16.5.10

Pakaian Perempuan Beriman

Lelaki dan perempuan sama-sama dilekati Tuhan dengan berbagai ketentuan dalam beragama. Banyak dari ketentuan tersebut yang berlaku sama antara lelaki dan perempuan, namun tidak sedikit pula yang berbeda.

Salah satu yang berbeda adalah mengenai aturan kesopanan dalam berpakaian. Terkait dengan karakter fisik yang dimiliki oleh perempuan, terdapat beberapa norma berpakaian yang harus diindahkan.

Norma berpakaian yang pertama adalah tidak menampakkan kecantikan selain bagian-bagian yang memang lumrah terlihat. Norma yang pertama ini merupakan jiwa bagi norma-norma yang lainnya.

“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang percaya (agar) menundukkan pandangan-pandangan mereka, dan menjaga kemaluan-kemaluan mereka, dan tidak menampakkan kecantikan mereka kecuali apa-apa yang telah tampak darinya ...” (Quran 24:31)

Bagian-bagian yang memang lumrah terlihat, atau yang pada ayat di atas diistilahkan sebagai “kecantikan yang telah tampak”, adalah bagian-bagian tubuh yang wajar terlihat oleh umum tanpa ada tendensi mengumbar kecantikan atau melanggar kesopanan.

Quran tidak menyebutkan mana saja bagian tubuh perempuan yang masuk dalam kategori “lumrah terlihat” tersebut. Dalam batas tertentu, manusia dengan kesadaran yang dimilikinya dianggap bisa menilai sendiri seperti apa penampilan yang dianggap “lumrah/sopan”.

Namun bukan berarti kesopanan itu bisa ditafsirkan dengan sebebas-bebasnya. Masih ada dua lagi norma berpakaian yang tak terpisahkan dari norma pertama ini.

Norma berpakaian yang ke dua adalah menutupi bagian dada.

“… Dan hendaklah mereka merapatkan kerudung-kerudung mereka pada belahan baju mereka …” (Quran 24:31)

Kalimat “kerudung-kerudung mereka” pada ayat di atas menunjukkan bahwa kerudung (khimar) itu adalah sesuatu yang memang telah dipakai oleh para perempuan pada masa itu. Jadi ayat tersebut sama sekali tidak mengandung perintah memakai kerudung, melainkan perintah untuk menutupi bagian dada.

Jika baju yang digunakan telah sempurna menutupi bagian dada, maka itu sudah memadai. Namun umumnya pakaian perempuan belum memenuhi syarat ini. Adakalanya baju yang dipakai sudah tertutup, namun potongannya agak ketat sehingga bentuk dada masih terlihat. Ada pula baju yang potongannya sudah cukup longgar, tapi ada belahan/celah yang menampakkan bagian dada.

Apabila baju yang dipakai masih menampakkan bentuk ataupun bagian dari dada, maka ia harus ditudungi sampai tidak terlihat lagi.

Perempuan yang berkerudung dapat langsung menggunakan kerudungnya untuk menudungi bagian dada. Perempuan-perempuan yang tidak berkerudung dapat memakai selendang, jaket, pashmina, rompi, kardigan, dan sejenisnya untuk menudungi bagian dada mereka.

Pada ayat di atas disebutkan bahwa penudung itu harus “dirapatkan” (“yadhrib” [makna dasarnya: “memukulkan”]). Maka penudung tersebut harus dipasang dengan mantap menutupi bagian dada, jangan hanya dikenakan secara asal-asalan.

Norma berpakaian yang ke tiga adalah merendahkan/memanjangkan pakaian.

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, dan anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan orang-orang yang percaya (agar) merendahkan jubah-jubah mereka pada mereka. Demikian itu lebih dekat bahwa mereka akan dikenal, lantas mereka tidak diganggu …” (Quran 33:59)

Istilah “jilbab” yang tercantum pada ayat 33:59 di atas telah diserap secara salah ke dalam bahasa Indonesia sebagai kerudung kepala. Padahal, dalam bahasa aslinya jilbab itu mengacu pada pakaian sejenis jubah.

Tidak berbeda dengan kerudung (khimar), kalimat “jubah-jubah mereka” pada ayat di atas menunjukkan bahwa jubah (jilbab) itu adalah sesuatu yang memang telah dipakai oleh para perempuan pada masa itu. Jadi ayat tersebut bukanlah perintah untuk memakai jubah, melainkan perintah untuk merendahkan/memanjangkan pakaian.

Dengan mengenakan pakaian yang cukup panjang, perempuan-perempuan yang percaya akan cenderung dikenali sebagai perempuan baik-baik, dan karenanya tidak diganggu/digoda.

Norma-norma berpakaian sebagaimana yang telah diuraikan di atas khususnya berlaku ketika perempuan beriman berada di depan umum.

Pengecualian
Sebagai pengecualian, norma-norma berpakaian tersebut boleh tidak diterapkan secara ketat ketika berada di hadapan: suami, bapak kandung, bapak mertua, anak kandung, anak tiri, abang/adik, keponakan langsung, perempuan-perempuan dalam kalangan mereka (bukan semua perempuan), orang yang berada dalam kekuasaan mereka (misal: budak), pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan seks, dan anak-anak yang belum mengerti aurat perempuan.

“… kecuali kepada suami mereka, atau bapak mereka, atau bapak suami mereka, atau anak lelaki mereka, atau anak lelaki suami mereka, atau saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan mereka, atau apa yang tangan kanan mereka miliki, atau pelayan lelaki mereka yang tidak mempunyai keinginan seks, atau anak-anak yang belum mengerti aurat perempuan...” (Quran 24:31)

Perempuan-perempuan yang sudah memasuki usia menopause dan tidak lagi ada harapan untuk kawin juga diberi kelonggaran dalam penerapan norma-norma berpakaian. Bagaimanapun, apabila mereka tetap berlaku sopan maka itulah yang lebih baik.

"Dan perempuan-perempuan menopause yang tidak ada keinginan kawin, maka tidak ada atas mereka kesalahan jika mereka menanggalkan pakaian mereka tanpa (maksud) memamerkan kecantikan, dan bahwa berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka …" (Quran 24:60)

Konteks Lokal vs Pesan Universal
Kiranya saya perlu menambahkan sedikit lagi penjelasan terkait dengan konteks “kerudung” dan “jubah” di ayat 24:31 dan 33:59 yang telah disinggung sebelumnya. Ayat tersebut terkait dengan kenyataan bahwa Nabi Muhammad (damai atasnya) hidup di tengah masyarakat Arab yang mana perempuan-perempuannya biasa mengenakan kerudung dan jubah. Maka perintah Tuhan kepada Nabi tentu berkaitan dengan apa yang mereka pakai, yaitu kerudung dan jubah, bukan pakaian lain semisal kebaya.

Artinya, “kerudung” dan “jubah” yang disebutkan pada dua ayat tersebut adalah konteks lokal yang sifatnya tidak mengikat. Yang mengikat di setiap zaman dan setiap tempat adalah pesan kesopanan yang terkandung di dalamnya.

Perhatikan bahwa Tuhan menggunakan bentuk perintah tidak langsung pada ayat tersebut, yaitu memerintahkan kepada Nabi agar memerintahkan perempuan-perempuan yang percaya. Bentuk perintah tidak langsung tersebut memungkinkan kita memilah antara konteks lokal yang berlaku pada masa itu, dan pesan universal yang berlaku umum.

Sungguh Tuhan Maha Bijaksana. Jika saja ayat tersebut berbentuk perintah langsung (“wahai perempuan-perempuan yang percaya …”), tentu akan timbul kebingungan di dalam masyarakat yang tidak mengenal budaya memakai kerudung dan jubah. Itu sama saja dengan memerintahkan perempuan Arab agar memanjangkan kimono mereka.

Dengan ini menjadi jelas pula bahwa keliru mengidentikkan “busana muslimah” dengan kerudung dan jubah. Itu tidak lebih dari pakaian gaya Arab yang statusnya tidak berbeda dengan model pakaian lain seperti pakaian gaya Melayu, gaya Barat, gaya Cina, dan lain-lain.

Pakaian model apapun sepanjang memenuhi norma-norma kesopanan sebagaimana yang telah diuraikan, adalah merupakan “busana muslimah”.

Sedikit menyimpulkan dengan lebih ringkas, norma-norma kesopanan perempuan berkaitan dengan pakaian adalah: tidak mengumbar kecantikan, menutupi bagian dada, dan cukup panjang.

Demikianlah pengaturan Tuhan berkenaan dengan kesopanan perempuan dalam berpakaian. Tidak ada yang menyusahkan atau janggal dengan perintah-perintah tersebut. Dengan mengindahkannya berarti kita memelihara kehormatan diri kita sendiri, serta turut menciptakan suasana yang kondusif untuk menjaga kebersihan hati.

Share on Facebook

Artikel Terkait:

19 comments:

Oom Donny mengatakan...

Sebelumnya saya salut pada pembahasan2 Anda baik di FB maupun di blog ini.
Tapi penafsiran Anda bahwa jilbab tidak termasuk menutup kepala membuat saya agak berpikir ulang. Sepertinya Anda (dan saya) harus lebih mendalami apa itu jilbab, Oom Sakti...
Btw thanx.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Oom: Ada yang mengganjal tentang "jilbab"? Sila sampaikan..

Saputra mengatakan...

Jadi kepikiran kalo dulu nabi turun di jawa, ntar busanamslimah tu pake blankon, batik, kebaya.

wkwkwkwk, no offense ya, emang terkesan dipaksakan sekarang ini, semacam arabisasi.

Coba nabi muncul pas jaman udah ada HP, internet, bisa2 disunahkan pake HP nokia, disunahkan mengikuti jejaring Facebook, dll.

Thx

hari mengatakan...

Saya hanya ingin bertanya bagaimana menurut anda ayat yang mengatakan bahwa akan muncul beribu'' bahkan mungkin berjuta'' orang yang akan mengaki\u bahwa dia adalah Rasul utusan Allah,dan bukankah anda adalah salah satunya,trims.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Hari: Tolong sebutkan ayat yang anda maksud.

ustadnya si hari mengatakan...

wakakaka... sampe lebaran monyet juga gak bakal ketemu tuh ayat.
Aduh hari, lu bikin malu gue ajah!

Daleev Khan mengatakan...

yang namanya rasul itu sampai kapanpun masih ada,
selama masih ada ummat manusia di muka bumi ini. karena arti rasul adalah utusan. misal; tukang pos, itu adalah rasul dari kantor pos. hanya perbedaan bahasa saja. rasul itu menggunakan bahasa arab, sedangkan utusan itu menggunakan bahasa indonesia....
trims

jefri mengatakan...

semua penjelasan anda masuk akal saya tp pengakuan anda aebagai rasul nggak masuk akal saya makasih

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Jefri: Tidak ada yang tidak masuk akal dengan pengakuan kerasulan saya. Saya sudah jelaskan dalil-dalil yang terkait dengan hal tersebut. Tapi jika anda tidak percaya, tidak masalah bagi saya. Tiada paksaan dalam agama :)

Parmin mengatakan...

Bagus banget artikelnya Mas, kebanyakan orang selalu memanusiakan Tuhan. Menggambarkan, menampilkan n menafsirkan Tuhan seperti keinginan n pendapatnya sendiri, dan diluar pemahaman mereka akan Tuhan dianggap kafir. jangan sampai kita ikut2an mereka jg, kebenaran dijadikan milik pribadi or golongan. Siapakah saya,anda dan kalian semua yg menganggap kebenaran adalh mutlak milik kita??? akal, iman, keyakinan, nalar, logika semuanya memiliki kesalahan dan kelemahan jd tolong jgn menganggap diri sendiri paling benar. terusin mas, saya tunggu artikel2 anda berikutnya

adimulya mengatakan...

saya sangat memahami dan memaklumi masalah kerasulan anda, karena AL'ULAMAA WAROSATUL ANBIYA, selagi apa yang disampaikan tidak bertentangan dengan Qur'an Hadits, baggiku malahan menegaskan menguatkan bagi saya bahwa ISLAM adalah suatu kebenaran

Raga mengatakan...

Salam, bagaimana aurat utk pria ? Bisa tolong dijelaskan batasan yg boleh terlihat umum ?

Lalu bagaimana pendapat anda dgn budaya cipika cipiki antar lawan jenis jika bertemu dan berpisah ? Apakah boleh ? Krn itu tdk dilarang di Al-Quran.

Thx

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Raga: Salam. Aurat adalah bagian tubuh yang aib alias memalukan untuk terlihat, dan itu umumnya mengacu pada area alat kelamin.

Aturan berpakaian sebagaimana yang saya jelaskan ini tidak berkaitan dengan aurat, melainkan dengan kesopanan. Dan untuk kaum pria tidak ada aturan khusus tentang kesopanan berpakaian.

Betul, di Quran tidak ada larangan cium pipi antar lawan jenis. Namun saya yakin orang yang berkomitmen untuk menjaga kehormatan akan menghindarinya. Mengapa? Karena dia ingat bahwa Tuhan telah memerintahkan orang beriman agar menundukkan pandangan (Q 24:30-31). Nah, ketika pandangannya saja pun telah dibatasi terhadap lawan jenis, tidak mungkin dia berani melakukan yang lebih dari itu (mis. cium pipi).

Deni mengatakan...

Salam, bisa dijelaskan maksud dari ayat 24:31 "pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan seks" Maksudnya apa banci/waria ? Tapi banci/waria tetap ada keinginan seks ?

sakti alexander sihite mengatakan...

@Deni: Salam. Bisa siapa saja, yang penting dia diketahui tidak berkeinginan kepada perempuan. Meskipun dia banci atau sudah dikebiri tapi kalau masih berkeinginan kepada perempuan maka dia tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Deni mengatakan...

Kalau begitu banci diakui dalam Quran ?
Krn mereka berkeinginannya kepada lelaki ?

sakti alexander sihite mengatakan...

@Deni: Quran 24:31 mengakui adanya lelaki yg tidak berkeinginan kepada perempuan. Tidak berkeinginan kepada perempuan tidak harus berarti berkeinginan kepada lelaki.

Mengenai jenis kelamin, hanya ada dua yaitu lelaki dan perempuan. Kalau ada yg berperilaku menyimpang, itu perkara lain lagi.

DENI mengatakan...

Salam,

Yg sy pahami selama ini, perempuan muda memakai jilbab maka saat tua dia boleh melepas jilbabnya.

Dari tulisan anda, jika saat muda tdk memakai jilbab, terus saat sdh tua apa lagi yg bisa dia buka ? Apa saat muda harus menutup dada dan setelah tua boleh kelihatan dada ?

sakti alexander sihite mengatakan...

@Deni: Salam. Yang dilepas adalah pakaian tambahan yang dimaksudkan untuk menyempurnakan kesopanan, dan itu tergantung pada gaya berpakaian masing2 wanita. Kalau sebelumnya dia berkerudung/ber-syal/bermantel, maka setelah tua dia boleh melepas kerudung/syal/mantelnya tanpa tendensi mengumbar tubuh. Kalau gaya berpakaiannya sopan tanpa pakaian ekstra, tentu tidak ada yang dia lepas lagi.

Posting Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih