18.4.07

Dan Nama Allah Pun Dipelesetkan

Seruan yang lazim digunakan oleh umat Islam di dalam salat adalah “Allahu akbar”. Seruan tersebut juga biasa digunakan ketika mengumandangkan panggilan salat, sebagai teriakan penyemangat pada forum keislaman, bahkan juga menjadi bagian syair lagu rohani.

Kata “akbar” terlanjur dimaknai sebagai “maha besar” (sangat besar). Padahal secara tatabahasa Arab, “akbar” itu berarti “lebih besar” atau “paling besar”. Ia adalah bentuk komparatif dan superlatif dari kata “kabir” yang berarti “besar”. Mari kita simak contoh pemakaian kata “akbar” di dalam Quran melalui tiga ayat berikut ini:

“...Sungguh telah nyata kebencian dari mulut-mulut mereka, dan apa yang dada-dada mereka sembunyikan adalah lebih besar (akbar)...” (Quran 3:118)

“Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu adalah lebih besar (akbar) daripada penciptaan manusia, dan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Quran 40:57)

“Maka Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang paling besar (akbar).” (Quran 88:24)

Maka arti sebenarnya dari “Allahu akbar” adalah “Allah paling besar”. Meskipun ada banyak kata “akbar” di dalam Quran, tidak satupun di antaranya yang digunakan untuk menyebut nama Allah. Nama yang Allah gunakan untuk mewakili sifat kebesaran-Nya, di samping “al-’azhim,” adalah “al-kabir”.

“Yang Mengetahui yang gaib dan yang disaksikan, Yang Besar (kabir), Yang Tinggi.” (Quran 13:9)

“…Dan sesungguhnya Allah, Dia Yang Tinggi, Yang Besar (kabir).” (Quran 22:62)

“…Maka putusan adalah bagi Allah, Yang Tinggi, Yang Besar (kabir).” (Quran 40:12)

Kata “akbar” yang dilekatkan pada penyebutan Allah adalah pelesetan dari “kabir” yang merupakan nama Allah yang sebetulnya. Quran menyebut tindakan memelesetkan tersebut dengan istilah “lahad”.

Yang disebut dengan memelesetkan sebuah nama adalah mengadakan nama yang lain tetapi masih berkaitan dengan nama aslinya. Istilah “memelesetkan” (lahad) sangat tepat mendeskripsikan tindakan manusia yang memanggil “akbar” (paling besar) dari yang seharusnya “kabir” (besar).

Mengada-ada atas Allah sesuatu sifat yang tidak ada keterangan Dia tentang itu, bukanlah sikap yang patut dilakukan seorang hamba. Allah telah menyediakan ancaman untuk mereka yang memelesetkan nama-Nya. Maka dari itu hentikanlah penyebutan “Allahu akbar” dalam hal apapun.

“Dan kepunyaan Allah nama-nama yang paling indah, maka serulah Dia dengannya, dan tinggalkanlah orang-orang yang memelesetkan nama-nama-Nya itu. Mereka akan dibalas dengan apa-apa yang telah mereka kerjakan.” (Quran 7:180)

Tentu akan timbul pertanyaan bagaimana praktik salat kita jika tidak menggunakan “Allahu akbar”. Uraian selengkapnya tentang ketentuan salat—jika Allah menghendaki—akan dijelaskan pada pembahasan tersendiri. Apa yang harus kita lakukan sekarang adalah meninggalkan perilaku memelesetkan nama Allah itu, dan sekaligus melakukan koreksi total atas pemahaman agama kita.

Sesungguhnya ada banyak lagi bentuk penyimpangan, kesesatan, bahkan keingkaran yang mungkin tanpa sadar telah kita lakukan oleh sebab menjalani agama dengan tidak berpedoman kepada Quran.

(Terakhir diperbarui: 31 Desember 2008)

Share on Facebook

Artikel Terkait: