
Setelah mengumpulkan ayat-ayat tentang suatu topik, maka sekarang waktunya bagi kita untuk menelaah dan menarik pengertian dari kumpulan ayat tersebut. Sebelumnya jangan lupa untuk mohon perlindungan Tuhan dari setan yang mungkin ingin menyelusup ke dalam hati dan pikiran kita.

Tahap menarik pengertian ini sangat krusial karena kesalahan mungkin saja terjadi disebabkan oleh faktor-faktor berikut:
- Tidak mengumpulkan ayat-ayat yang setopik secara lengkap
- Terdapat penerjemahan kata yang tidak tepat (gunakanlah beberapa referensi terjemahan atau kamus untuk perbandingan)
- Tidak menempatkan ayat sesuai konteksnya (perhatikan kutipan ayat secara lengkap, dan perhatikan juga ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat yang dikutip untuk menemukan konteksnya)

Koherensi
Hal penting yang harus diperhatikan dalam tahap menarik pengertian adalah faktor keselarasan (koherensi). Taruhlah dari beberapa ayat kita telah mempunyai kesimpulan sementara tentang suatu topik. Kesimpulan sementara tersebut harus kita hadapkan dengan ayat-ayat lain dalam topik yang sama. Apakah kesimpulan sementara tersebut masih dapat dipertahankan, ataukah ia dimentahkan oleh ayat yang lain?

Pengertian yang dapat dipegang adalah pengertian yang terbukti keselarasan (koherensi)nya dengan berbagai ayat Quran, khususnya ayat-ayat dalam topik yang sedang ditelaah.

Ketenangan dan Kesabaran
Langkah mempelajari Quran menuntut kesabaran dan ketenangan. Kita tidak boleh terburu nafsu untuk menguasainya. Bisa jadi setelah menelaah suatu topik kita masih belum berhasil menarik pengertiannya. Apabila hal itu yang terjadi, jangan memaksakan untuk tetap menarik kesimpulan. Lewati saja dulu, mungkin ini memang belum waktunya pengertian tentang topik tersebut diturunkan Tuhan ke hati kita.

Tuhan yang menetapkan kepada siapa, kapan, dan sedalam apa pemahaman tentang Quran itu akan diberikan. Untuk itu, kita selaku hamba-Nya hanya dapat memohon supaya Dia menambah pengetahuan kita.

“… Dan janganlah engkau tergesa-gesa dengan Quran sebelum disempurnakan kepada engkau wahyunya, dan katakanlah, ‘Tuanku, tambahkanlah kepadaku pengetahuan’.” (Quran 20:114)

Mengikuti Pengertian yang Terbaik
Meskipun sudah menarik pengertian yang kita rasa tepat, tetaplah terbuka terhadap pandangan yang berbeda. Bisa jadi pengertian orang lain lebih baik disebabkan ada ayat yang luput dari pertimbangan kita, atau kurang tepatnya cara kita dalam melihat suatu kalimat, atau karena kita telah keliru menerjemahkan suatu kata.

Orang-orang yang mendapat petunjuk Tuhan, dan yang menggunakan akalnya, tidak akan mempertahankan suatu pendapat atas dasar ego. Dia bersedia mendengarkan, dan akan mengikuti yang terbaik dari pendapat-pendapat yang ada.

“Orang-orang yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang paling baik darinya. Mereka itulah orang-orang yang Tuhan tunjuki, dan mereka itulah orang-orang yang berakal.” (Quran 39:18)

(Terakhir diperbarui: 4 Juni 2016)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

2 comments:

Deni mengatakan...

Salam,

Bagaimana dengan Asbābun Nuzūl ? Bukannya itu juga bisa sbg tafsir Quran ?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Deni: Salam,
Asbabun nuzul itu adalah cerita (hadis) orang-orang tentang suatu ayat. Dan kita tidak memerlukan hadis untuk memahami Quran.

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih