Depan        Daftar isi blog        Hubungi

9.4.11

Ketentuan Perkawinan dalam Islam

Perkawinan adalah ikatan yang lahir dari sebuah perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk menjadi suami-istri.

“... Dan janganlah kalian mentekadkan ikatan perkawinan sehingga sampai ketentuan batas waktunya...” (Quran 2:235)

“... dan mereka telah mengambil dari kalian perjanjian yang kukuh.” (Quran 4:21)

Definisi ringkas di atas sudah cukup menjelaskan “benda apa” sesungguhnya perkawinan tersebut. Kejelasan definisi itu nantinya akan membantu kita dalam memahami persoalan-persoalan lain di seputar perkawinan.

Perintah Tuhan
Perkawinan merupakan perintah Tuhan. Mereka yang masih sendiri dan telah memiliki kemampuan untuk kawin harus diupayakan dan berupaya melaksanakannya. Kemampuan untuk kawin di sini bukan berarti harus menunggu sampai kaya. Sebatas sudah sanggup membayar mahar dan memberi nafkah secara sederhana pun memadai. Tuhan menjanjikan bahwa Dia yang nanti akan mencukupkan kita dengan karunia-Nya.

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang baik dari budak-budak lelaki kalian, dan budak-budak perempuan kalian. Jika mereka berkekurangan, Tuhan akan mencukupi mereka dari karunia-Nya. Dan Tuhan Luas, Mengetahui.” (Quran 24:32)

Jika memang kita belum mampu untuk melaksanakan perkawinan, maka Tuhan menyuruh kita agar menahan diri sampai Dia memampukan kita dengan karunia-Nya.

“Dan hendaklah orang-orang yang tidak dapat kawin menahan diri sehingga Tuhan mencukupi mereka dari karunia-Nya...” (Quran 24:33)

Suka Sama Suka
Perkawinan dilandasi oleh adanya rasa saling suka di antara lelaki calon suami dan perempuan calon istri. Tuhan di dalam Quran (30:21) menyebut aspek ketenteraman, cinta, dan kasih sayang dalam kaitannya dengan berpasangan antara lelaki dan perempuan.

Oleh karena itu pihak-pihak yang terlibat dalam proses perkawinan mesti menimbang kecenderungan perasaan calon suami dan calon istri sehingga tidak ada unsur keterpaksaan dalam ikatan perkawinan tersebut.

“…maka janganlah kalian menghalangi mereka mengawini pasangan-pasangan mereka apabila mereka saling senang di antara mereka dengan (cara) pantas...” (Quran 2:232)

Terlarang Dikawini
Sebelum melangkah lebih jauh ke komitmen perkawinan, kita perlu mengetahui adanya orang-orang yang terlarang untuk dikawini, yaitu:

1. Perempuan yang pernah dikawini oleh bapak kita. “Dan janganlah kalian kawini perempuan-perempuan yang telah dikawini (oleh) bapak-bapak kalian…” (Quran 4:22)

2. Ibu kita, anak perempuan kita, saudara perempuan kita, saudara perempuan kandung bapak kita (bibi), saudara perempuan kandung ibu kita (bibi), dan anak perempuan saudara kandung kita (keponakan).

“Telah diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian, dan anak-anak perempuan kalian, dan saudara-saudara perempuan kalian, dan bibi-bibi kalian (dari bapak), dan bibi-bibi kalian (dari ibu), dan anak-anak perempuan saudara laki-laki (kalian), dan anak-anak perempuan saudara perempuan (kalian)…” (Quran 4:23)

3. Perempuan yang menyusukan kita, dan perempuan yang sepersusuan dengan kita. “…dan ibu-ibu yang telah menyusukan kalian, dan saudara-saudara perempuan kalian dari (hubungan) sepersusuan itu…” (Quran 4:23)

4. Ibu dari perempuan yang pernah kita kawini (mertua), dan anak tiri kita yang ibunya sudah kita setubuhi. “…dan ibu-ibu (dari) istri-istri kalian, dan anak-anak tiri kalian yang dalam asuhan kalian dari istri-istri kalian yang telah kalian masuki…” (Quran 4:23)

5. Perempuan yang pernah dikawini oleh anak kandung kita (menantu). “…dan istri-istri anak-anak lelaki kandung kalian…” (Quran 4:23)

6. Perempuan yang saudara kandungnya masih menjadi istri kita (ipar), sehingga berakibat terhimpunnya dua kakak beradik. Lain halnya jika kita telah bercerai dari istri, atau istri kita telah meninggal, maka boleh kita mengawini saudaranya.

“…dan bahwa kalian menghimpun antara dua saudara perempuan…” (Quran 4:23)

7. Perempuan yang bersuami. Kecuali jika perempuan tersebut berstatus sebagai “orang yang dimiliki” (budak/tawanan) milik kita.

Sudah lumrah bahwa “orang yang dimiliki”, seperti budak dan tawanan, tidak punya hak atas diri mereka sendiri. Konsekuensinya, ikatan perkawinan yang mereka buat sebelumnya dianggap batal, dan ikatan perkawinan mereka selama berstatus sebagai “orang yang dimiliki” dapat dibatalkan oleh pemilik mereka.

Bersandar pada asas monoandri yang dianut Quran, seorang perempuan hanya boleh bersuamikan satu orang pada saat yang sama. Apabila seorang perempuan yang berstatus “orang yang dimiliki” (budak/tawanan) dikawini oleh tuannya, maka ikatan perkawinan perempuan tersebut dengan suaminya otomatis gugur karena yang dilakukan tuannya itu sama dengan tindakan pembatalan.

“Dan perempuan-perempuan yang bersuami, kecuali apa-apa yang tangan kanan kalian telah miliki…” (Quran 4:24)

8. Pezina bagi yang bukan pezina. “Laki-laki yang berzina tidak mengawini kecuali perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak mengawininya kecuali laki-laki yang berzina, atau laki-laki yang musyrik. Dan yang demikian itu telah diharamkan atas orang-orang yang percaya.” (Quran 24:3)

9. Perempuan yang sudah dua kali kita ceraikan, sampai perempuan tersebut kawin dulu dengan orang lain. “Kemudian jika dia telah menceraikannya (untuk kali kedua), maka dia (istri) tidak halal baginya sesudah itu sehingga dia (istri) kawin dengan pasangan selain dia (suami)…” (Quran 2:230)

10. Orang yang musyrik (menyekutukan Tuhan dengan sesuatu). Termasuk dalam kategori “musyrik” adalah mereka yang beragama dengan syariat yang diada-adakan oleh manusia (pemuka, rabi, resi, pendeta, ulama, imam, dll), dan mereka yang menganggap bahwa Tuhan mempunyai anak.

“Dan janganlah kalian mengawini perempuan-perempuan musyrik sehingga mereka percaya. Dan sungguh budak perempuan yang percaya lebih baik daripada perempuan yang musyrik walaupun mengagumkan kalian. Dan janganlah mengawinkan laki-laki yang musyrik (dengan perempuan yang percaya) sebelum mereka percaya. Dan sungguh budak yang percaya lebih baik daripada lelaki yang musyrik walaupun mengagumkan kalian.” (Quran 2:221)

11. Orang yang ingkar (kafir) kepada Tuhan dan utusan-Nya. Apabila dia yang telah menjadi istri atau suami kita mengambil jalan keingkaran, maka kita harus memutuskan ikatan perkawinan dengannya.

“…Tidaklah mereka (perempuan yang percaya) halal bagi mereka (orang-orang yang ingkar), dan tidaklah mereka (orang-orang yang ingkar) halal bagi mereka (perempuan yang percaya)… Dan janganlah kalian berpegang pada ikatan (perkawinan) dengan perempuan-perempuan yang ingkar itu...” (Quran 60:10)

12. Perempuan yang pernah dikawini oleh rasulullah. “...Dan tiadalah bagi kalian untuk menyakiti utusan Tuhan, dan tiada (juga) mengawini istri-istrinya sesudah dia selama-lamanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah besar pada sisi Tuhan.” (Quran 33:53)

Boleh Dikawini
Perempuan-perempuan selain dari yang masuk ke dalam kategori “terlarang” di atas boleh dikawini. Ada pula orang-orang yang secara khusus disebutkan Tuhan boleh dikawini. Penyebutan khusus ini menepis keraguan yang mungkin muncul pada orang-orang beriman tentang boleh atau tidaknya mengawini mereka. Berikut adalah orang-orang yang juga boleh (halal) dikawini:

1. Orang kitab (Yahudi, Nasrani). “…dan perempuan-perempuan yang terpelihara dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian…” (Quran 5:5)

Terkait dengan larangan untuk mengawini orang ingkar dan orang musyrik, orang kitab yang boleh dikawini hanyalah orang kitab yang bertauhid. Di kalangan Nasrani, mereka adalah orang-orang yang tidak mempertuhankan Isa dan tidak menganggap beliau sebagai anak Tuhan. Di kalangan Yahudi, mereka adalah orang-orang yang memegang teguh ajaran Tuhan (Taurat) tanpa menodai ketauhidannya dengan ajaran buatan manusia (Talmud). Orang kitab yang bertauhid seperti demikian itu ada, meski sangat sedikit.

Catatan: Keputusan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor: 4/Munas VII/MUI/8/2005 Tentang Perkawinan Beda Agama telah mengharamkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan orang kitab. Fatwa MUI tersebut jelas menyesatkan dan menyimpang dari ajaran Islam.

2. Perempuan beriman yang statusnya adalah “orang yang dimiliki” (budak/tawanan). “…pemudi yang percaya dari apa-apa yang tangan kanan kalian miliki…” (Quran 4:25)

Namun demikian, kawin dengan perempuan yang berstatus sebagai “orang yang dimiliki” (budak/tawanan) adalah pilihan terakhir. Jika kita belum mampu untuk mengawini perempuan beriman yang merdeka, dianjurkan untuk bersabar sampai Tuhan memberi kemampuan. Tapi kalau memang khawatir tidak akan sanggup bersabar, maka bisa mengawini perempuan beriman yang berstatus sebagai “orang yang dimiliki” (budak/tawanan) daripada terjerumus pada zina.

3. Anak tiri yang ibunya belum kita setubuhi. “...dan (diharamkan juga) anak-anak tiri kalian yang dalam asuhan kalian dari istri-istri kalian yang telah kalian masuki, maka jika kalian belum pernah memasuki mereka (istri-istri itu), maka tiadalah bersalah atas kalian…” (Quran 4:23)

4. Perempuan yang pernah dikawini oleh anak angkat kita. Ketetapan ini menegaskan bahwa status seorang anak angkat tidaklah sama dengan anak kandung.

“…supaya tiada keberatan atas orang-orang yang percaya dalam (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka apabila mereka (anak-anak angkat itu) telah menyelesaikan hubungan mereka…” (Quran 33:37)

5. Perempuan beriman yang lari dari suami yang ingkar. Dalam hal ini Tuhan menetapkan bahwa ikatan antara perempuan tersebut dengan suaminya diputuskan, dan kaum beriman wajib “menebus” perempuan itu dengan mengembalikan apa yang telah dinafkahkan suaminya untuk perempuan tersebut.

“…Tidaklah mereka (perempuan yang percaya) halal bagi mereka (orang-orang yang ingkar), dan tidaklah mereka (orang-orang yang ingkar) halal bagi mereka (perempuan yang percaya). Dan berilah mereka (orang-orang yang ingkar) apa-apa yang telah mereka nafkahkan. Dan tiada kesalahan atas kalian untuk mengawini mereka (yang lari dari suami yang ingkar), apabila kalian telah memberi mahar-mahar mereka…” (Quran 60:10)

Setelah jelas bahwa calon istri atau calon suami kita tidak termasuk golongan orang-orang yang terlarang untuk dikawini, selanjutnya kita melangkah ke tahap mengikat janji.

Dengan Atau Tanpa Wali
Yang menjadi pihak dalam perjanjian perkawinan adalah laki-laki calon suami dan perempuan calon istri. Dalam hal perempuan (atau laki-laki) yang akan menikah masih belum dewasa, maka walinya lah yang bertindak sebagai pihak yang mengikat perjanjian.

Di dalam Quran kita dapat menemukan ayat-ayat yang menunjukkan seorang perempuan bertindak langsung (tanpa wali) sebagai pihak dalam ikatan perkawinan mereka. Contohnya pada ayat berikut:

“... dan mereka (istri-istri itu) telah mengambil dari kalian perjanjian yang kukuh.” (Quran 4:21)

“Dan apabila kalian telah menceraikan perempuan-perempuan, lalu mereka telah sampai (pada) batas waktu mereka, maka janganlah kalian menghalangi mereka mengawini pasangan-pasangan mereka...” (Quran 2:232)

Di sisi lain, kita juga mendapati adanya ayat-ayat yang mengisyaratkan seorang perempuan dikawinkan oleh walinya seperti pada ayat berikut:

“Berkata, ‘Sesungguhnya aku ingin mengawinkan engkau (dengan) seorang (dari) dua anak perempuanku ini...’” (Quran 28:27)

Untuk menggenapi penjelasan tentang pihak dalam ikatan perkawinan ini, mari kita cermati ayat berikut:

“Dan jika kalian telah menceraikan mereka sebelum kalian menjamah mereka, padahal kalian benar-benar telah menentukan bagi mereka sesuatu ketentuan (mahar), maka setengah dari apa yang telah kalian tetapkan, kecuali jika mereka memaafkan, atau dia (wali) yang di tangannya ikatan perkawinan memaafkan...” (Quran 2:237)

Konteks ayat di atas adalah pemaafan atas mahar yang telah dijanjikan ketika terjadi perceraian yang mana si suami belum sampai menjamah istrinya. Disebutkan bahwa dalam kasus semacam itu mahar harus dibayarkan setengahnya, kecuali jika si istri atau walinya membebaskan. Dari ayat tersebut tampak jelas bahwa ada dua kemungkinan pemegang ikatan perkawinan di pihak perempuan, yaitu si perempuan (istri) itu sendiri, atau walinya.

Persoalan wali ini akan terlihat gamblang jika kita mengembalikan esensi perkawinan sebagai ikatan yang lahir dari sebuah “perjanjian”. Dalam konteks sebuah perjanjian, wali hanya dibutuhkan apabila seseorang tidak punya kapasitas untuk mengikat perjanjian, misalnya karena seseorang itu belum dewasa.

Saksi
Perkara lain yang sering ditanyakan terkait dengan perkawinan adalah keberadaan saksi-saksi. Tuhan tidak mensyaratkan adanya saksi dalam perkawinan. Hal ini kita kembalikan lagi ke status perkawinan sebagai sebuah ikatan yang lahir dari “perjanjian”. Dan untuk sahnya sebuah perjanjian, tidak disyaratkan adanya saksi.

Meskipun demikian, kita tetap perlu menyadari bahwa ikatan perkawinan membawa konsekuensi yang luas antara suami dan istri. Perkawinan bukanlah soal keabsahan hubungan seksual semata, tetapi juga mencakup perkara penarikan garis keturunan serta hubungan waris-mewarisi. Oleh karena itu sangat penting untuk menyertakan saksi-saksi dalam perkawinan agar jika suatu saat diperlukan ada bukti yang dapat diajukan.

Mahar
Dalam ikatan perkawinan, suami berkewajiban untuk membayar sejumlah mahar kepada istrinya.

“...Kemudian mereka (istri-istri) yang kalian telah bersenang-senang dengannya, maka berilah mereka mahar-mahar mereka (sebagai) suatu ketentuan; dan tidaklah bersalah atas kalian dalam apa-apa yang kalian saling rela padanya dari sesudah yang ditentukan itu. Sesungguhnya Tuhan adalah Mengetahui, Bijaksana.” (Quran 4:24)

Kewajiban membayar mahar kepada istri berlaku baik si istri itu perempuan merdeka maupun perempuan yang berstatus sebagai “orang yang dimiliki” (budak/tawanan).

Besarnya mahar adalah sesuai kesepakatan antara suami dan istri (atau walinya). Bisa juga perkawinan diikatkan tanpa ada penetapan mengenai mahar. Dalam hal ini artinya pihak perempuan menyerahkan sepenuhnya kepada calon suami apapun mahar yang nantinya akan dibayarkan.

Adanya kemungkinan bahwa suatu perkawinan diikatkan tanpa penetapan mengenai mahar dapat kita ketahui dari ayat berikut:

“Tiadalah kesalahan atas kalian jika kalian menceraikan perempuan-perempuan itu sedang kalian belum menjamah mereka, atau (belum) kalian tentukan suatu ketentuan (mahar) untuk mereka…” (Quran 2:236)

Mahar yang telah diberikan oleh suami kepada istrinya tidak boleh diambil kembali.

“…Dan tidak halal bagi kalian mengambil apapun dari yang telah kalian berikan kepada mereka (istri-istri)…” (Quran 2:229)

Namun, suami tidak dipantangkan dari mahar yang telah dia berikan. Dia tetap boleh ikut menikmati/menggunakan mahar tersebut apabila istrinya menawarkan.

“Dan berikanlah kepada perempuan-perempuan itu pemberian (mahar) mereka (sebagai) suatu kewajiban. Kemudian jika mereka berbaik hati kepada kalian tentang sesuatu (bagian), maka makanlah ia (dengan) sedap lagi senang.” (Quran 4:4)

Share on Facebook

Artikel Terkait:

9 comments:

wawan mengatakan...

pak sakti,bagaimana kalau orang tua calon istri tdk merestui hubungan kami?
apa saya harus terima dan menurutinya demi menghormati org tua meski hati ini sakit atau saya harus pantang menyerah untuk bisa mendapatkan hati org tuanya?
terima kasih

Deni mengatakan...

Salam,

Andakan sudah menikah lalu bercerai. Dengan demikian bekas istri anda tersebut tidak bisa menikah lagi krn tidak ada yg boleh menikahi bekas isteri rasul?

Sy belum menikah, apa haram jika menikahi perempuan islam yg kebanyakan sekarang sesuai paham islam para ulama?

Apa sy bisa menikahi perempuan yg msh paham islam ulama tsb, lalu setelah menikah secara perlahan sy memberitahukan dia ttg paham anda ini ?

Thx

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Wawan: Sebenarnya jika calon istri anda sudah dewasa dia dapat menentukan sendiri perkawinannya, tanpa harus ada "restu" orang tua. Tapi kalau itu dilakukan tentu konsekuensinya rumah tangga anda (pada awalnya) akan tidak mendapat dukungan keluarga istri.

Nah, sekarang tinggal anda timbang kemungkinan-kemungkinan konsekuensi dari tindakan anda, lalu buatlah keputusan.

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Deni: Salam,

Hanya orang-orang beriman yang dilarang mengawini bekas istri rasul. Bisa saja dia kawin lagi dengan orang ingkar/musyrik.

Perempuan dengan paham ulama masuk dalam kategori "musyrik", sehingga haram dikawini oleh orang mukmin sebelum perempuan itu beriman.

Kalau anda memang sudah berniat untuk kawin, silakan hubungi saya via FB untuk membahas lebih jauh kemungkinan-kemungkinan jalan yang bisa diupayakan dalam mendapatkan istri.

Deni mengatakan...

Lalu minimal usia perempuan/lelaki yg boleh menikah brp thn ? Krn jika belum dewasa akan diwakili wali, kriteria belum dewasa itu usia brp thn ?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Deni: Tidak ada ayat yang menyebut batas minimal usia untuk kawin. Untuk laki-laki idealnya tentu dia harus sudah mampu menafkahi keluarga. Namun, jika misalnya orang tua ingin mengawinkan anak mereka yang masih remaja pun (orang tua tetap menanggung hidup mereka untuk sementara) tidak ada larangannya.

Perempuan yang belum haid pun bisa saja dikawinkan, seperti yang diindikasikan oleh ayat 65:4 (idah bagi perempuan yang belum pernah haid). Namun tentu pemerintah tetap harus membatasi usia minimal layak kawin secara kemanusiaan. Jangan sampai bayi 3 tahun pun dijadikan pengantin.

Usia kedewasaan tiap orang bervariasi tergantung faktor genetik, lingkungan, dan pendidikannya. Tapi secara umum bisa ditarik angka 18 tahun sebagai batas minimal kedewasaan. Artinya, pada usia 18 setiap orang dianggap telah dewasa meski sebenarnya ada yang telah matang sebelum usia itu. Patokan 18 tahun sebagai usia kedewasaan ini sudah lazim digunakan di berbagai negara.

deni mengatakan...

Salam, Apakah manusia boleh menikah dengan bangsa jin ?

Abdul Hamid Damanik mengatakan...

Terdapat banyak kasus, misalnya laki-laki dan perempuan yang datang kepada seorang Kadhi Nikah untuk dinikahkah. Permintaan pernikahan ini tidak diketahui orang tua atau wali dari perempuan. Tetap saja sang Kadhi menikahkan mereka dengan alasan menghindarkan dari perbuatan zinah. Apakah pernikahan ini syah menurut Islam?

Sakti A. Sihite mengatakan...

@Deni: Salam. Sebagaimana terbaca di Q 30:21 dan Q 42:11, Tuhan menciptakan pasangan kita dari diri-diri kita sendiri (sesama manusia), bukan dengan makhluk yang lain semisal jin atau hewan.

@Abdul Hamid: Silakan baca uraian saya pada artikel di atas.

Poskan Komentar

Tolong jangan 'Anonymous'. Pilih 'Name/URL' lalu cantumkan nama panggilan anda untuk memudahkan sapaan. Kolom URL bisa dikosongkan saja. Terima kasih