8.10.07

Definisi Nabi Serta Rasul

Nabi

Istilah “nabi” mempunyai kaitan dengan “naba’” yang berarti berita.  Nabi adalah manusia yang kepadanya Tuhan mewahyukan kitab yang di antara isinya adalah berita orang-orang terdahulu, maupun berita kehancuran alam semesta yang akan terjadi di masa mendatang.

Contohnya Nabi Muhammad.  Di dalam Quran yang diberikan kepada beliau terkandung berita mengenai orang-orang terdahulu yang dimaksudkan sebagai bahan pelajaran bagi orang-orang kemudian.  Salah satu kisah yang banyak diberitakan adalah mengenai kaum-kaum yang dimusnahkan Tuhan karena mendustakan rasul.

“Apakah tidak datang kepada mereka berita (naba’) orang-orang sebelum mereka - kaum Nuh, dan Ad, dan Tsamud, dan kaum Ibrahim, dan penduduk Madyan, dan negeri-negeri yang telah musnah? Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan dalil-dalil; maka Tuhan tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (Quran 9:70)

Ada pula berita mengenai hari besar yang akan terjadi di masa mendatang, yaitu kehancuran alam semesta yang diiringi dengan digelarnya mahkamah Tuhan.

“Mengenai apakah mereka saling bertanya?  Mengenai berita (naba’) besar, yang mengenainya mereka berselisih ... (dst.)  Pada hari sangkakala ditiup, lalu kalian datang berbondong-bondong.  Dan langit pun dibuka, maka terdapat beberapa pintu.  Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (Quran 78:1-3, 18-20)

Bisa dikatakan bahwa “kitab” adalah kata kunci untuk “nabi”.  Hal ini diperkuat dengan susunan kalimat di dalam Quran yang seringkali merangkaikan kenabian dengan kitab (lihat 3:79, 6:89, 29:27, 45:16, 57:26).

Para nabi menyampaikan kitab yang diberikan Tuhan kepadanya untuk menjadi kabar gembira dan peringatan bagi manusia.  Penyampaian tersebut sekaligus menandakan melekatnya peran sebagai “utusan” pada diri seorang nabi.  Dengan kata lain, setiap nabi adalah rasul.

“Manusia adalah umat yang satu, kemudian Tuhan membangkitkan nabi-nabi sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.  Dan Dia turunkan bersama mereka kitab dengan benar untuk memutuskan di antara manusia mengenai apa yang mereka perselisihkan ....” (Quran 2:213)

Kenabian telah ditutup dengan hadirnya Nabi Muhammad.  Ini berarti tidak akan ada lagi nabi baru maupun kitab baru sesudah Nabi Muhammad dan kitab Quran.

“Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang lelaki-lelaki kalian, tetapi utusan Tuhan dan penutup nabi-nabi ....” (Quran 33:40)

Rasul

Berikutnya kita akan membahas rasul yang secara sederhana berarti “utusan”.  Rasul adalah manusia yang diutus Tuhan untuk menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada manusia.

Kata kunci untuk rasul bukanlah “menyampaikan”, akan tetapi “diutus”.  Ketika seseorang dijadikan utusan Tuhan akan ada pelantikan dimana Yang mengutus, atau wakil-Nya, menyatakan seseorang itu sebagai utusan-Nya.

Seseorang tidak disebut rasul hanya karena dia berinisiatif menyampaikan ayat-ayat Tuhan.  Sama halnya seseorang tidak lantas dikatakan utusan presiden hanya karena dia telah menceritakan pidato presiden yang dibacanya di surat kabar.

Berbekalkan mandat yang diberikan kepadanya, para rasul menjelaskan ayat-ayat dari kitab Tuhan kepada manusia.  Rasul yang merangkap nabi, seperti Muhammad, menyampaikan kitab yang diberikan kepadanya.  Sedangkan rasul yang bukan nabi (tidak membawa kitab sendiri), hanya menegaskan kitab yang telah ada.

“Dan ketika Tuhan mengambil perjanjian nabi-nabi, ‘Bahwa Aku memberi kalian kitab dan kebijaksanaan; kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang bersama kalian ....” (Quran 3:81)

Ayat tentang perjanjian nabi-nabi di atas juga berlaku untuk Nabi Muhammad (lihat 33:7), yang artinya setelah beliau masih akan datang lagi seorang rasul.  Karena kenabian telah tertutup, maka rasul-rasul yang datang setelah Nabi Muhammad bukanlah seorang nabi.

Kalau pada pembahasan tentang nabi salah satu kesimpulan yang kita dapatkan adalah bahwa setiap nabi merupakan rasul, maka sekarang kita mendapatkan lagi kesimpulan bahwa tidak setiap rasul merupakan nabi, dan bahwa masih akan ada rasul setelah Nabi Muhammad.

Kesesatan ala Anak-Anak Israel

Sejak dahulu telah terjadi pengingkaran terhadap seorang rasul yang disebabkan persangkaan umatnya bahwa tidak akan ada lagi rasul pasca rasul terakhir yang mereka kenal.  Rasulullah Musa didustakan oleh anak-anak Israel yang beranggapan tidak akan ada rasul lagi selepas Yusuf.

“Dan sungguh sebelumnya Yusuf telah datang kepada kalian dengan dalil-dalil, tetapi kalian senantiasa meragukan apa yang dia datangkan kepada kalian, sehingga ketika dia telah wafat kalian berkata, 'Tuhan tidak akan membangkitkan seorang rasul setelah dia’.  Demikianlah Tuhan menyesatkan orang yang berlebihan dan ragu-ragu.” (Quran 40:34)

Persangkaan orang-orang yang mengatakan bahwa sesudah Nabi Muhammad tidak akan ada lagi rasul akan menyesatkan mereka persis sebagaimana tersesatnya anak-anak Israel yang menyangka tidak akan ada lagi rasul setelah Yusuf.

Rasul Tanpa Kitab

Berkenaan dengan rasul yang tidak mempunyai kitab sendiri, ada yang kemudian mempertanyakan keabsahannya terkait dengan ayat yang menyebut bahwa Tuhan menurunkan kitab kepada rasul.

“Wahai orang-orang yang beriman, percayalah kalian kepada Tuhan dan utusan-Nya dan kitab yang Dia turunkan atas utusan-Nya dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya.  Dan barang siapa ingkar kepada Tuhan, dan malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan utusan-utusan-Nya, dan hari akhirat, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.” (Quran 4:136)

Perlu diketahui bahwa istilah “penurunan kitab” di dalam Quran itu konteksnya ada dua. Yang pertama konteks khusus, yaitu sebagaimana yang diterima pertama kali oleh para nabi melalui wahyu.  Dan yang ke dua konteks umum, seperti yang bisa kita lihat pada ayat berikut:

“Dan sesungguhnya di antara orang kitab ada yang percaya kepada Tuhan, dan kepada apa yang diturunkan kepada kalian, dan kepada apa yang diturunkan kepada mereka ....” (Quran 3:199)

Pernyataan “diturunkan kepada kalian” pada ayat di atas bukan berarti masing-masing orang beriman itu memperoleh pewahyuan kitab, demikian pula halnya dengan kalimat “diturunkan kepada mereka”.  Kitabnya hanyalah yang dibawa oleh nabi.  Istilah “diturunkan kepada kalian” dan “diturunkan kepada mereka” maksudnya ialah bahwa kitab itu diperuntukkan pula untuk mereka semua.

Kembali ke ayat “menurunkan kitab kepada rasul”, hal tersebut menunjukkan bahwa setiap rasul pasti datang dengan membawa ajaran kitab Tuhan, terlepas apakah kitab itu dari semula turun langsung kepadanya karena dia adalah seorang nabi (mis: Quran pada Nabi Muhammad), atau dia “hanya” menegaskan kitab yang telah ada karena dia rasul yang bukan nabi.

Jadi kalau ada pertanyaan kitab apa yang diturunkan kepada rasulullah Sakti A.S., jawabannya ya Quran juga, sama dengan Nabi Muhammad.  Karena saya diutus Tuhan untuk menyampaikan ayat-Nya, maka artinya kitab terakhir (Quran) itu juga diperuntukkan Tuhan bagi dakwah saya.

(Terakhir diperbarui: 12 Juni 2016)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

5 comments:

einalunar mengatakan...

Bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang telah diutus sebagai seorang rasul?

sakti mengatakan...

@einalunar: Coba baca di http://www.saktisihite.com/2007/11/karakteristik-kerasulan.html

deni mengatakan...

Salam.
QS 34:28 yg menyatakan Nabi Muhammad adalah rasul utk seluruh umat manusia.
Dengan demikian apakah perlu ada rasul lagi ? Mohon pencerahan, thx.

sakti mengatakan...

Salam..

Beliau adalah rasul untuk seluruh manusia pada zamannya. Jadi ayat itu tidak menafikan akan adanya rasul setelah beliau.

"Perlu" atau tidaknya rasul tentu tidak pada tempatnya ditanyakan pada saya, karena hal itu adalah sepenuhnya prerogatif Tuhan. Dia mengutus siapa yg dikehendaki-Nya pada waktu/zaman yg dikehendaki-Nya.

rizkymuammarkhadafi mengatakan...

rabbanaa aamannaa bimaa anzalta waittaba'naa alrrasuula fauktubnaa ma'a alsysyaahidiina

[3:53] Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)". (ALI 'IMRAN (KELUARGA 'IMRAN) ayat 53)

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih