25.6.22

Amalan Zikir

Zikir adalah amalan mengingat-ingat maupun menyebut-nyebut Allah, Tuan seluruh alam.
 
Orang-orang beriman diperintahkan Allah untuk banyak menyebut-Nya.
 
”Wahai orang-orang yang beriman, sebutlah Allah dengan penyebutan yang banyak,” (Quran 33:41)
 
Di dalam Quran dikatakan bahwa mereka yang banyak menyebut Allah termasuk di antara orang-orang yang akan mendapatkan ampunan dan ganjaran yang besar dari-Nya.
 
“Sesungguhnya laki-laki yang berserah diri dan perempuan yang berserah diri, laki-laki yang beriman dan perempuan yang beriman, laki-laki yang tunduk patuh dan perempuan yang tunduk patuh, laki-laki yang benar dan perempuan yang benar, laki-laki yang sabar dan perempuan yang sabar, laki-laki yang tunduk dan perempuan yang tunduk, laki-laki yang bersedekah dan perempuan yang bersedekah, laki-laki yang berpuasa dan perempuan yang berpuasa, laki-laki yang menjaga kemaluan mereka dan perempuan yang menjaga (kemaluan mereka), laki-laki yang banyak menyebut  Allah dan perempuan yang (banyak) menyebut (Allah), Allah menjanjikan bagi mereka ampunan dan imbalan yang besar.” (Quran 33:35)
 
Meski penekanan makna zikir di sini lebih kepada ”menyebut,” pondasinya tetaplah perbuatan ”mengingat.”  Maka penyebutan Allah mesti lahir dari ingatan kepada-Nya.  Jangan sampai lidah kita menyebut Allah, tapi ingatan kita tidak kepada-Nya.
 
Mengingat dan menyebut itu saling berkaitan.  Apa yang kita ingat akan kita sebut; dan apa yang kita sebut akan kita ingat.  Dengan banyak menyebut Allah diharapkan ingatan kita kepada-Nya pun akan semakin kuat.
 
Kalimat Pengingat
 
Sebaiknya kita biasakan untuk menyebut Allah melalui berbagai kalimat pengingat pada momen-momen keseharian kita.
 
Ketika akan melakukan sesuatu di waktu mendatang, ucapkan ”insyaallah” (jika dikehendaki Allah); ketika melihat keagungan Allah atau mendengar sesuatu yang mengejutkan, ucapkan ”subhanallah” (agungnya/sucinya Allah); ketika ingin mensyukuri sesuatu atau dipuji orang, ucapkan ”alhamdulillah” (pujian bagi Allah); ketika melihat karunia Allah atau sesuatu yang mengherankan, ucapkan ”masyaallah” (apa yang dikehendaki Allah); ketika diancam atau ditolak, ucapkan ”hasbiyallah ’alaihi tawakkaltu” (cukup Allah bagiku, kepada-Nya aku serahkan urusan); ketika menghadapi suatu tantangan, ucapkan ”laa quwwata illa billah” (tidak ada daya kecuali dengan pertolongan Allah); ketika merasakan atau mengkhawatirkan gangguan setan, ucapkan ”a’udzu billahi minasy syaithaanir rajiim” (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk); ketika melakukan kesalahan, ucapkan ”astaghfirullah” (aku mohon ampunan Allah).
 
Haji
 
Waktu lain untuk menyebut-nyebut Allah adalah ketika haji.  Perintah ini Allah kaitkan dengan tabiat manusia yang suka menyebut-nyebut leluhur mereka.
 
“Kemudian apabila kalian telah menyelesaikan ibadah-ibadah kalian, maka sebutlah Allah sebagaimana kalian menyebut-nyebut bapak-bapak kalian, atau sebutlah lebih dari itu ...” (Quran 2:200)
 
Berhadapan dengan Musuh
 
Kita juga diperintahkan Allah untuk banyak menyebut-Nya ketika berhadapan dengan musuh di medan perang.
 
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian bertemu satu pasukan (musuh), maka berteguhhatilah dan sebutlah Allah banyak-banyak agar kalian beruntung.” (Quran 8:45)
 
Zikir
 
Di samping menyebut-nyebut Allah dengan cara yang relatif bebas pada momen-momen tersebut di atas, terdapat pula ritual zikir yang Allah atur tatacara dan waktunya secara lebih khusus. 
 
Jika laku khusus dalam mengingat Allah adalah shalat, maka laku khusus dalam menyebut Allah adalah zikir.
 
Zikir kita lakukan dengan menyebut Allah berulang-ulang (Allah, Allah, Allah, dst) tanpa mengeraskan suara (cukup terdengar oleh diri sendiri), dengan merendahkan diri dan rasa takut kepada-Nya.
 
Allah tidak menyebutkan dalam posisi bagaimana zikir harus dilakukan.  Saya sendiri biasa melakukannya sambil duduk bersimpuh dan menundukkan kepala.
 
Zikir ini kita lakukan setiap pagi dan petang. 
 
”Dan sebutlah Tuanmu di dalam jiwamu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan ucapan, pada waktu pagi dan petang.  Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Quran 7:205)
 
Selain pagi dan petang, Allah di dalam surah 73:8 memerintahkan Nabi untuk berzikir pada waktu lewat tengah malam.  Kita boleh ikut mengamalkannya kalau mau, namun hukumnya tidak wajib.
 

Artikel Terkait: