16.10.07

Ketentuan Salat (Bagian-2)

Berdiri

Berdirinya kita menghadap Tuhan bukanlah berdiri dengan sikap asal-asal saja, bukan pula dengan menyombongkan diri. Kita berdiri di dalam salat dengan sikap tunduk patuh kepada-Nya.

“… dan berdirilah kalian karena Tuhan (selaku) orang-orang yang tunduk patuh.” (Quran 2:238)

Seruan

Setelah berdiri menghadap ke arah Masjid Larangan, kita buka komunikasi dengan memanggil Tuhan. Panggilan tersebut bisa “wahai Tuhan” (yaa Allah) atau “wahai Yang Pemurah” (yaa Rahmaan) atau nama-nama-Nya yang lain sebagaimana yang disebutkan di dalam Quran.

“... Serulah Tuhan, atau serulah Yang Pemurah, mana saja yang kalian seru, maka bagi-Nya nama-nama yang paling baik.” (Quran 17:110)

Jangan memanggil “akbar”, karena itu bukan nama Tuhan. Nama yang mewakili kebesaran-Nya adalah “al-Kabir”.

Suara

Seluruh panggilan, agungan, maupun permohonan di dalam salat, baik itu ketika berdiri, berlutut, maupun sujud diucapkan dengan suara pelan. Tidak dikeraskan dan tidak pula dibisikkan, tetapi pertengahan antara yang demikian.

“... Dan janganlah mengeraskan suara dalam salat engkau, dan janganlah membisik padanya, dan carilah jalan di antaranya.” (Quran 17:110)

Bahasa

Tuhan tidak ada menetapkan bahasa tertentu (misal: bahasa Arab) untuk digunakan di dalam salat. Jadi gunakan saja bahasa kita sendiri, bahasa yang kita pahami.

Dengan memahami apa yang kita ucapkan, mudah-mudahan kita terhindar dari bertingkah seperti orang mabuk yang berdiri menghadap Tuhan untuk lalu memerintah-Nya dengan ucapan dalam bahasa Arab yang maknanya: “Katakanlah, ‘wahai orang-orang kafir’ …” dan seterusnya.

Bacaan

Setelah tadi kita memanggil nama-Nya, kita lanjutkan dengan mengagungkan-Nya dengan kalimat pujian: “Pujian bagi Tuhan yang tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak ada baginya pelindung dari kehinaan”.

Agungan di awal salat tersebut merupakan ikrar peng-Esa-an Tuhan. Kita mengagungkan-Nya sekaligus mengingkari paham Nasrani yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai anak, paham orang-orang yang menyekutukan sesuatu dengan Tuhan, dan paham Yahudi yang mengatakan bahwa Tuhan lemah dan membutuhkan.

“Dan katakanlah, ‘Pujian bagi Tuhan yang tidak mengambil anak, dan tidak ada bagi-Nya sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak ada bagi-Nya pelindung dari kehinaan …” (Quran 17:111)

Pada dasarnya ucapan yang telah ditetapkan di dalam salat hanyalah tiga, yaitu: seruan/panggilan pada awal salat, agungan yang mengiringi seruan tersebut sebagaimana yang baru saja dibahas, dan kalimat penutup nanti pada akhir salat kita.

Jadi setelah kita mengagungkan-Nya, tidak ada lagi bacaan khusus yang harus diucapkan baik itu ketika berdiri, berlutut, maupun sujud sampai menjelang selesai salat.

Rentang “bebas” ini manfaatkanlah untuk membesarkan Tuhan, meminta ampunan, memohon pertolongan, dan bermunajat mengadukan hal kita kepada-Nya. Kita bisa mencontoh doa-doa yang ada di dalam Quran, ataupun menyampaikan doa yang kita untai sendiri.

“Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat …” (Quran 2:45)

“... dan besarkanlah/ agungkanlah Dia (dengan sebenar-benarnya) pembesaran/ pengagungan.” (Quran 17:111)

Ruku’

Dari berdiri kita kemudian ruku’. Ruku’ bukanlah menunduk atau membungkuk, akan tetapi berlutut. Meskipun di dalam kamus tercakup makna menunduk disamping makna berlutut, namun makna berlututlah yang dikonfirmasi oleh Quran.

Hal ini diketahui dari kisah Nabi Daud
(damai atasnya) sewaktu beliau jatuh berlutut. Susunan kata “jatuh” (kharra) yang diikuti dengan kata “berlutut” (raki’an) saling menjelaskan satu sama lain. “Jatuh” menjelaskan bagaimana ruku’ Nabi Daud, dan “berlutut” menjelaskan bagaimana jatuh beliau.

“... Dan Daud menyangka bahwa Kami mengujinya, maka dia meminta ampun kepada Tuannya, dan dia jatuh, berlutut, dan bertobat.” (Quran 38:24)

Sujud

Dari posisi berlutut, kita kemudian sujud. Sujud dilakukan dengan menyungkurkan badan sehingga wajah menyentuh bumi.

Apabila didaratkan di atas permukaan yang tidak cukup lembut, maka sujud-sujud kita akan meninggalkan bekas di wajah/dahi sebagaimana orang-orang terdahulu.

“Muhammad itu (adalah) utusan Tuhan, dan orang-orang yang bersama dia itu keras terhadap orang-orang ingkar, pengasih sesama mereka. Engkau melihat mereka berlutut, sujud, mencari anugerah Tuhan, dan keridaan. Tanda mereka (adalah) pada wajah-wajah mereka dari bekas sujud ...” (Quran 48:29)

Akhir Salat

Sujud adalah sikap terakhir dalam rangkaian gerakan salat kita. Di akhir sujud menjelang selesai salat kita disuruh untuk melafalkan agungan kepada Tuhan.

“Dan dari (sebagian) malam agungkanlah Dia, dan (agungkanlah Dia) di akhir-akhir sujud.” (Quran 50:40)

Agungan kepada Tuhan dilakukan dengan memuji-Nya (50:39), yaitu dengan mengucapkan “Pujian bagi Tuhan, Tuan semesta alam” (alhamdulillahi rabbil ’aalamiin). Ucapan yang sama juga menjadi akhir seruan para penghuni kebun akhirat (surga).

“… Dan akhir seruan mereka: ‘Pujian bagi Tuhan, Tuan semesta alam.’” (Quran 10:10)

Rakaat

Dengan selesainya satu siklus gerakan berdiri-berlutut-sujud sebagaimana diterangkan di atas, telah sempurnalah salat kita. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, gerakan salat dimulai dengan berdiri dan berakhir dengan selesainya sujud.

“… apabila mereka telah sujud, hendaklah mereka berada dari belakang engkau (berjaga-jaga) …” (Quran 4:102)

Bagaimana kalau belum merasa puas dengan satu kali berdiri-berlutut-sujud? Silakan berdiri lagi untuk salat, karena memang tidak ada batasan untuk mengulanginya kembali.

Menyingkat Salat

Apabila kita melakukan salat di dalam kediaman kita tentu tidak ada faktor keamanan yang perlu dikhawatirkan. Namun apabila kita sedang berada di luar kediaman, ada kemungkinan kita menghadapi situasi keamanan yang tidak kondusif untuk melaksanakan salat. Mungkin karena salat kita dianggap aneh dan tidak dapat diterima, atau karena sedang pecah konflik antara orang-orang beriman dengan orang-orang yang ingkar.

Dalam keadaan yang demikian kita boleh menyingkat salat kita. Misalnya kita biasa salat lima belas menit, dalam kondisi ini kita salat mungkin lima menit saja.

“Dan apabila kalian berpergian di bumi, maka tiadalah atas kalian kesalahan untuk menyingkat salat itu, jika kalian khawatir bahwa
orang-orang yang ingkar akan menyerang kalian ...” (Quran 4:101)

Salat Dalam Keadaan Genting

Salat dengan gerakan berdiri-berlutut-sujud sebagaimana yang telah dijelaskan dilakukan apabila keadaannya memungkinkan. Di medan peperangan pun ketika perang tidak sedang berkecamuk kita dapat melakukan salat dengan berdiri-berlutut-sujud, tentunya dengan saling berjaga-jaga bergantian sebagaimana yang dicontohkan pada praktik salat Nabi.

Namun apabila keadaan sedang genting seperti dalam perang yang sedang berkecamuk, atau sedang dikejar musuh, maka salat dapat dilakukan sambil berjalan kaki ataupun berkendara.

Salat dalam kondisi ini tentu tidak mungkin dilakukan dengan gerakan berdiri-berlutut-sujud. Cukuplah lakukan apa yang memungkinkan saja yaitu menyeru Tuhan, memohon pertolongan, dan memuji-Nya.

Kalau kondisi sudah mereda/aman, dan waktu salat masih ada, kita kembali mengingat Tuhan (salat) dengan cara sebagaimana yang telah diajarkan-Nya.

“Maka jika kalian khawatir, maka (salatlah dengan) berjalan kaki atau berkendaraan. Kemudian apabila kalian telah aman, ingatlah Tuhan sebagaimana Dia telah mengajarkan kalian apa-apa yang tidak kalian ketahui.” (Quran 2:239)

Salat Berjemaah

Ketentuan salat dengan berjemaah pada dasarnya tidak berbeda dengan ketentuan salat yang telah diterangkan. Kekhususannya adalah, pada salat berjemaah ada pemimpin salat (imam) dan pengikut salat (makmum).

Makmum berdiri di belakang imam. Ketika imam berlutut makmum ikut berlutut, ketika imam sujud makmum ikut sujud. Ketika makmum telah mengikuti imam bersujud, maka sempurnalah kepengikutannya di dalam salat berjemaah tersebut. Selanjutnya makmum dapat bangkit dari sujudnya apabila telah selesai tanpa perlu mengikuti atau menunggu bangkitnya imam.

(Terakhir diperbarui: 31 Desember 2008)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

39 comments:

Anonim mengatakan...

saya minta pencerahan tafsir atas Kitab Al-Quran surat 73 : 20...

ditunggu sekali jawabannya..terima kasih..

deni mengatakan...

Iya, saya juga minta pencerahan utk QS 73:20 dan bagaimana dengan aturan masbuk ? thx

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Anonim & Deni: Surah 73:20 menceritakan bahwa rasul dan kaum mukmin berjaga pada sebagian malam (2/3, 1/2, 1/3) untuk menelaah Quran.

sedang belajar mengatakan...

bacaan anda dalam shalat apa saja. mohon di jabarkan.. terima kasih.

deni mengatakan...

Jadi itu bukan menerangkan waktu shalat tahajud ?
Trus bagaimana dengan niat ?
Niat mau shalat, puasa ?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Deni: Niat adalah sesuatu yang sudah melekat di setiap perbuatan yang kita lakukan secara sadar. Anda menulis komentar di blog ini tentunya juga didasari oleh niat bukan? Dan itu tidak perlu dilafalkan semisal: "sengaja aku berkomentar di blog..." :)

Mengajar Membaca Menulis mengatakan...

Salam.. ayat apa yang sesuai untuk kita melihat kepntingan solat berjemaah?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Mengajar: Salam.. Saya belum menemukan adanya ayat yang secara spesifik menyebutkan pentingnya shalat berjemaah.

Mengajar Membaca Menulis mengatakan...

Salamun alaikum.. ayat apa yang sesuai untuk kita melihat kepentingan solat bersendirian? saya masih belum menemukan.. jika hal ini, maka Allah memberi kelonggaran kepada manusia untuk bersolat berjemaah ataupun bersendirian.. Adakah betul pendapat saya ini.. maaf andai tersilap.. betulkan silap di mana2.. peace..

Jenar mengatakan...

Kakanda Sakti A. Sihite,

Mohon penjelasan dari
- "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. 16. An Nahl : 125)

Serta

- "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'" (QS. 2. Al Baqarah : 43.)

Ditunggu penjelasannya ya, kakanda.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Jenar: Kedua ayat di atas sebenarnya sudah cukup lugas. Hal apanya yang masih belum anda pahami?

Jenar mengatakan...

Kakanda Sakti A. Sihite,

Yang kulo tanyaken,
1. Dalam (QS. 16. An Nahl : 125), bagaimana ikhtiar kulo supaya tidak tersesat dan mendapatkan petunjuk dari-Nya?
Karena banyak yang mengaku benar dan mana yang benar menurut-Nya?

2. Dalam (QS. 2. Al Baqarah : 43.), bagi yg ruku diminta untuk bergabung juga dengan yang ruku (berjamaah). Bagaimanakah kriteria orang yang ruku tersebut berdasarkan petunjuk dari Tuhan?

Mohon penjelasannya, kakanda.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Jenar: 1. Supaya mendapat petunjuk, taatilah rasul (lihat Quran 24:54). Praktisnya untuk saat ini, indahkanlah apa-apa yang saya ajarkan di blog ini.

2. Maksud perintah di ayat tersebut adalah, hendaknya Bani Israel menggolongkan diri mereka sebagai orang-orang yang turut menegakkan shalat.

Deni mengatakan...

Salam, sy pernah baca pembahasan ttg shalat tahajud pernah di bahas di blog ini, tp sy cari koq sdh gak ada lg ya ? Atau msh ada tp di bagian mana ? Thx

Tyo mengatakan...

Salam. Serius, Deni?
Saya sudah selesai membaca ke 56 Materinya tetapi tidak ada pembahasan mengenai shalat tahajud.
Kapan anda membacanya, Deni?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Deni: Salam.. Tahajud belum pernah saya ulas dalam tulisan tersendiri. Tapi di atas saya sudah beri jawaban atas pertanyaan tentang tahajud.

amy mengatakan...

[DEPAG 73:20] Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah,

maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
=====================

Dari ayat di atas dapat dilihat dalam satu waktu (malam itu) menunaikan shalat dan zakat, saya fikir zakat disitu merujuk kepada kesucian, bukan bayar zakat tiap tahun atau bila sampai nishob.

demikian mohon pencerahannya.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Amy: Tidak jarang pernyataan di dalam suatu ayat Quran ataupun di antara ayat-ayat yang berurutan merupakan pernyataan yang berdiri sendiri, alias konteksnya tidak terkait langsung dengan pernyataan sebelum atau sesudahnya. Perintah salat dan zakat pada surah 73:20 menurut saya termasuk ke dalam tipe ini.

Akar kata "zakat" itu memang bermakna kesucian, dan wujudnya adalah dengan jalan memberikan harta karena perbuatan tersebut akan menyucikan pelakunya. "Yang memberikan hartanya (untuk) menyucikan" (Quran 92:18)

Mentari Kebenaran mengatakan...

Segala puja dan puji bagi Tuhan Semesta Alam.

Terima kasih atas bimbingan shalatnya kepada Rasul Sakti A. Sihite.

Sekarang saya sudah memulai shalat 3 waktu dan mengikuti kaidah yang telah Rasul Sakti A. Sihite ajarkan, yaitu: Berdiri, Berlutut dan Bersujud dalam satu-satuan rakaat.

Betul begitukan ya, Rasul Sakti A. Sihite?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Mentari: Ya, betul seperti itu.

Kang Paiman mengatakan...

Salamun alaikum....
Maaf, ketika Anda sholat, bahasa apakah yang Anda pakai? Arab, Indonesia, Batak, Betawi, Sunda, Jawa, atau apa?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Kang Paiman: Alaika salam..
Sekarang saya salat pakai bahasa Indonesia. Dulunya, waktu masih mengikuti agama "ulama", tentu saja pakai bahasa Arab.

Kang Paiman mengatakan...

Sekarang saya salat pakai bahasa Indonesia. Dulunya, waktu masih mengikuti agama "ulama", tentu saja pakai bahasa Arab.


Salamun alaikum....
Senang berdiskusi dengan Anda.
Maaf, dasarnya dari mana? Apakah didalam Al Qur'an ada, bahwa sholat boleh memakai bahasa Indonesia?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Kang Paiman: Alaika salam..
Kaidah dalam hukum, kalau tidak ada larangannya berarti boleh. Apakah ada perintah untuk salat pakai bahasa Arab atau larangan salat pakai bahasa selain Arab?

Deni mengatakan...

Salam, bisa tolong disebutkan batas mulai dan batas akhir waktu shalat yg 3 tersebut jika memakai patokan jam, jam utk waktu daerah jakarta.

Bagaimana patokan waktu shalat jika tinggal di kutub ?

Thx

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Deni: Salam. Patokan waktu tentu saja berbeda-beda tiap hari karena hitungan atas gerak matahari tidak sama tiap harinya. Untuk saat ini (29 Juli 2012) batas waktu salat untuk Jakarta kurang lebih adalah: Fajar (05.30 - 06.00), Wusta (12.00 - 12.30), Isya (18.00 - 18.30).

Tidak ada perbedaan patokan waktu salat dimanapun, termasuk di kutub.

Deni mengatakan...

Utk di Kutub maksud sy jika patokan sholatnya matahari. Berikut ini penjelasan ttg matahari di Kutub:

Fenomena Midnight Sun atau Matahari di Tengah Malam adalah fenomena alam yang terjadi pada bulan-bulan musim panas (summer) di lintang utara dekat Lingkaran Arktik (kutub utara) dimana matahari masih terlihat di tengah malam pada waktu lokal apabila cuaca cerah.

Pada bulan Mei banyak sekali turis Asia, Eropa Tengah akan berkunjung ke ujung utara bumi itu untuk menyaksikan fenomena alam tersebut. Salah satu kota tujuan untuk wisata ‘Midnight Sun’ itu adalah Tromso, Bodo, Hammerfest dan Nordkapp.
Tromso adalah kota besar terakhir sebelum memasuki kawasan lingkaran kutub utara. Kota ini terletak 69°40′ Lintang Utara, dan hanya berjarak 350 km dari situ. Pada setiap bulan Mei, matahari akan tenggelam dan langsung terbit di cakrwala kota Tromso. Nah turis-turis mancanegara biasanya berdatangan pada bulan bulan ini.

Negara yang bisa merasakan fenomena ini antara lain: Kanada, AS, Denmark (Greenland), Norwegia, Swedia, Finlandia, Rusia dan Islandia. Seperempat wilayah Finlandia berada di bagian utara lingkaran Arktik.

Di daerah Svalbard, Norwegia, kita tidak akan bisa melihat sunrise alias matahari terbit mulai tanggal 19 April sampai tanggal 23 Agustus. Bayangkan ketika kalian bangun pagi ternyata langit masih gelap

Kebalikan dari fenomena ini disebut polar night, terjadi saat musim dingin ketika matahari tetap berada di bawah horizon (ufuk) sepanjang hari. Bahkan ekstrimnya di beberapa daerah di kutub, matahari akan terus nampak selama 6 bulan
Durasi midnight sun akan meningkat dari hari ke hari selama titik balik matahari pada musim panas di lingkaran kutub kemudian akan mencapai 6 bulan pada kutub.

Di daerah kutub itu sendiri, matahari hanya terbit dan terbenam sekali dalam setahun. Selama 6 bulan ketika matahari berada di atas ufuk, matahari akan terus bergerak di sekitar ufuk, dan mencapai ketinggian tertinggi saat titik balik matahari pada saat musim panas.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Deni: Prinsipnya tetap saja bahwa patokan salat itu adalah semburat cahaya awal di ufuk Timur untuk Fajar, pertengahan siang untuk Wusta, dan terbenam matahari untuk Isya'.

Jika waktu-waktu itu didapati singkat, maka sesingkat itulah waktu salat bagi kita. Jika waktu-waktu itu didapati panjang, maka sepanjang itulah waktu salat bagi kita. Jika kita sampai tidak mendapati waktu-waktu itu, maka tentu tiada salat bagi kita.

Deni mengatakan...

Terima kasih atas infonya.

Sy msh mau tanya lagi.
Jam tdk bisa jd patokan sholat, krn matahari selalu berubah setiap harinya, jd bagaimana kita bisa terus mengetahui update waktu shalatnya ? Apa setiap hari harus melihat matahari ?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Deni: Pergerakan matahari kan sudah bisa dipetakan dalam hitungan jam. Bahwa di Jakarta pada tanggal sekian matahari terbit jam sekian, mencapai puncak jam sekian, terbenam jam sekian. Di New York pada tanggal sekian matahari terbit jam sekian, mencapai puncak jam sekian, terbenam jam sekian.

Jadi patokan waktu salat tentu dapat menggunakan jam. Yang penting sesuaikan dengan tanggal dan area kita berada.

Deni mengatakan...

Dimana sy bisa dpt info waktu tersebut ?
Kalau utk waktu bulan puasa sy bisa lihat di http://www.solunarforecast.com/worldcalendar.aspx
Thx.

Deni mengatakan...

Untuk Wudhu, jika setelah mandi apa harus wudhu juga ?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Deni: Bukankah ada banyak penyedia jadwal salat online? Salah satunya http://www.islamicfinder.org/. Penyedia seperti itu biasanya mendasarkan program mereka pada perhitungan yang dilakukan lembaga astronomi. Untuk islamicfinder, mereka memakai program dari KACST (http://www.kacst.edu.sa).

Kita bisa "numpang" pada perhitungan mereka dengan membuat penyesuaian untuk waktu salat Fajar. Mereka memakai acuan 18-18,5 derajat matahari di bawah horizon untuk Fajar, sedangkan dari pengamatan saya Fajar baru muncul 40-45 menit kemudian, yang kalau dikonversi berarti pada sudut sekitar 7-8 derajat matahari di bawah horizon. Berarti untuk salat Fajar = Waktu di jadwal + 45 menit. Untuk salat Wusta bisa ikut jadwal "Zuhur", dan untuk Isya' bisa ikut jadwal "Maghrib".

Berbasuh (wudhu) dilakukan setiap akan salat. Terlepas dari telah mandi atau belum.

Raga mengatakan...

Salam, Saya mau tanya :

1. Jika Alquran tidak menjelaskan najis seperti yg umumnya sekarang diketahui, lalu bagaimana hukumnya jika darah, nanah, air seni, dll jika terkena pakaian untuk shalat ?

2. Air yg bagaimana saja yg bisa digunakan untuk berwudhu ? Bagaimana jika :
- Air kolam (tidak mengalir) ada ikannya ?
- Air sungai yg mengalir tapi banyak org yg buang kotoran ?
- Air Kelapa ?

3. Apa bedanya zakat, sedekah sama nafkah ?

(9:60) "Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat-zakat) itu hanyalah untuk orang¬orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang di bujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak. Orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

(2:215) Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan."

Jika saya sudah memberi sebagian harta sy kepada orang tua / saudara sy yg kurang mampu. Bagaimana hukumnya ? Apa sudah dianggap berzakat/sedekah ?


Saya memposting pertanyaan ini disini krn sy tdk menemukan judul artikel yg berkaitan dgn pertanyaan sy.

Thx atas penjelasannya.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Raga: Salam.
1. Pakaian untuk salat haruslah yang baik (layak) di antara yang kita miliki. Pakaian bersimbah darah tentu tidak layak, sedangkan pakaian yang terkena setitik darah bekas gigitan nyamuk tentu tidak masalah. Gunakan saja akal untuk menimbang.

2. Pikirkan kembali jawaban saya di poin nomor 1, lalu gunakan itu untuk menjawab pertanyaan anda di poin nomor 2.

3. "Memberikan harta", "sedekah", dan "nafkah" adalah istilah-istilah yang digunakan ketika mengacu pada zakat. Ada sedikit perbedaan peruntukan di antara istilah-istilah tersebut, tapi pada intinya itu semua adalah bentuk dari "zakat".

Ya, dengan memberikan sebagian harta anda kepada orang tua atau kerabat yang kurang mampu berarti anda telah berzakat.

Deni mengatakan...

Salam,

Saya mau tanya :

1. Jika kita selesai mandi apa bisa langsung mengambil wudhu ? Krn akan diselingi dengan memakai baju terlebih dahulu, baru shalat.

2. Boleh sy tau apa yg anda baca/ucapkan ketika berlutut dalam shalat ?

3. Bagaimana anda membagi porsi bacaan/ucapan/doa ketika berdiri, berlutut & sujud ?

4. Jika shalat berjamaah, maka imam akan membaca doa permohonan utk kepentingan bersama, benarkan ? Krn tdk mungkin imam memohon doa utk kepentingannya pribadi.

5. Makmum hanya diam dan mendengarkan imam saja sampai selesai sujud/shalat ?

sakti alexander sihite mengatakan...

@Deni: Salam.
1. Bisa. Tapi lebih baik berpakaian dulu sebelum wudhu untuk lebih meminimalkan aktivitas pasca wudhu.

2. Permohonan tertentu dan ucapan syukur kepada Tuhan.

3. Pada awal akan menerapkan salat dengan cara sesuai Quran ini saya menginventaris dulu apa saja permohonan dan ucapan yang ingin saya sampaikan di dalam salat. Saya buat catatan untuk memastikan tidak ada yang terlewat, sekaligus untuk bahan hafalan.

Selanjutnya bacaan2 tersebut saya bagi-bagi mana yg akan saya baca ketika berdiri, mana yg akan saya baca ketika berlutut, dan mana yg akan saya baca ketika sujud. Dalam masing2 posisi tersebut saya mengucapkan doa/bacaan yg berbeda2. Saya biasanya salat dua siklus. Bacaan saya di siklus pertama dan ke dua pun berbeda. Jadi total bacaan saya terbagi enam.

Tapi itu hanya contoh, tidak wajib ditiru. Silakan ikuti seperti apa yg anda mau. Mau mengucapkan bacaan yg sama antar siklus (kalau salatnya lebih dari 1 siklus) boleh. Mau menggunakan doa yg sama untuk berdiri, berlutut, dan sujud pun boleh2 saja.

4. Benar. Cara sederhananya dengan mengganti kata "saya/aku" menjadi "kami" di dalam doa yang dipanjatkan.

5. Makmum bisa diam saja, bisa juga memanjatkan bacaannya sendiri, yg penting dia ikut berlutut ketika imam berlutut, dan ikut sujud ketika imam sujud. Tentang "mendengarkan imam", karena bacaan salat dibaca dengan suara pelan/lirih, sebenarnya makmum belum tentu juga bisa mendengar suara imam.

Deni mengatakan...

Terima kasih atas penjelasannya. Masih ada yg mau sy tanya :

1. Bagaimana jika shalat berjamaah ribuan orang seperti di masjidil haram, ketika berlutut dan bersujud tidak ada ucapan tertentu/aba-aba, seperti shalat pada umumnya yg dilakukan org, pasti makmum tidak akan bisa serentak berlutut dan bersujudnya ?

2. Di Quran, dijelaskan kita shalat menghadap Masjidil Haram, bukan ka'bah, benar begitu kan ?
Lalu jika posisi kita shalatnya di dalam masjidil haram kita menghadap kemana ?

3. Selesai shalat kita berdzikir. Jika kita dzikirnya dgn bhs Indonesia juga berarti "Ya Kabir" kita ucapkan "Yang Besar" ? "Ya Rahman" diucapkan "Yang Pengasih"? dan pengucapan Asma Allah lainnya.

sakti alexander sihite mengatakan...

@Deni:
1. Makmum baris terdepan melihat gerakan imam, makmum baris belakang melihat gerakan makmum baris depannya. Jadi gerakan makmum tidak akan persis serempak, tapi akan bergelombang baris demi baris. Tidak masalah.

2. Menghadap ke arah pusat/tengah Masjidil Haram tersebut, yaitu ka'bah.

3. Sebenarnya tidak ada ketentuan tentang berzikir setelah salat. Nama Tuhan dapat kita gunakan ketika memanggil-Nya, seperti dalam salat maupun dalam doa secara umum. "Yaa" = "wahai", "yaa kabiir" = "wahai yang besar", "yaa rahmaan" = "wahai yang pengasih".

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih